Pagi itu belum benar-benar terang ketika ponsel Javier bergetar di atas meja kecil dekat tempat tidur. Getarannya singkat, lalu berhenti. Beberapa detik kemudian, kembali berdering—kali ini lebih nyaring karena notifikasi panggilan beruntun. Javier langsung membuka mata. Refleks pertamanya bukan pada layar ponsel, melainkan pada Sarah di sisinya. Gadis itu masih terlelap, wajahnya setengah tertutup rambut, nafasnya pelan dan teratur. Cahaya pagi yang tipis membuat garis wajahnya terlihat lembut. Ponsel itu kembali bergetar. Javier bangkit cepat, mengambilnya sebelum nada dering kedua terdengar penuh. Ia melangkah menjauh dari ranjang, menuju sudut kamar dekat balkon. Matanya menatap layar. Nama yang muncul membuat rahangnya mengeras. Pengawas mansion. Ia menerima panggilan itu tanpa

