Siang itu sempat berjalan tenang, terlalu tenang bahkan, sampai Sarah yang sejak pagi tidak ke mana-mana mulai merasa tubuhnya kembali punya energi. Ia masih duduk di ranjang, bunga di meja sampingnya, Javier di dekatnya, dan suasana yang tidak lagi menekan. Namun seperti biasanya, perubahan itu datang perlahan. Sarah mengusap perutnya pelan, bukan karena sakit, tapi seperti kebiasaan yang sekarang selalu menyertai setiap pikirannya. Javier langsung menangkap gerakan itu. Matanya turun. Refleks. “Perut?” tanyanya. Sarah menggeleng kecil. “Tidak… aku cuma kepikiran sesuatu…” Javier menatapnya. Sudah hafal. “Apa.” Sarah menarik napas kecil. Lalu— “Aku mau buat cupcake…” Hening. Javier tidak langsung menjawab. Ia menatap Sarah. Lebih lama. Membaca. “Kamu capek,” katanya. “A

