Bab 2

1035 Kata
Pagi telah tiba, sinar matahari mulai masuk dari cela-cela jendela, Annisa masih duduk di atas sajadahnya, tidak seperti biasanya, setelah melakukan sholat subuh, dia akan langsung membuat sarapan dan beres-beres rumah. Sementara di ruang makan, Fatimah sudah uring-uringan, sebab tidak ada makanan yang tersedia. Biayanya jam 06.30 sarapan sudah siap. “Annisa!!" Teriak Fatimah. sampai beberapa kali dan akhirnya wanita bercadar itu keluar dan menuruni anak tangga menghampiri ibu mertuanya. “Ada apa, Ummi?" Tanya Annisa. Fatimah memberikan tatapan nyalang. “Mana sarapannya? kamu tidak memasak? Lihat Warda dan bay.. " “Ummi!!" Rayyan langsung menghentikan kalimat Ibunya yang hampir saja keceplosan. Annisa melihat kearah suaminya yang mendadak gugup, lalu teralih pada ibu Mertuanya yang memasang wajah datar. “Wanita hamil harus banyak bergerak." Celetuk Nisa. Deg Rayyan terkejut sembari melebarkan matanya, apakah Annisa tau jika Warda tengah mengandung? apakah istri sudah mengetahui semuanya? “Sayang.. Kamu.." “Gak usah kaget gitu dong Mas, orang bodoh juga bakalan tau kalau Warda lagi hamil, lihat perutnya udah menonjol." Sela Nisa menunjuk ke arah perut Warda. Warda menundukkan kepalanya, terlihat begitu tertekan, dia sadar akan posisinya menjadi yang kedua, tetapi dia juga ingin seperti Nisa yang mendapatkan segalanya. Rayyan gelapan, dia hendak meraih tangan istrinya dan ingin menjelaskan sesuatu namun mulutnya seperti terkunci. Nisa memberikan tatapan jijik pada suaminya, Rayyan adalah pria sholeh yang taat akan Agama, namun perbuatannya tidak mencerminkan pria yang bermoral. “Baguslah kalau kamu sudah tau, jadi Ummi gak perlu lagi repot-repot menutupinya." Fatimah berucap dengan santai, seakan menganggap semua itu hal wajar. Apakah wanita tua itu tidak menyadari jika dirinya istri seorang pemimpin pondok pesantren dan CEO dari sebuah perusahaan ternama? Annisa menggelengkan kepalanya. “Ummi mewajarkan perzinahan Mas Rayyan dengan Warda?" Rayyan menggeleng, dia tidak berzina. “Sayang, Mas bisa jelaskan, semua gak seperti yang kamu pikirkan, Mas gak berzina, kami.. " “Ouh.. Kalau kalian gak berzina, berarti udah nikah siri dong sebelumnya?" Sela Annisa menebak, dia menatap dalam sang Suami, berharap ada gelengan kepala dari Rayyan. Tetapi semua hanya angan, Rayyan menganggukkan kepalanya. “Maaf." Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Annisa memejamkan matanya, hatinya kembali hancur, Astaghfirullah, jadi selama ini pernikahannya sudah ternodai oleh pengkhianatan Rayyan? Tawa kecil keluar dari bibir mungil itu, tatapan kecewa terlihat jelas. “Hebat kamu Mas dan kamu juga Warda, aku tidak menyangka kalian tega melakukan ini semua padaku." Ucapnya tertawa miris. “Kalau kamu gak mandul, Rayyan gak bakalan nikah lagi, kamu yang gak.. " “FATIMAH!!!" Suara bentakan dari pintu masuk membuat mereka semua menoleh. Kiai Rahmat, memberikan tatapan tajam pada sang istri. Langkah kaki lebarnya menghampiri istrinya. Mereka semua gugup, kecuali Annisa yang tetap tenang, meskipun hatinya terasa sakit. “Abi.. " Plak!! Satu tamparan keras Rayyan dapatkan dari sang Ayah, pria tua yang memiliki gelar Kiai itu menatap penuh amarah pada putranya. Beliau baru saja datang menyusul anak istri dan menantunya, tidak menyangka kedatangannya di kejutkan oleh pernikahan kedua Rayyan. Sejak tadi Kiai Rahmat mendengar caci maki yang istinya lontarkan pada sang menantu, hanya masalah cucu sampai membuat Fatimah tega menyakiti hati Annisa. Apakah wanita tua itu tidak tau cara berterimakasih? mereka bisa seperti ini karena siapa? kalau bukan karena bantuan dari Tuan George, ayah dari Annisa. Rayyan memegangi pipinya yang terasa perih, matanya memerah bukan karena marah, tetapi karena menyadari akan kesalahannya. “Abi, kenapa harus menampar putra kita?" Ummi Fatimah tentu saja tidak terima melihat perlakuan suaminya pada Rayyan. Kiai Rahmat melihat kearah istrinya. “Aku bukan hanya ingin menamparnya, tetapi juga ingin menghajarnya sampai dia sadar akan kesalahannya. Dan kamu Fatimah, tidakkah kamu tau cara berterimakasih?" Suara tegas Kiai Rahmat membuat semua terdiam, termasuk Warda yang benar-benar merasa malu. “Apa salah jika Ummi menginginkan seorang cucu? kita sudah tua dan kebetulan Warda bisa memberikannya, apa... " “Dan kamu membiarkan putramu berzina hanya untuk mendapatkan cucu? dimana akal sehatmu Fatimah!!" Menyela dengan suara berat. “kami tidak berzina Abi, aku dan Mas Rayyan sudah menikah siri sebelumnya." Bantah Warda tidak ingin di cap sebagai penzina, dia mencoba meluruskan tuduhna itu. Kiai Rahmat terkekeh pelan. “Rayyan kau mau bicara jujur atau Abi yang akan mencari tau sendiri?" Rayyan membelalakkan matanya, dia melihat kearah Ummi Fatimah yang menggelengkan kepalanya. “Sudahlah Abi, penjelasan Mas Rayyan tidak akan mengubah apapun, Mas Rayyan sudah mengkhianatiku dan mereka juga sudah menikah." Timpal Annisa. Suara perempuan bercadar itu tetap tenang, namun Kiai Rahmat bisa merasakan betapa hancurnya hati sang menantu, beliau tau betul betapa Annisa sangat mencintai Rayyan. Cinta dan pengabdian Annisa di balas dengan pengkhianatan. Kiai Rahmat menatap sendu menantunya. “Annisa, Abi minta maaf, kalau memang kamu sudah tidak sanggup katakan saja pada Abi." Ucapnya. Nisa menganggukkan kepalanya, jika bukan karena Kiai Rahmat mungkin dia sudah mengadu pada Ayahnya. “Annisa akan tetap menjadi istri yang aku cintai selamanya, Abi, tidak ada yang berhak memutuskan apapun tentang hubungan kami" Ujar Rayyan, dia tidak ingin kehilangan Annisa. “Simpan saja kata cintamu itu Ray, kamu pria yang tidak memiliki pendirian, pernikahanmu baru berusia 2 tahun tetapi kau sudah goyah." Sinis Kiai Rahmat. “Dan perlu kau ingat baik-baik, Abi hanya mengakui Annisa sebagai menantu Sah di keluarga kita." lanjut Kiai Rahmat, setelah itu pergi ke arah ruang keluarga. Warda mengepalkan kedua tangannya, dia pikir dengan adanya janin di perutnya akan mendapatkan perlakuan spesial dari Kiai Rahmat, terkaya tetap saja Annisa pemenangnya. Malam hari Rayyan masuk kedalam kamar Annisa, merasa mereka masih menjadi suami istri yang sah, Rayyan masih memiliki hak penuh atas diri Nisa, termasuk tubuh wanita itu. Rayyan merindukan malam hangat bersama cinta pertamanya, dia rindu senyum Nisa, rindu ketika wanita itu memanjakan dirinya, meskipun monoton tetap saja Nisa yang terbaik di hatinya. Rayyan naik ke atas ranjang, merebahkan dan menghadap ke arah Nisa yang sudah terlelap. Cukup lama Rayyan menatap wajah cantik itu sampai tidak terasa air matanya menetes. “Maaf" Lirihnya, Rayyan benar-benar terpaksa menikahi Warda, bukan karena cinta, wanita yang dicintainya tetaplah Annisa. Mengulurkan tangannya meraih pinggang ramping Nisa dan memeluknya erat, sampai membuat pemilik tubuh itu tersentak dan membuka matanya. “Astaghfirullah, Mas Rayyan!! Apa yang kau lakukan di kamarku!" Ucap Annisa mendorong d**a suaminya. Rayyan semakin mengeratkan pelukannya. “Diam lah Nisa, aku suamimu dan aku memiliki hak penuh atas dirimu. Aku merindukanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN