Kabar kematian Sebastian menyebar secepat api yang membakar hutan kering. Dalam hitungan jam, media dan linimasa dipenuhi dengan foto-foto lamanya, potongan wawancara, serta spekulasi tanpa henti. Negeri kembali gempar. Setiap orang merasa berhak menilai dan menafsirkan tragedi itu dari sudut pandangnya sendiri. Sebagian menganggap Sebastian mati karena tekanan publik—terpuruk di bawah bayang-bayang skandal yang tak kunjung padam. Ada pula yang berpendapat ia memilih mengakhiri hidupnya karena tak tahan menanggung aib yang disebabkan anak perempuannya. Namun, di antara hiruk pikuk itu, tak sedikit yang menanggapinya dengan dingin. “Sudah sepantasnya,” kata sebagian orang di kafe, di kantor, di kolom komentar. Bagi mereka, Sebastian hanyalah pecundang yang akhirnya mendapat ganjarannya se

