Hari-hari sudah berlalu, sudah dua bulan lebih Nisa menyandang status istri pertama. Tidak ada lagi rasa cemburu yang ada hanya rasa sakit hati atas perlakuan Rayyan.
Entah apa yang terjadi pada pria itu yang masih berani meminta hak padanya, Bukannya sudah ada Warda? lalu kenapa terus memaksanya.
Rayyan membiarkan sikap dingin dan cueknya Nisa, tetapi tidak dengan hak nya, Rayyan tidak menerima penolakan ketika malam dia menginginkannya.
Teriakan ataupun tangisan Nisa sama sekali tidak didengarkan. Itulah yang membuat Nisa semakin sakit, tetapi sampai detik ini wanita itu belum bisa memberitahu kedua orang tuanya.
Jika dulu Nisa yang sangat mencintai Rayyan dan tidak ingin kehilangan lain halnya sekarang seperti kebalikannya.
Rayyan tetap harus mempertahankan istri pertamanya, sebab Kiai Rahmat sudah memberikan peringatan, jika sampai bercerai dengan Nisa, entah apa yang akan terjadi dengan perusahaannya.
Perut Warda terlihat menonjol, wanita itu merasa bangga sebab Ummi Fatimah selalu memanjakannya. Memberikan yang terbaik untuk wanita hamil itu.
“Annisa, kau tau kalau wanita hamil sering kali yang namanya ngidam, kalau tidak... "
“Langsung saja ke intinya Ummi? Warda menginginkan apa lagi dariku?" Sela Annisa yang sudah mulai muak. Ummi Fatimah salah tingkah begitu juga dengan Warda.
“Sebentar lagi kan Warda melahirkan, kamarnya.. "
“Kamu ingin pindah ke kamarku?" Lagi Nisa menyela dan melihat ke arah Warda yang mengangguk pelan.
Annisa manggut-manggut paham, kamar utama yang menjadi saksi cinta dirinya dengan Rayyan, kamar yang Pertama kali dia gunakan ketika berbulan madu dulu.
Tetapi sekarang kamar itu sudah tidak ada artinya lagi. “Ambillah" Jawabnya singkat. Senyum Warda merekah, satu persatu apa yang Nisa miliki dirumah itu akan dia ambil.
“Ah.. Aku hampir lupa, kau juga suka barang bekas bukan? kalau begitu kau bisa mengambil pakaian bekas milikku yang sudah tidak aku inginkan." Annisa tersenyum lebar, terlihat dari guratan kedua sisi matanya.
Senyum Warda seketika meredup, itu artinya sama saja dia memungut sampah yang sudah dibuang oleh Nisa.
**
Sesuai dengan keinginan Warda, Annisa pindah ke yang terletak di lantai paling atas, tidak banyak barang yang Annisa bawa, selain beberapa perhiasan dan pakaiannya yang dibeli menggunakan uangnya sendiri.
Semua pemberian Rayyan sengaja Annisa tidak membawanya, membiarkan Warda memiliki semuanya.
“Annisa, Abi ingin bicara." Kiai Rahmat mengajak menantu kesayangannya itu duduk di teras belakang, tidak hanya berdua, disana juga ada dua maid.
“Apa yang ingin Abi bicarakan?"
Kiai Rahmat menghembuskan nafas berat, ragu ingin bicara. “Annisa, Abi tau kamu sudah sangat terluka dan Abi.. " Kiai Rahmat menggantung kalimatnya, benar-benar ragu untuk bicara.
“Abi ingin aku tetap bertahan di pernikahan ini?" Tebak Nisa, Kiai Rahmat tidak langsung menjawab dan diamnya itu membuat Annisa tersenyum tipis.
“Abi, aku tidak mau di madu, meskipun jaminannya surga, aku rasa masih ada banyak cara untuk mendapatkan pahala tanpa aku harus menyakiti diriku sendiri." Lanjut Annisa mantap, dia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya.
Kiai Rahmat memejamkan matanya, memang tidak akan ada yang mau berbagi suami, tetapi beliau sangat yakin jika Nisa sangat mencintai Rayyan, diamnya wanita itu hanya karena cemburu.
Kiai Rahmat juga tidak akan membiarkan mereka berpisah, jika memang Annisa sudah tidak sanggup, Kiai Rahmat akan membiarkan tiket liburan kemana saja yang Nisa mau, asalkan tetap bersama sang putra.
“Nisa, tidak ada alasan untuk tidak bertahan, Rayyan memenuhi syarat untuk melakukan poligami, dia adil dan memberikan nafkah sama besarnya, tidak memihak pada Warda meskipun wanita itu sedang mengandung."
Annisa menggelengkan kepalanya. “Mas Rayyan tidak memenuhi syarat, Abi. Aku masih sehat dan masih sanggup memberikannya hak, aku.. "
“Kamu mandul Annisa, jadi jangan banyak protes, memangnya ada laki-laki yang mau sama perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan selain Rayyan?" Sela Ummi Fatimah yang tiba-tiba saja muncul dari belakang kita Kiai Rahmat.
Lagi, kalimat mandul membuat Nisa merasa sakit. “Fatimah" Tegur Kiai Rahmat.
“Biarkan Nisa sadar, Abi, biar gak banyak nuntut dan biarin aja kalau dia mau ngadu sama orang tuanya, Ibunya kan punya riwayat jantung, kalau tau anaknya mandul.. "
“Cukup Fatimah!!" Kiai Rahmat menatap tajam, niat ingin membujuk Nisa agar tetap bertahan, tetapi istrinya malah membuat masalah semakin kacau.
“Astaghfirullah, Ummi Istighfar." Lanjut Kiai Rahmat memperingati istrinya.
Itulah salah satu alasan Annisa tidak memberitahu keluarga, dia khawatir akan keadaan sang Bunda, niat yang sudah ditata rapih, ingin cepat mengakhiri segalanya, namun mengingat kembali keadaan sang Bunda membuatnya urung.
**
Annisa kembali menjadi sasaran ibu mertuanya, satu jam yang lalu Warda masuk rumah sakit, wanita itu mengalami kram perut.
“Rayyan, kamu harus ingat kalau Warda itu sedang mengandung anakmu, jangan terus memperhatikan wanita yang jelas tidak bisa memberimu keturunan."
Rayyan tidak menjawab, jelas kalau harus memilih dia akan tetap memilih Annisa, tetapi karena sebuah alasan yang tidak bisa dia katakan terpaksa harus diam.
“Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rayyan menghampiri Warda.
“Aku gak apa-apa kok Mas, Alhamdulillah, cuma kram aja." Jawab Warda pelan.
“Annisa, Warda juga sudah menjadi istri Rayyan, jangan membuatnya terus tidur bersamamu, kau harus tau cara berbagai." Ketus wanita tua yang sudah nampak keriputan di pipi.
Annisa tersenyum di balik cadarnya. “Boleh Ummi yang ngajarin Nisa untuk berbagi? siapa tau Ummi juga pengen berada di posisi Nisa?"
Ummi Fatimah mendelik mendengar jawaban Annisa, apa yang perempuan itu maksud?
“Apa maksudmu?"
“Masa Ummi gak tau? Abi juga kayaknya butuh pendamping untuk melakukan perjalanan bisnis, sendangkan Ummi gak bisa ikut ke mana-mana, kalau tidak keberatan Nisa punya calon untuk Abi." Annisa hampir tertawa melihat wajah kesal sang Ibu mertua memangnya siapa yang mau di madu?
“Annisa!" Tegur Rayyan menggelengkan kepalanya, kepalanya terasa sakit, setiap hari ada saja yang membuat ibu dan istri pertamanya beradu mulut.
Annisa bukan yang dulu lagi, mengalah dan tidak pernah melawan ataupun membantah ucapan Ummi Fatimah.
Nisa selalu diam, menghormati Ummi. Namun sekarang satu kata yang terucap dari mulut Ummi, maka Nisa akan membalasnya lebih dari sepuluh kata.
Rayyan seperti perlahan kehilangan Nisa, istrinya berada didepan mata namun terasa jauh, tidak ada kata-kata cinta yang terucap, tatapan penuh binar semua menghilang sejak hadirnya Warda.
“Loh kenapa Mas? Ada yang salah dengan perkataanku?" Tanya Nisa menaikan sebelah alisnya.
“Sayang, jangan bicara seperti itu, Abi gak mungkin... "
“Apanya yang gak mungkin Ray? kamu meragukan kemampuan Abi? Dua istri lagi masih sanggup." Sela Kiai Rahmat dengan santai membuat Ummi Fatimah melebarkan matanya.