Berdiri di sebuah unit apartemen dari ketinggian yang sangat menukik membuat Ara sempat memikirkan sebuah pemikiran gila dan nekat. Mobil yang berlalu lalang di bawah sana tampak seperti jejeran semut yang sedang berlalu lalang. “Hidup macam apa yang akan aku jalani ke depannya?” tanya Ara pada dirinya sendiri. Dia sedang memikirkan masa depannya. Usianya masih sangat muda dan sudah seharusnya dia memikirkan masa tuanya karena sesungguhnya dia hanyalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara. Saat ini masih ada Indira, tapi jika perempuan paruh baya itu sudah meninggal bagaimana dengan nasibnya? Apalagi suaminya sendiri tidak pernah menginginkan dirinya untuk menjadi seorang istri, mau jadi apa dirinya nanti? Perempuan itu berdiri di dekat jendela kaca yang tampak besar hampir

