"Dia baik-baik saja, hanya demam biasa karena tubuhnya kelelahan. Panasnya pun akan segera turun." Arata seketika terduduk, menutup wajah, badannya bergetar. "Syukurlah ... syukurlah dia baik-baik saja," lirihnya, sudah menangis sesenggukan. Kemarahan Mahiro menguap begitu saja melihat betapa kacaunya keadaan sang adik. Dia berkacak pinggang, lalu mengembuskan napas berat, meninggalkan Arata di sana. Di persimpangan menuju ruangannya, Mahiro melihat Altha berjalan susah payah sembari memegang d**a, terlihat amat kesakitan. "Kamu mau ke mana? Bukankah dokter memintamu beristirahat?" Mahiro menahan tangan Altha yang akan tersungkur. "Kamar Mila," ujar Altha dengan suara serak. Tersenyum kecil, Mahiro memapah Altha. "Apa menariknya si senyum palsu itu, sampai dua lelaki tampan menjadi