Victor mengedarkan pandangan pada ruangan pengap tempatnya berdiri. Udara apak dengan bau debu yang menyengat hidung. Pendingin ruangan hanya berupa kipas kecil yang berputar lemah di dinding. Selebihnya tidak ada apa-apa, hanya bangku kayu kecil. Ruangan ini mengingatkannya akan masa lalu, saat dirinya masih menjadi yatim piatu miskin. Tanpa orang tua, dan hanya mengandalkan bantuan pemerintah, ia hidup menggelandang. Menerima hinaan dan cacian setiap hari. Orang-orang memandangnya dengan miris, tapi juga sinis. Berpura-pura simpati hanya di bibir saja. Sama sekali tidak ada ketulusan di sana. Tidak peduli kalau dirinya masih terlalu kecil untuk menerima cobaan hidup, orang-orang itu memaksanya untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri dan sama sekali tidak ada keinginan untuk membantu.

