“Mas Bima, ada perlu apa ke sini?” tanya Ara dengan tenang. Perempuan itu sangat pintar dalam mengatur emosinya. Meskipun dia sangat penasaran dengan niat Bima datang ke unit apartemen yang beberapa hari ini dia tempati, tapi dia tetap bisa terlihat tenang. Bahkan, raut wajahnya juga terlihat datar tanpa ekspresi. “Apatemen ini milikku. Apa aku butuh alasan untuk datang ke sini?” balas Bima dengan angkuhnya. Bahkan, raut wajah pria itu sudah terlihat sangat dingin seakan tidak bersahabat. Lagi-lagi ucapan pria itu membuat Ara merasa terhina. “Benar. Apa pun yang aku gunakan selama ini memang miliknya, dan karena itu dia sangat membenciku. Ya … Tuhan, kenapa takdir hidupku harus menyusahkan orang lain? Kenapa kehadiranku harus menghancurkan hubungan seorang anak dengan orang tuanya?

