BAB 84

1053 Kata

Nathan duduk di bangku kayu reyot kedai kopi itu, matanya tak pernah lepas dari pabrik kecil di seberang jalan. Kampung padat penduduk di sekitarnya terasa sesak, rumah-rumah berdiri saling menempel, seakan tak memberi ruang untuk bernapas. Bau busuk dari got yang terbuka menusuk hidung, membuat siapa pun ingin segera pergi. Namun Nathan tetap bertahan. Ada sesuatu yang harus ia lakukan, sesuatu yang menuntut kesabarannya. Asap rokok mengepul dari bibirnya, bercampur dengan aroma kopi murahan yang baru saja ia pesan. Rasanya hambar, bahkan lebih buruk dari kopi instan yang biasa ia seduh di rumah. Tapi ia tetap menyesapnya, sekadar memberi alasan untuk duduk lebih lama. Waktu berjalan lambat, jarum jam terasa enggan bergeser. Hampir satu jam ia menunggu, menahan rasa bosan yang merayap.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN