Cahaya sore menyusup masuk melalui celah gorden, melukis garis-garis emas di lantai kamar tidur. Javier menyandarkan bahu di kusen pintu, pandangannya terpaku pada siluet ramping yang bergerak di tengah ruangan. Sarah, istrinya, berdiri memunggungi, jarinya yang lentik bergerak lincah membuka kancing kemeja sutra yang tadi pagi dikenakannya. Kain itu meluncur perlahan, menyingkap punggung mulus yang dihiasi lekuk tulang belakang yang anggun. “Kau pulang cepat, Daddy?” Sarah berucap, suaranya bergetar lembut, tanpa menoleh, seolah merasakan kehadiran Javier tanpa perlu melihat. Kemeja itu kini tergeletak di lantai, hanya menyisakan bra renda hitam yang memeluk erat payudaranya, menonjolkan bentuknya yang membulat sempurna. “Tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” Javier menjawab, langkah ka

