“Aisa!” Suara Prity menggema memanggil asisten rumah tangganya. “Ya, Nya?” Aisa tergopoh menemui Prity. “Panggil Talita kemari!” “Baik, Nyonya!” aisa berlalu. Tak lama, Talita muncul. Wanita itu tampak pucat dan seperti kurang sehat. Melihat hal itu, Prity justru tersenyum dan wajahnya tampak cerah. “Apa benar kau mual-mual?” Talita mengangguk sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia tampak lemas. “Kenapa mama kelihatan senang sekali melihat kondisiku nggak sehat begini?” “Ayolah, kemungkinan kau hamil, sayang!” Prity memperlihatkan ekspresi gembira. “Ayo, katakan padaku kapan terakhir kau datang bulan?” Talita membelalak. Ia mengingat-ingat. Kemudian menggeleng. “Aku lupa.” “Baiklah, ayo kita cek ke dokter. Aku harus tahu apakah aku benar-benar akan memiliki cucu atau tidak.” Prity