Pintu apartemen itu menutup di belakang Javier dengan bunyi yang tegas. Ia tidak menoleh lagi. Langkahnya langsung turun, cepat, terukur, seolah setiap detik yang ia buang di sana sudah terlalu banyak. Wajahnya tetap datar, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari langkahnya. Ia tahu Amanda tidak akan berhenti. Tapi bahkan Javier tidak menduga— Langkah berikutnya akan secepat itu. — Beberapa jam kemudian. Mansion di Manhattan masih dalam suasana tenang. Sarah baru saja bangun, duduk di ruang tengah dengan selimut tipis menyelimuti kakinhya. Tiana duduk di sampingnya, memainkan ponsel, sementara Rose memperhatikan dari kursi seberang. Suasana terlihat normal. Sampai— Tiana berhenti. Mendadak. Jari-jarinya kaku di layar. Ekspresinya berubah. “Ini… apa?” gumamnya pelan. S

