Kafe kecil di sudut Manhattan itu seharusnya jadi titik tenang. Musik lembut, aroma kopi, orang-orang yang tidak saling peduli—semuanya seperti memberi ruang bagi Sarah untuk diam lebih lama dari biasanya. Dan memang… Untuk beberapa saat, Sarah benar-benar tenang. Ia duduk di depan Javier, memainkan sendoknya pelan, sesekali menyeruput minuman hang6at. Tidak ada tuntutan. Tidak ada permintaan aneh. Javier bahkan sempat berpikir— Mungkin hari ini akan berakhir normal. Sampai— Sarah mengambil ponselnya. Awalnya biasa saja. Ia membuka layar, menggulir sesuatu tanpa ekspresi. Tapi lalu— Gerakannya berhenti. Matanya membesar. Alisnya sedikit terangkat. Dan dalam hitungan detik— Javier langsung tahu. Ini dia. Ia menahan napas. Menunggu. Sarah mengangkat wajahnya perlahan. Me

