Waktu bergulir begitu cepat. Kini sudah genap seratus hari semenjak kepergian Dewa. Seluruh keluarga juga sudah beraktifitas seperti biasanya. Bukan karena mereka sudah tidak berduka lagi, tapi kehidupan terus berjalan. Setelah melirik jam di tangannya, Ara bergegas mematikan layar laptopnya dan kemudian keluar ruangan berjalan menuju lobi. Wanita itu ada janji temu dengan para sahabatnya. Mereka memutuskan untuk bertemu di restoran yang ada di dekat kantor karena tidak ingin Ara kerepotan. “Oh … nggak terasa sudah jam makan siang,” lirih Ara terhadap dirinya sendiri. Ara tampak antusias dan seakan melupakan semua beban yang sedang menghimpitnya. Padahal masalah pelik masih membayanginya, tapi dia tidak peduli karena ada sahabat-sahabatnya yang sangat mendukungnya. Namun, rasa antu

