Sisa bau telur itu masih terasa samar di dapur, meskipun semua jendela sudah dibuka dan staf sudah memastikan udara kembali bersih. Sarah duduk diam di kursi tinggi, tubuhnya sedikit lemas setelah muntah, tangannya kembali berada di perutnya, seolah menenangkan dirinya sendiri. Javier berdiri tepat di depannya, tidak bergerak jauh, matanya terus mengawasi setiap perubahan kecil di wajah Sarah. “Kamu masih mual?” tanyanya pelan. Sarah menggeleng. “Sudah tidak… tapi aku tidak mau makan…” Kalimat itu langsung membuat Javier mengerutkan alis. “Tidak mau makan?” Sarah mengangguk kecil. “Aku tidak mau yang tadi… tidak mau roti… tidak mau apa-apa…” Javier menarik napas pelan. Sudah mulai terasa. “Apa yang kamu mau.” Nada suaranya masih terkendali. Tapi jelas— Ia sudah bersiap. Sarah

