Annisa kembali menunda kepulangannya, dia harus memberikan alasan kepada kedua orang tuanya, mengatakan jika Rayyan belum bisa mengambil cuti.
Mau bagaimanapun Rayyan masih Sah menjadi suaminya, dia juga tidak ingin menjadi istri durhaka.
“Baguslah, kalau Nisa gak jadi pulang, lebih baik disini bantuin ngurus Warda yang sebentar lagi mau melahirkan, tau sendirikan nyawa taruhannya, makanya besok-besok jangan buat suamimu menjauh dari Warda, ingat dia juga istri Rayyan." Ummi Fatimah terus menerus menyerang dengan kata-kata tajam.
Nisa menghela nafas panjang, bagaimana dia mau bertahan jika suaminya diam ketika sang Ibu terus menerus menyalahkannya. tidak adakah sedikit dalam benak pria itu untuk membelanya?
Dari awal menikah sampai sekarang tidak ada Rayyan yang membelanya, terus menerus Nisa yang harus mengalah. karena cintanya pada sang suami begitu besar membuatnya bisa menerima semua itu.
Tetapi untuk sekarang Nisa seakan sadar mungkin hanya dia yang jatuh cinta, terbukti dari Rayyan yang hanya diam dan lebih memperhatikan Warda.
“Aku hanya mengundur waktu saja Ummi, mungkin ketika Warda melahirkan aku akan pulang, biar Mas Rayyan memiliki banyak waktu bersama istri dan anaknya." Jawab Nisa dengan lembut.
Ummi Fatimah menoleh. “Tidak bisa, justru ketika Warda melahirkan tenagamu di butuhkan, kamu bantu mengurus bayinya, biar Rayyan fokus mengurus Warda."
“Ummi.. " Rayyan menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia tega menjadikan istri tercintanya sebagai babysitter.
“Diam Rayyan, biar Ummi yang mengatur, kamu fokus bekerja dan mengurus Warda, niat Ummi itu baik, biar Nisa bisa merasakan menjadi seorang ibu meskipun mustahil bisa mengandung." Ujar Ummi Fatimah.
Lagi dan lagi Nisa merasakan nyeri, dia bisa menerima kata-kata hinaan lainnya, asalkan bukan masalah anak, Nisa yakin dirinya tidak mandul, sudah beberapa kali dia memeriksakan kesehatannya dan tidak ada masalah.
“Ummi, Nisa gak mandul!!" Ucap Nisa nadanya sedikit meninggi.
“Astaghfirullah, Sayang pelankan suaramu, ingat jangan meninggalkan suara ketika bicara dengan Ummi." Tegur Rayyan, dia tau istrinya tersinggung atas ucapan Ummi nya, tetapi tidak harus Nisa meninggalkan suara.
“Apa? Mas mau menyalahkan aku lagi? Ummi yang sudah keterlaluan, terus menerus mengatakan aku mandul.. Aku gak mandul Mas!!" Hilang sudah kesabaran wanita cantik itu. Nada lembut tidak lagi terdengar.
Rayyan menganggukkan kepalanya, menghampiri istri pertamanya mencoba menenangkan. “Iya, Mas percaya kalau kamu sehat dan.. "
“Jangan membohongi diri sendiri Rayyan, kau tau jelas jika istrimu itu mandul, dua tahun kalian menikah tetapi belum juga mendapatkan keturunan, sementara dengan Warda tidak ada satu tahun tetapi sudah memiliki hasilnya." Sela Ummi Fatimah.
“Cukup Ummi, jangan membandingkan Nisa dengan Warda, mereka dua wanita yang berbeda, Warda tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Nisa." Jawab Rayyan, Baru kali ini pria tampan itu membantah ucapan Ummi nya, mungkin Rayyan juga sudah merasakan jengah.
Ummi Fatimah tercengang. “Rayyan, kamu membentak Ummi?" Ucap wanita tua itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tentu saja itu membuat Rayyan serba salah, dia benci situasi seperti ini.
“Kamu membentak Ummi hanya untuk membela wanita mandul itu, bahkan kamu juga mengabaikan Warda yang jelas mengandung keturunanmu, Ummi kecewa sama kamu Rayyan." Lanjut Ummi Fatimah meneteskan air matanya.
Warda yang melihat itu segera memeluk ibu mertuanya. mengusap lembut punggung wanita tua itu sembari menatap nanar kearah suami dan kakak madunya.
“Mas, kamu boleh mengabaikan aku, tetapi jangan sampai membuat Ummi menangis dan Mbak Nisa tolong jangan dianggap serius ucapan Ummi, maklumi saja mbak." Ujar Warda dengan suara seraknya.
Nisa terkekeh pelan, Warda memintanya untuk tidak menganggap serius ucapan Ummi Fatimah? jika hanya satu atau dua kali mungkin Nisa bisa memakluminya, tetapi sudah dari awal menikah wanita tua itu selalu menyakitinya dengan kata-kata tajam.
Di awal Nisa bisa menerima tetapi semenjak Rayyan mengkhianatinya, tidak lagi Nisa bisa menerima.
“Kamu w************n yang berani naik keatas ranjang suamiku tanpa rasa malu." Ucap Nisa menetap tajam Warda.
“Annisa!! berani kamu mengatai menantu murahan.."
“Warda, tolong maklumi ucapanku." Annisa memotong kalimat Ummi Fatimah, dia ingin melihat bagaimana Warda memaklumi ucapnya.
Ekspresi wanita itu terlihat terkejut, tetapi dengan cepat menormalkan ekspresinya. Dia menganggukkan kepalanya pelan.
“Nisa, Mas mohon jangan terus terpancing oleh ucapan Ummi, setelah Warda melahirkan, kita pulang ke rumah Papa." Rayyan membawa istri pertamanya menjauh dari Warda dan Ummi.
Nisa menggeleng pelan. “Aku ingin pulang sendiri Mas, aku sudah tidak sanggup lagi.. "
“Apa maksudmu tidak sanggup lagi? kamu ingin meninggalkan aku, Nisa?"
Annisa mendongak menatap lekat manik hitam Rayyan, tatapan Rayyan tetap sama penuh cinta, tetapi cinta itu sudah tidak bisa menggetarkan hati Annisa.
“Percayalah Annisa, sebisa mungkin aku akan adil, kamu tetap yang utama untukku, Warda hanya amanat dari Ummi sementara bayi itu adalah titipan, kamu wanita yang aku cintai sebesar apapun yang ada di dunia ini." Rayyan memegang kedua pundak istrinya.
Bekata jujur apa adanya yang ada dalam hati, Annisa memang satu-satunya wanita yang dia cintai. Tetapi bagi Annisa ucap itu sudah tidak ada artinya, dia tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain.
Rayyan memeluk Nisa, mengecup puncak kepala istrinya. “Terimalah Warda sebagai madumu, kalian bisa saling melengkapi."
“Aku ingin pulang, Mas."
Rayyan menganggukkan kepalanya. “Kamu boleh pulang, tetapi harus kembali lagi."
Annisa mendorong pelan suaminya agar pelukan itu terlepas. “Kamu mengizinkan aku pulang?"
Rayyan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Hmm, tetapi kamu harus kembali, kita mulai semua dari awal, kamu mau kan berdamai dan menerima Warda?"
Annisa tidak langsung menjawab, dia menganggukkan kepalanya. “Hmm."
Tangan Rayyan mengusap lembut kepala Nisa, sungguh jika waktu bisa diputar kembali, Rayyan tidak akan melakukan hal yang menyakiti istrinya.
Rayyan benar-benar takut jika Nisa meninggalkan dirinya, pria itu mencoba menuruti permintaan Nisa yang ingin pulang hanya sekedar berkunjung saja. Setelah itu dia akan kembali menjemput istrinya.
“Kamu tidak mau ikut denganku Mas?" Tanya Nisa basa-basi.
Rayyan menggelengkan kepalanya. “Mas harus menjaga Warda dan Ummi tentunya tidak akan mengizinkan. Tetapi kamu gak usah khawatir Mas akan mengantarmu sampai bandara."
Annisa tersenyum tipis mendengar jawaban suaminya, sampai kapanpun Rayyan akan tetap berada dibawah kaki ibunya, tidak akan bisa mengambil keputusan untuk hidupnya, apapun yang Ummi Fatimah katakan Rayyan akan menurut.
“Baiklah, aku menunggumu Mas."
“Mas akan menjemputmu setelah Warda melahirkan." Nisa menganggukkan kepalanya. Dia kembali mengemasi pakaiannya. Tidak sabar ingin segera pergi dari rumah yang sudah menghancurkan hatinya. Meninggalkan suami yang sama sekali tidak memiliki ketegangan.
“Annisa?" Panggil Rayyan.
Nisa menoleh. “Iya, Mas?"
Rayyan kembali memeluk istrinya. “Jangan tinggalkan aku."