“Terima! Terima! Terima!” Seketika suasana kafe menjadi riuh dengan teriakan pengunjung. Belum lagi, ada beberapa di antara pengunjung yang mengarahkan ponsel ke arah Abi dan Fika, untuk merekam momen yang jarang terjadi tersebut. “Mas, jangan bikin malu,” desis Fika berusaha tidak menghentakan kakinya di depan orang-orang. “Ada yang rekam, jadi berdiri.” “Kamu tinggal jawab iya dan masalah selesai,” balas Abi penuh harap dan masih berlutut dengan satu kaki dan kedua tangan memegang kotak cincin ke arah Fika. Yang Abi tahu, semenjak tidak ada Fika hatinya selalu saja gelisah. Merana dan tidak memiliki keinginan untuk melakukan apa pun. Karena itulah, untuk menenangkan hati dan pikirannya yang selalu diliputi rasa sesal, Abi sudah bertekad untuk mengejar Fika sampai dapat. “Mana bisa b

