Sarah berdiri di ambang pintu ruang kerja Javier cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pelan. Jantungnya berdegup tidak karuan, bukan karena takut, tapi karena perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali ia harus menyampaikan keinginannya sendiri. Ia sudah memikirkan ini sejak kemarin malam, sejak brosur-brosur itu kembali ian buka di atas ranjang, sejak ia membayangkan jalan-jalan sempit berbatu, balkon dengan bunga, dan langit senja yang tampak hangat di foto-foto.
“Masuk,” suara Javier terdengar dari dalam, datar seperti biasa.
Sarah membuka pintu dan melangkah masuk. Javier berdiri di depan meja kerjanya, memeriksa sesuatu di tablet. Kemejanya rapi, lengan digulung sampai siku, rambutnya tersisir rapi. Ruangan itu berbau kopi dan kertas—bau yang selalu membuat Sarah merasa sedikit kecil, seperti tamu di dunia yanng bukan miliknya.
“Daddy…” panggilnya pelan.
Javier mengangkat kepala. “Ada apa?”
Sarah menarik napas, lalu melangkah lebih dekat. Tangannya saling menggenggam di depan perut. “Aku… sudah memikirkan tentang bulan madu.”
Javier menatapnya, menunggu.
“Aku… mau ke Italia,” ucap Sarah akhirnya, cepat, seolah takut nyalinya hilang kalau ia menunda.
Hening sejenak.
Javier menggeser tablet itu ke samping, menyandarkan pinggulnya ke meja. Tatapannya menilai, bukan menghakimi, lebih seperti menghitung sesuatu di kepalanya. “Kenapa Italia?”
Sarah mengangkat bahu sedikit. “Aku… tidak tahu. Di brosur itu, kelihatannya… hangat. Tidak terlalu ramai. Dan… cantik.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan jujur, “Aku ingin melihat kota-kota tua. Aku ingin berjalan tanpa merasa dilihat seperti di sini.”
Javier mengangguk pelan. “Baik.”
Hanya satu kata. Tidak ada perdebatan. Tidak ada penolakan.
“Tidak masalah?” tanya Sarah ragu.
“Tidak,” jawab Javier. “Aku akan membawamu ke Italia.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti ia mengucapkan hal-hal lain—tegas, singkat, seolah itu keputusan bisnis. Tapi bagi Sarah, kata-kata itu terasa seperti pintu yang terbuka.
“Oh… terima kasih,” ucapnya pelan.
Javier mengambil ponselnya, mengetik beberapa pesan singkat. “Aku akan minta tim mengatur semuanya. Roma, Florence, atau Venice?”
Sarah mengerjap. “Kita… bisa ke lebih dari satu kota?”
“Bisa,” jawab Javier. “Waktu kita cukup.”
Sarah tersenyum kecil tanpa sadar. “Kalau begitu… mungkin Roma dan Venice?”
“Baik.”
Javier kembali mengetik. “Berangkat minggu depan.”
Sarah mengangguk. “Aku akan siap-suap.”
Ia berdiri di sana beberapa detik, ragu apakah perlu mengatakan sesuatu lagi. Lalu ia mengangguk kecil dan berbalik pergi.
“Sarah.”
Ia berhenti dan menoleh.
“Kau tidak perlu ragu mengatakan apa yang kau mau,” kata Javier, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Itu sebabnya aku menyuruhmu memilih.”
Sarah terdiam, lalu mengangguk. “Iya, Daddy.”
Saat ia keluar, jantungnya terasa sedikit lebih ringan.
Hari berikutnya berjalan cepat, tapi juga terasa panjang. Pelayan mulai menyiapkan koper. Gaun-gaun dipilih. Sepatu disusun. Sarah membantu sebisanya, meski sering kali hanya berdiri dan memperhatikan. Setiap kali ia melihat koper-koper itu, perutnya bergejolak—campuran antara gugup dan penasaran.
Malam sebelum keberangkatan, ia hampir tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela, membayangkan langit di tempat yang belum pernah ia lihat. Javier masuk tanpa banyak suara, berhenti ketika melihatnya masih terjaga.
“Kau belum tidur?”
Sarah menggeleng. “Sedikit… sulit.”
Javier mengangguk, lalu duduk di sisi ranjang yang lain. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. “Besok perjalanan panjang.”
“Iya.”
Hening sejenak.
“Kalau kau lelah, katakan,” tambah Javier. “Kita tidak perlu mengikuti jadwal yang ketat.”
Sarah menoleh, sedikit terkejut. “Benarkah?”
“Iya,” jawab Javier. “Ini bukan perjalanan kerja.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Sarah tersenyum kecil.
Keesokan paginya, mereka berangkat. Bandara, lounge, pesawat—semuanya terasa seperti dunia lain bagi Sarah. Ia duduk di kursinya, menatap keluar jendela ketika pesawat mulai bergerak. Saat roda terangkat dari landasan, ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan napas tertahan.
Italia.
Perjalanan panjang berlalu dalam keheningan yang tidak canggung. Javier bekerja sebentar, lalu menutup laptopnya. Sarah membaca brosur yang sama sekali tidak ia butuhkan lagi, hanya untuk menenangkan diri.
Ketika mereka akhirnya mendarat, udara terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih ringan. Kota menyambut mereka dengan warna-warna yang tidak Sarah kenal sebelumnya—dinding-dinding tua, jalanan batu, langit yang terasa lebih dekat.
Hotel mereka berada di bangunan tua yang direnovasi. Lobi-nya beraroma kayu dan kopi. Jendela-jendela besar menghadap jalan sempit yang ramai oleh orang berjalan kaki dan sepeda.
Begitu masuk ke kamar, Sarah berdiri di dekat jendela, menatap ke luar. “Indah,” gumamnya.
Javier berdiri di belakangnya. “Kita istirahat sebentar. Nanti sore kita keluar.”
“Ke mana?”
“Jalan kaki. Lihat sekitar.”
Sarah mengangguk, antusias tapi berusaha menahannya.
Sore itu, mereka berjalan menyusuri jalanan batu yang sempit. Tidak ada pengawal yang terlalu dekat, hanya satu yang menjaga jarak. Orang-orang lalu-lalang, tertawa, berbicara dalam bahasa yang tidak Sarah mengerti. Bau roti dan kopi bercampur di udara.
Sarah berjalan sedikit di belakang Javier, lalu tanpa sadar menyamai langkahnya.
“Pegang ini,” kata Javier tiba-tiba, mengulurkan lengannya.
Sarah ragu sepersekian detik, lalu meraih lengannya. Sentuhan itu terasa… normal. Tidak dipaksakan. Tidak kaku.
Mereka berhenti di sebuah kedai kecil. Sarah memesan es krim, matanya berbinar seperti anak kecil yang melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Ia mencicipinya, lalu tersenyum lebar.
“Enak,” katanya.
Javier mengangguk. “Kau terlihat menyukainya.”
“Iya.”
Mereka duduk di bangku kecil di luar kedai. Orang-orang lewat. Musik terdengar dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, Sarah merasa tidak sedang dinilai.
Di hari-hari berikutnya, mereka mengunjungi Roma—Colosseum, jalan-jalan tua, gereja dengan langit-langit tinggi. Sarah berjalan lebih pelan, sering berhenti untuk melihat detail. Javier menyesuaikan langkahnya, tanpa mengeluh.
Di Venice, mereka naik perahu menyusuri kanal. Air memantulkan cahaya sore. Sarah duduk di samping Javier, tangannya di pangkuan, matanya menatap bangunan-bangunan tua yang seolah keluar dari buku cerita.
“Terima kasih sudah membawaku ke sini,” katanya pelan.
Javier menoleh. “Kau yang memilih.”
Sarah tersenyum. “Tapi kamu yang membuatnya jadi nyata.”
Javier tidak menjawab. Tapi tatapannya bertahan sedikit lebih lama.
Malam itu, mereka makan malam di restoran kecil dengan lilin di meja. Tidak ada musik keras. Tidak ada tatapan tajam. Hanya mereka, makanan hangat, dan suara kota yang jauh.
Sarah bercerita sedikit tentang masa kecilnya—tentang rumah kecil, tentang jalan tanah, tentang langit yang selalu ia ingat. Javier mendengarkan, lebih banyak diam daripada bicara, tapi tidak memotong.
“Aku tidak pernah membayangkan bisa ke sini,” kata Sarah jujur.
Javier mengangguk. “Sekarang kau di sini.”
Kata-kata itu sederhana, tapi penuh makna.
Di kamar hotel, Sarah berdiri di balkon kecil, menatap kanal yang berkilau oleh lampu-lampu malam. Javier berdiri tidak jauh, memeriksa pesan singkat dari kantornya, lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja.
“Besok kita ke museum,” katanya.
Sarah menoleh. “Aku mau.”
Ia tersenyum, lalu kembali menatap pemandangan. Dalam hatinya, ada perasaan yang sulit ia jelaskan—bukan euforia, bukan juga takut. Lebih seperti… tenang.
Italia bukan hanya tempat baru baginya. Ini jarak. Jarak dari mansion, dari tatapan orang-orang, dari peran yang terasa berat. Dan di jarak itu, ia mulai melihat Javier bukan hanya sebagai sosok dingin yang memberi perintah, tapi sebagai seseorang yang berjalan di sampingnya, menyesuaikan langkah, dan—meski jarang diucapkan—memberi ruang.
Javier, di sisi lain, menyadari sesuatu yang mengganggunya dengan cara yang tidak ia duga. Ia terbiasa memimpin, mengatur, menentukan. Tapi di kota-kota ini, ia mendapati dirinya menunggu Sarah selesai melihat sesuatu, memperlambat langkah, memilih kedai kecil hanya karena Sarah tertarik.
Ia tidak menamainya.
Malam-malam berlalu dengan tenang. Mereka tidak terburu-buru. Mereka berjalan, duduk, berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang rasa kopi. Tenntang bangunan tua. Tentang angin yang berbeda.
Dan tanpa mereka sadari, bulan madu yang dimulai sebagai rencana yang rapi, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih… manusia.