Bab 16

935 Kata
Beberapa hari setelah kejadian di pesta itu, suasana di mansion kembali tenang. Terlalu tenang, bahkan. Sarah menghabiskan pagi di kamar, merapikan bunga-bunga yang mulai layu, menggantinya devngan yang baru dikirim oleh pelayan. Tangannya bergerak hati-hati, seperti biasa. Ia masih sering teringat pada tangan yang menarik rambutnya, tapi ia memilih menyimpannya jauh di dalam kepala, tidak ingin membicarakannya kecuali memang perlu. Javier pulang lebih awal hari itu. Langkah kakinya terdengar di lorong, tegas dan mantap. Sarah yang sedang duduk di sofa kecil dekat jendela menoleh. Ia berdiri refleks, kebiasaan yang belum sepenuhnya bisa ia tinggalkan. “Daddy…” panggilnya pelan. Javier mengangguk singkat, lalu tanpa banyak kata meletakkan map tipis di meja. Ia membuka map itu, menarik beberapa brosur berwarna mengilap, lalu melemparkannya ke arah Sarah. Brosur-brosur itu meluncur dan jatuh di sofa, sebagian di pangkuan Sarah. Sarah tersentak kecil, lalu memungutnya satu per satu. Sampul-sampul itu menampilkan pantai biru, pegunungan bersalju, kota-kota dengan lampu malam yang romantis. Ia menaikkan sebelah alisnya, bingung. “Apa ini, Daddy?” “Kita akan bulan madu,” jawab Javier singkat, seolah membicarakan jadwal rapat. Sarah terdiam. “…Bulan madu?” ulangnya, suaranya pelan, seolah takut salah dengar. “Iya,” jawab Javier. Ia melepas jasnya, menggantungnya di sandaran kursi. “Pilih. Negara mana yang ingin kau kunjungi.” Sarah menatap brosur-brosur itu lagi. Tangannya sedikit gemetar saat membukanya satu per satu. Ada rekomendasi Maladewa dengan vila di atas air. Ada Swiss dengan salju dan danau. Ada Jepang dengan bunga sakura. Ada Italia dengan kota-kota tua dan jalanan sempit yang tampak hangat di foto. Ini… terasa tidak nyata. “Kita… benar-benar akan pergi?” tanyanya pelan. Javier menatapnya sekilas. “Ya. Itu normal untuk pasangan yang baru menikah.” Normal. Kata itu membuat Sarah menelan ludah. Pernikahan mereka tidak pernah terasa normal sejak awal. Semuanya seperti kesepakatan, seperti rencana besar yang lebih mirip proyek daripada hubungan. Dan sekarang… bulan madu? “Aku… boleh memilih?” tanya Sarah lagi, masih ragu. “Untuk apa aku memberimu itu kalau bukan untuk dipilih?” jawab Javier datar. Sarah tersenyum kecil, kikuk. Ia menunduk lagi, membuka brosur satu per satu dengan hati-hati, seolah benda-benda itu rapuh. Matanya berhenti cukup lama di gambar pantai dengan air yang sangat biru, lalu berpindah ke gambar pegunungan yang diselimuti salju. “Ini semua… indah,” gumamnya. “Kau tidak perlu memikirkan biaya,” kata Javier, seolah membaca pikirannya. “Pilih saja.” Sarah mengangguk pelan. Ia tahu. Tapi kebiasaan hidupnya dulu selalu membuatnya memikirkan hal itu. “Aku belum pernah ke luar negeri,” katanya jujur, tanpa menatap Javier. “Jadi… aku tidak tahu harus memilih yang mana.” Javier terdiam sejenak. Ia tidak menertawakan itu. Tidak juga berkomentar sinis. Ia hanya duduk di kursi di seberang Sarah, menyandarkan punggung, menatap brosur-brosur itu dari kejauhan. “Kalau begitu, anggap ini pertama kalimu melihat dunia luar yang lebih indah,” katanya akhirnya. Kalimat itu sederhana, tapi membuat d**a Sarah terasa sedikit hangat. Ia kembali melihat brosur-brosur itu. Jarum jam berjalan pelan di dinding, mengisi keheningan yang tidak terasa canggung. Sarah membayangkan dirinya berdiri di tempat-tempat itu. Jauh dari mansion. Jauh dari tatapan orang-orang yang menilai. Jauh dari rutinitas yang menekan. “Yang ini… kelihatannya tenang,” katanya sambil menunjuk gambar vila di atas laut. “Maladewa,” jawab Javier. “Dan yang ini… dingin sekali,” Sarah menunjuk pegunungan bersalju. “Swiss.” Sarah mengangguk pelan. “Aku… tidak tahu. Mungkin… yang tenang dulu?” Javier memperhatikan wajahnya. “Kau ingin laut?” Sarah ragu sebentar, lalu mengangguk. “Sepertinya… iya.” “Baik,” kata Javier singkat. “Kita mulai dari sana. Kalau kau mau, kita bisa lanjut ke tempat lain juga.” Kita. Kata itu lagi. Sarah menatap Javier, sedikit terkejut. “Benarkah?” “Iya.” Tidak ada nada lembut. Tapi juga tidak dingin. Hanya pernyataan fakta. Sarah tersenyum kecil, lalu menunduk lagi. “Terima kasih, Daddy.” Javier mengangguk, lalu berdiri. “Siapkan dirimu. Kita berangkat minggu depan.” “Minggu depan?” ulang Sarah, kaget. “Ya.” Sarah mengangguk cepat. “Baik.” Setelah Javier pergi ke ruang kerjanya, Sarah masih duduk di sofa dengan brosur-brosur itu di pangkuannya. Ia membuka lagi halaman-halaman bergambar pantai, laut biru, kamar dengan jendela besar menghadap matahari terbenam. Ia menyentuh kertas mengilap itu dengan ujung jarinya. Bulan madu. Kata itu terasa aneh. Tapi juga… menggetarkan. Malam itu, Sarah berbaring di ranjang, menatap langit-langit, memikirkan perjalanan itu. Ia tidak tahu bagaimana nanti. Ia tidak tahu bagaimana sikap Javier saat mereka jauh dari rumah, jauh dari rutinitas, jauh dari orang-orang. Ia hanya tahu satu hal: ini akan menjadi pertama kalinya mereka benar-benar pergi berdua… tanpa dinding mansion, tanpa pengawal di setiap sudut, tanpa tatapan dunia. Di ruang kerjanya, Javier berdiri di depan jendela, memegang ponsel, mengatur jadwal dengan asistennya. Pikirannya tidak sepenuhnya pada pekerjaan. Bayangan Sarah dengan brosur-brosur di tangannya, wajahnya yang tampak ragu tapi juga sedikit berbinar, terus muncul. Ia menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa ia memutuskan ini. Mungkin karena pesta itu. Mungkin karena dunia terlalu keras pada Sarah. Mungkin karena ia sendiri mulai lelah dengan segala sesuatu yang terasa seperti transaksi. Yang ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang bulan madu di mata orang lain. Ini… mungkin tentang memberi jarak. Atau memberi ruang. Atau, tanpa ia akui, mencoba melihat Sarah di tempat yang tidak dipenuhi tekanan. Dan di kamar, Sarah memejamkan mata sambil memeluk brosur yang ia bawa dari ruang tamu, seperti anak kecil yang memeluk buku cerita sebelum tidur. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di sana. Tapi untuk pertama kalinya sejak menikah, ia menantikan hari esok dengan perasaan yang… sedikit lebih ringan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN