Bab 4

1084 Kata
“Sarapan dulu Mas, Mbak Nisa!" Tumben sekali pagi-pagi Warda berada di dapur dan memasak? biasanya wanita itu akan bangun siang dan menunggu sarapan di siapkan. Warda memasak nasi goreng yang menjadi kesukaan Rayyan, wanita itu seperti tengah mencoba menyenangkan suaminya, baik di ranjang maupun makanan. “Terimakasih" Ucap Rayyan sembari tersenyum, melirik sang istri pertamanya yang juga mengikuti dirinya duduk. “Sama-sama Mas." Wanita hamil itu membalas senyum Rayyan. “Mbak Nisa mau coba masakanku?" Tanya Warda mengalihkan pandangannya pada Nisa. Nisa menaikan sebelah alisnya. “Kau tadi menawariku sarapan kan? kalau begitu tentu saja aku akan mencoba masakanmu." Ketusnya. Warda tersenyum kikuk, dia mencoba berdamai dengan Nisa dan ingin memperbaiki hubungan yang sudah dia rusak itu, tetapi sepertinya Nisa sudah sangat kecewa. “Kau kenapa?" Rayyan melihat kearah Warda yang meringis. “Sedikit kram Mas." “Duduklah" Rayyan bangkit dari duduknya lalu mengambil air minum dan memberikannya pada Warda. Biasanya jika kram seperti ini, Warda akan meminta Rayyan untuk mengusapnya, maka hal itu tanpa di minta Rayyan reflek mengusap penuh dengan kelembutan. “Dia menendang!!" Rayyan berseru antusias, sampai matanya membulat sempurna. Warda tertawa ringan. “Dia tau cara menyapa Ayahnya, Mas" Rayyan menganggukkan kepalanya. “Lucu sekali, begini kah cara bayi menyapa orang tuanya?" Rayyan kembali mengelus perut Warda. Semua kebahagiaan itu terlihat oleh Annisa, tanpa sadar mata wanita cantik itu berkaca-kaca, benteng pertahanannya kembali runtuh. Tanpa sadar Nisa juga mengusap perutnya, siapa yang tidak ingin memiliki keturunan, dia tidak mandul, dia sehat hanya saja belum mendapatkan kepercayaan untuk memiliki keturunan. “Ekhm!" Nisa berdehem mengejutkan Rayyan dan Warda. Rayyan melepaskan tangannya tentu saja untuk menjaga perasaan Nisa, “Sayang.. " “Warda, lain kali kamu tidak usah menyiapkan sarapan untuk Nisa, kamu itu istri Rayyan bukan pembantu, kamu cukup melayani suami saja." Ketus Ummi Fatimah. Nisa yang enggan untuk berdebat dengan mertuanya, bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya. “Sayang, kamu mau kemana?" Nisa menoleh. “Kamar, mau.. " “Mau kemana lagi Nisa? kamu sering pergi ketika Rayyan tidak ada dirumah? Sepertinya kamu sudah lupa cara menjadi istri yang baik" Kalimat Ummi Fatimah membuat Rayyan menautkan kedua alisnya. “Nisa sering pergi?" Ummi Fatimah menganggukkan kepalanya. “Iyakan Warda?" Reflek Warda mengiyakan ucapan ibu mertuanya. “Annisa.. " “Hari ini kamu jadi pulang ke Indonesia, Nisa?" Tiba-tiba saja Kiai Rahmat datang. “Jadi,Abi" Nisa tersenyum, menyapa sang Ayah mertua. Sejauh ini Kiai Rahmat yang membelanya, kala Ummi Fatimah sendang memarahinya, Rayyan tidak pernah membelanya, karena pria itu anak yang taat pada sang Ibu. “Sampaikan permintaan maaf Abi kepada kedua orang tuamu." “Baik, Abi." Jawab Nisa, pria tua itu tersenyum, setelah melakukan sholat malam, meminta petunjuk akhirnya pria tua itu menyadari jika dirinya juga salah meminta Nisa selalu bertahan. Tidak perduli apa yang akan terjadi jika nanti Tuan George membekukan semua dana dan membuat perusahaannya hancur, terlalu lama menahan Nisa juga tidak baik. Wanita itu di perlakuan tidak adil oleh Ummi Fatimah. “Nisa, kamu benar-benar sudah tidak menganggap aku suamimu? sampai kamu mau pulang juga tidak meminta izin" Rayyan melemahkan suaranya. “Biarkan saja dia pulang, biar kamu lebih fokus pada Warda, gak usah khawatir Ray, dia gak akan berani ngadu." Timpal Ummi Fatimah, level kebenciannya pada Nisa setiap harinya bertambah “Aku.. " “Akhh.." Kalimat Nisa terhenti kala Warda mengaduh perutnya kembali sakit, seluruh perhatian Rayyan kembali pada Warda. “Rayyan, cepat bawa istrimu kerumah sakit." Pinta Ummi Fatimah, namun Warda dengan cepat menolak. “Gak usah Ummi, Bayinya cuma menendang dan ingin terus dekat sama Ayahnya." Ucap Warda membuat Nisa terkekeh sinis. Ummi Fatimah menghela nafas lega. “Kamu dengar itu Rayyan, lebih baik habiskan waktumu bersama istri dan calon anakmu, ajak Jalan-jalan mumpung masih di tugas di luar negeri." “Fatimah, kamu selalu mengajarkan putramu untuk berbuat tidak adil, Rayyan memiliki dua istri, kenapa.. " “Buat apa menyenangkan istri mandul, masih untung Rayyan mau Mempertahankannya." Ummi Fatimah menyela dengan ketus. Astaghfirullah, apakah wanita tua itu benar-benar tidak sadar, Nisa sudah meminta pulang dari jauh-jauh hari, tetapi Rayyan yang menghalanginya, bukan Nisa yang tidak tau diri, tetapi Ummi Fatimah yang tidak sadar diri. “Astaghfirullah, Fatimah, Aku yakin Nisa itu sehat dan hanya saja belum mendapatkan kepercayaan, kenapa kamu terus bicara seperti itu dan mengagungkan membatu yang belum jelas merendahkan harga dirinya sebagai wanita." Kiai Rahmat mulai muak dengan istrinya, bagaimana bisa Nisa dibandingkan dan Warda? dari segi manapun mereka berdua jauh berbeda. Nisa berpendidikan tinggi dan seorang Dosen, dari keluarga terpandang. Sementara Warda? entah bagaimana latar belakang wanita itu, tidak mungkin jika wanita baik-baik mau menjadi yang kedua. “Abi terus membelanya, Ummi semakin yakin kalau Abi masih memiliki perasaan dengan ibunya yang.. " “Cukup Fatimah!! kau selalu membahas masalalu, jangan menyangkut pautkan dengan Ibunya Nisa, kita berdua sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dan sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kau yang merebutku darinya." Bentak Kiai Rahmat. Ini salah satu alasan kenapa Ummi Fatimah membenci Nisa, karena Nisa putri dari wanita masalalu Kiai Rahmat. Padahal, hubungan itu sudah lama berlalu dan kandasnya percintaan Kiai Rahmat juga karena ulah Ummi Fatimah. “Abi, sudah berani membentakku hanya demi membelanya?" Ummi Fatimah berkaca-kaca membuat Kiai Rahmat menghela nafas panjang. “Nisa masuk kamarmu dan jangan kembali sebelum aku mengizinkanmu, lihatlah karena ulahmu kedua orang tuaku harus mendapatkan masalah." Titahnya Rayyan. Annisa tidak menjawab, dia masuk dalam kamarnya, merasa bersalah, setiap membelanya pasti akan terjadi pertengkaran. Setelah kepergian Nisa, Rayyan membawa Warda kembali ke kamar, meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan. Sampai di kamar Rayyan melepaskan tangan Warda. “Kau sudah puas?" Warda mendongak kebingungan. “Maksud Mas Rayyan apa?" Rayyan melirik dengan tajam. “Jangan kau pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan Warda, ingat aku menikahimu bukan karena cinta, tetapi karena untuk mempertahankan istriku." Jawabnya pelan. Apa yang Rayyan lakukan hanya untuk membuat Nisa tetap berada di sisinya. “Tapi Mas,bukannya kamu tadi.. " “Seharusnya kau sadar, karena apa kita menikah dan sesuai kesepakatan, aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik ketika berada di depan Annisa, selebihnya jangan mengharap apapun dariku." Sela Rayyan memberikan tatapan nyalang. Warda menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca, mengusap perutnya yang menonjol. “Apa Mas Rayyan juga tidak menginginkan anak ini?" Rayyan tidak langsung menjawab, dia masih ragu apakah itu benar-benar anaknya? seingatnya dia tidak melakukan apapun malam itu pada Warda, tetapi jika benar itu anaknya, dia akan mengambilnya setelah lahir dan membesarkannya bersama Annisa. Untuk saat ini lebih baik Rayyan bersabar sampai Warda melahirkan, setelah semuanya terbukti dia akan mengakhiri dan kembali pada istri tercinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN