Malam yang meriah, rumah besar itu didatangi ratusan tamu dalam pakaian terbaik mereka. Victor memakai jas hitam dengan Zaneta bergaun abu-abu mengkilat, berdiri di sisinya. Orang-orang yang bisa masuk hanya mereka yang memegang undangan. Adolf menggandeng istrinya berkeliling untuk menyapa para tamu, meskipun ini adalah pesta Victor, tapi iajuga bagian dari tuan rumah. “Siapa tamu istimewa kita malam ini? Pak Wakil Presiden?” tanya Zaneta pada suaminya. Victor menggeleng. “Aku tidak tahu apakah beliau bisa hadir. Undangan sudah aku kirimkan.” Zaneta mendengkus. “Paman kami itu memang sibuk luar biasa. Bahkan saat pertemuan keluarga besar pun jarang hadir. Aku bisa membayangkan, saat nanti kamu terpilih jadi wakil presiden, pasti akan sibuk sekali, Sayang.” Victor mengusap pundak istri

