Suasana aula pesta itu gemerlap dan penuh suara—gelas beradu, tawa yang dibuat-buat, musik lembut yang mengalun dari sudut ruangan. Sarah berdiri di dekat meja dessert, awalnya hanya ingin menenangkan diri. Perutnya kosong sejak sore, dan semua ini—lampu herkilau, orang-orang, tatapan—membuat kepalanya sedikit pening. Ia mengambil satu kue kecil, lalu satu lagi, menggigitnya pelan. Rasanya manis, menenangkan. Ia lubpa sejenak bahwa ia sedang berada di dunia yang selalu menilainya.
Itulah saat seorang wanita mendekat.
Gaunnya berkilau mewah, perhiasannya berat, senyumnya tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang lebih mirip pisau tajam yang siapa menilai. Tatapannya turun ke tangan Sarah, ke piring kecil yang kini berisi remah-remah kue.
“Menarik,” katanya, suaranya dibuat ringan tapi beracun. “Kau makan seperti belum pernah melihat makanan manis sebelumnya. Apalagi makanan mahal.”
Sarah mengangkat wajahnya. Ia berhenti mengunyah. Detik itu, ia sudah tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.
Wanita itu melanjutkan, sedikit mencondongkan tubuh, seolah ingin memastikan orang di sekeliling mereka mendengar. “Dasar kampungan. Kau tahu, di tempat seperti ini orang-orang menjaga citra. Bukan menghabiskan kue seperti itu.”
Beberapa tamu di sekitar melirik. Ada yang pura-pura tidak mendengar. Ada yang sengaja mendengar.
Sarah meletakkan piring kecilnya. Tangannya sedikit bergetar, tapi ia memaksa bahunya tetap tegak. Ia menatap wanita itu lurus-lurus, tidak menunduk kali ini.
“Kalau aku lapar, aku makan,” ucap Sarah pelan tapi tegas. “Dan aku tidak merasa perlu meminta izin untuk itu.”
Wanita itu menyipitkan mata. “Kau pikir sikap seperti itu pantas untuk istri seorang Javier Horrison?”
Nama itu keluar dari bibirnya dengan nada seolah ia punya hak lebih besar atasnya.
Sarah menarik napas dalam-dalam. “Pantas atau tidak, Javier yang memilih. Bukan kamu.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di air tenang. Beberapa kepala menoleh. Suara di sekitar mereka terasa sedikit meredup, seolah ruangan menahan napas.
Wajah wanita itu menegang. Senyumnya menghilang. “Kau berani melawan?”
“Aku hanya mengatakan kenyataan,” jawab Sarah. “Aku tidak datang ke sini untuk dinilai olehmu.”
Wanita itu melangkah satu langkah lebih dekat. “Kenyataan?” ia tertawa pendek. “Kenyataannya, kau hanya gadis yang salah tempat. Dan kau pikir satu gaun mahal bisa mengubah itu?”
Sarah tidak mundur. Dadanya naik turun. “Aku tidak perlu berubah untuk memenuhi standar mu.”
Itu cukup.
Tangan wanita itu terangkat dan—tanpa peringatan—mencengkeram rambut Sarah, menariknya kasar ke belakang. Rasa perih menjalar cepat di kulit kepala Sarah. Ia terkejut, refleksnya terlambat. Suara erangan kecil keluar dari bibirnya.
“Jangan sok berani,” desis wanita itu. “Aku akan merebut Javier darimu. Dan kau akan kembali ke tempatmu semula.”
Beberapa tamu tersentak. Ada yang menutup mulut. Ada yang mundur setapak. Tidak ada yang benar-benar bergerak cepat—kecuali satu orang.
“LEPASKAN DIA.”
Suara itu memotong udara seperti kaca pecah.
Javier.
Ia sudah melihat dari jauh. Dari sudut ruangan, tatapannya menangkap pergerakan yang tidak wajar, tubuh Sarah yang tersentak, tangan yang terangkat. Dan sekarang ia sudah berdiri tepat di belakang wanita itu, rahangnya mengeras, matanya gelap.
Wanita itu menoleh setengah, masih memegang rambut Sarah. “Javier, aku—”
“Sekarang,” ulang Javier, suaranya rendah dan berbahaya. “Lepaskan.”
Ada sesuatu di nada itu yang membuat tangan wanita itu refleks melepas. Sarah terhuyung sedikit ke depan. Javier menangkap bahunya, menariknya ke sisi tubuhnya, menempatkannya setengah langkah di belakangnya—posisi yang jelas-jelas protektif.
“Apakah kau menyentuh istriku?” tanya Javier, datar.
Wanita itu mencoba tersenyum, tapi wajahnya pucat. “Dia menghina—”
“Jawab pertanyaanku,” potong Javier.
Hening sejenak. Musik tetap berjalan, tapi di sekitar mereka, lingkar kecil terbentuk. Tatapan-tatapan tertuju pada mereka.
Wanita itu menelan ludah. “Aku… hanya bicara.”
Javier melirik rambut Sarah yang sedikit berantakan, matanya yang berkaca-kaca tapi masih menahan air mata. Lalu ia kembali menatap wanita itu.
“Keluar,” katanya singkat.
“Apa?”
“Keluar dari pesta ini,” ulang Javier. “Sekarang.”
Beberapa orang terkejut. Ada yang berbisik. Wanita itu memerah, antara marah dan malu. “Kau tidak bisa mengusirku begitu saja. Aku tamu—”
“Ini acaraku malam ini,” jawab Javier dingin. “Dan kau baru saja menyerang istriku. Pengawal.”
Dua pengawal yang berjaga tidak jauh segera mendekat. Wanita itu mencoba protes, suaranya meninggi, tapi Javier tidak menghiraukannya lagi. Pengawal mengapitnya dan mengarahkannya ke pintu keluar. Protesnya tenggelam dalam suara musik dan gumam para tamu.
Javier menoleh ke Sarah.
“Lihat aku,” katanya pelan.
Sarah mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi ia berusaha tetap tegak.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Sarah mengangguk, meski suaranya masih serak. “Aku… baik.”
Javier mengangkat tangan, merapikan sedikit rambut Sarah yang berantakan, gerakannya hati-hati, hampir ragu. “Maaf,” katanya singkat.
Sarah terkejut. “Untuk apa?”
“Aku seharusnya tidak membiarkanmu sendirian di sini,” jawab Javier. “Ini kesalahanku.”
Sarah menelan ludah. “Aku tidak mau membuat masalah.”
“Masalahnya bukan kau,” kata Javier tegas. “Masalahnya adalah orang-orang yang merasa berhak menyentuhmu.”
Ia menoleh ke sekeliling. Tatapannya menyapu para tamu yang kini pura-pura sibuk dengan minuman mereka. “Jika ada yang merasa perlu menguji batasan lagi, mereka akan keluar seperti dia.”
Tidak ada yang menjawab.
Javier kemudian menawarkan lengannya. “Kita pulang.”
“Sekarang?” tanya Sarah pelan.
“Iya.”
Sarah mengangguk. Ia meraih lengan itu. Kali ini, ia tidak ragu.
Mereka berjalan keluar aula di bawah tatapan banyak orang. Ada yang menatap kagum. Ada yang cemas. Ada yang menilai. Tapi Javier tidak peduli. Fokusnya hanya satu: memastikan Sarah aman di sisinya.
Di dalam mobil, keheningan terasa tebal. Lampu-lampu kota lewat seperti garis-garis cahaya di kaca jendela.
Javier memecahnya. “Kau tidak perlu menahan diri jika seseorang melewat batas.”
Sarah menatap ke luar jendela. “Aku tidak mau terlihat membuat masalah.”
“Masalah bukan diciptakan olehmu,” jawab Javier. “Masalah diciptakan oleh orang yang mengira mereka bisa memperlakukanmu seperti itu.”
Sarah mengangguk pelan.
Javier menambahkan, lebih pelan, “Dan mulai sekarang, siapa pun yang mencoba merebut apa yang menjadi milikku—” ia berhenti sejenak, memilih kata, “—akan berurusan denganku.”
Sarah menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Di rumah, Javier mengantar Sarah sampai ke kamar. Ia berdiri di ambang pintu, menatapnya sejenak. “Istirahat. Aku akan minta pelayan membawa teh hangat.”
Sarah mengangguk. “Terima kasih, Daddy.”
Javier mengangguk balik, lalu menutup pintu pelan.
Sarah duduk di tepi ranjang, menyentuh rambutnya sendiri yang masih terasa perih. Tapi ada sesuatu yang lain di dadanya—hangat, bercampur lega. Malam ini ia belajar satu hal: dunia bisa kejam, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak harus menghadapinya sendirian.
Dan di lorong luar, Javier berdiri beberapa detik, rahangnya mengeras.
Ia tidak lupa gumaman wanita itu.
‘Akan merebut Javier.’
Ia tidak tahu apakah ancaman itu akan datang lagi. Tapi satu hal ia tahu dengan pasti: siapa pun yang mencoba menyentuh Sarah lagi, akan menemukan batas yang tidak bisa dinegosiasikan.