Bab 6

1036 Kata
Sesuai dengan rencana, Nisa pulang sendiri membuat Tuan George bertanya-tanya, Rayyan akan tidak biasanya membiarkan Nisa pergi sendiri. “Di mana suamimu?" Tanya Tuan George, menatap dalam manik hitam putrinya. “Mas Rayyan lagi banyak kerjaan, Pa, nanti juga nyusul." Jawab Nisa, tidak mungkin dia berkata jujur jika suaminya tengah sibuk mengurus istri baru. Azha adalah ibu kandung Nisa, memeluk putrinya penuh dengan kerinduan, baginya melihat Nisa baik-baik saja sudah cukup. Baru beberapa bulan tidak bertemu, membuat wanita tua yang masih terlihat cantik itu merasakan kerinduan yang mendalam. “Bunda kangen banget sama kamu, Nak." Ucapnya lembut. Nisa tersenyum. “Nisa juga kangen.Bun" Wanita tua itu mengangguk, entah kenapa begitu terasa dan terlihat jelas dari sorot mata Nisa, sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu. Tidak ada hal yang mendesak, Tiba-tiba saja Rayyan mengajak putrinya pindah keluar negeri dengan alasan kantor membutuhkannya, padahal di kantor pusat masih banyak pekerjaan yang terbengkalai. Azha menggelengkan kepalanya, semoga saja ini hanya perasaannya saja. “Nisa, Bunda udah masak makanan kesukaanmu, ayo kita makan dulu." Annisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia juga rindu dengan masakan Ibunya. Menjadi anak perempuan satu-satunya tentu saja membuat hidupnya selalu di manja oleh kedua orang tuanya dan juga kakak serta adiknya. Nisa merangkul lengan Ayahnya, berjalan kearah ruang makan sembari mengembangkan senyum nya. “Pa, selama Nisa gak ada Papa senengkan? gak ada yang gangguin honeymoon nya." Bisik Nisa membuat pria tua itu cekikikan. “Tentu saja Papa senang, sayang sekali Bunda gak mau nambah adek buat kamu." Jawab Tuan George. Kediaman Tuan George kembali ramai, kedua putranya juga langsung pulang setelah mengetahui Nisa datang. “Mbak Nisa pulang sendiri? Mas Rayyan gak ikut pulang?" Tanya Alden. Putra bungsu Tuan George. Nisa menggelengkan kepalanya. "Mas Rayyan lagi.. " “Mbak Nisa mau sampai kapan menutupinya?" Sela Alden menaikan sebelah alisnya. Annisa tersentak dan mengangkat pandangannya melihat kearah sang adik, lalu kearah keluarganya yang juga melihat ke arahnya. “Alden, kamu bicara apa?" Ucap Nisa gugup. Gelagatnya menarik perhatian Tuan George, putrinya terlihat aneh, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan. Alden terkekeh pelan, tatapan matanya yang begitu tajam, usianya hanya berbeda dua tahun dari Nisa. Tetapi pemuda itu terlihat sangat menakutkan. “Mbak Nisa gak mau jujur tentang Mas Rayyan?" Alden meletakan sendoknya di atas piring dan menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap dalam sang kakak. Semua orang semakin bingung, Nisa memejamkan matanya, mungkin dia bisa membohongi Ayah dan ibunya tetapi tidak dengan Adik dan kakaknya. Gasta sejak tadi hanya diam memperhatikan Nisa, sepertinya pria itu menunggu sang adik bicara jujur. Bunda Azha meraih tangan putrinya yang berada di atas meja, menggenggamnya erat. “Nak, ada apa sebenarnya?" Bunda Azha mengusap lembut punggung tangan Nisa. Annisa menggelengkan kepalanya. Dia takut jika pengakuannya akan membuat jantung Bundanya kambuh, Nisa tidak ingin semua itu terjadi, tetapi jika dia tidak bicara, Alden dan Gasta pasti akan mengungkap kebenarannya. “Kalau Mbak Nisa gak bisa ngasih tau biar aku yang.. " “Alden, ikut Mbak." Nisa menyela kalimat adiknya dan membawa Alden keluar dari ruang makan. Bunda Azha menoleh kearah suami dan putra sulungnya. Gasta tersenyum. “Bunda jangan khawatir, Alden sengaja biar dikasih oleh-oleh." Ucapnya, Gasta juga menghawatirkan kesehatan sang Bunda, mungkin menunda sementara lebih baibain. Sementara itu Alden dan Nisa sudah berada di halaman rumah, wanita bercadar itu menundukkan kepalanya, percuma dia berbohong dihadapan adiknya. “Kamu tau darimana?" Tanya Nisa pelan. Alden menggelengkan kepalanya. “Salah satu rekan kerjaku hadir di pernikahan kedua Mas Rayyan." Jawabnya tidak berbohong. “Kalau kamu sudah tau, tolong jangan kasih tau Papa dan Bunda, Mbak gak mau sampai terjadi sesuatu sama Bunda." Alden menaikan sebelah alisnya. “Lalu Mbak mau sampai kapan di madu? Mbak, mau biarin mereka tertawa di atas air matamu? dan wanita itu bukannya teman dekat Mbak Nisa?" Jawab Alden tidak habis pikir dengan apa yang kakaknya pikirkan.Mau sampai kapan menyembunyikan semua ini dari kedua orang tuanya. Nisa menundukkan kepalanya, dia tidak perduli dengan rasa sakitnya, yang penting kesehatan sang Bunda. Nisa takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. “Alden, Mbak gak tau sampai kapan, Mbak takut kalau Bunda.. " “Lama-lama Bunda juga akan tau Mbak. Aku gak rela Putri keluarga George disakiti seperti ini." Nafas Alden memburu, dia benar-benar tidak terima. Keluarga besarnya tidak pernah membuat Annisa sedih apalagi sampai mengeluarkan air mata, bisa-bisanya Rayyan malah membuat luka yang tidak akan mudah disembuhkan. “Mbak mohon sama kamu, rahasiakan semuanya dari Bunda dan Papa, tunggu waktu yang tepat dan kita bicara perlahan." Pinta Nisa memohon pada Adiknya. Alden tidak bisa melihat sang kakak menangis seperti ini, dia meraih tangan Nisa dan menariknya sampai masuk kedalam pelukannya. Pelukan sangat erat, pemuda itu meneteskan air matanya, dia bersumpah akan membuat Rayyan membayar atas luka yang sudah ditorehkan pada Nisa. “Alden, Mbak gak mandul, kamu percaya itukan?" Lirih Nisa. Alden menganggukkan kepalanya, dia sudah mengetahui semuanya, setelah mendengar cerita dari rekan kerjanya yang mengatakan Rayyan menikah lagi, Alden mencari tau tentang kehidupan rumah tangga kakaknya. Selama ini Alden tidak pernah ikut campur urusan Rumah tangga Nisa. Dia merasa sakit ketika mendengar perlakuan Ummi Fatimah pada Nisa, cacimaki wanita tua itu. Kakak nya di tuduh mandul. Padahal Nisa sehat. “Aku akan membuat wanita tua itu membayar mahal atas perlakuannya padamu, Mbak." Ucapnya pelan. Dia kembali memeluk kakaknya. Sementara itu tanpa mereka sadari sejak tadi ada beberapa pasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka. Air mata itu deras mengalir dan membasahi pipi seorang wanita tua yang masih nampak cantik. Hatinya hancur mendengar setiap kalimat yang Alden dan Nisa ucapkan. Sedangkan pria tua yang juga mendengarkan, mengepalkan kedua tangannya erat, sampai buku-buku kukunya memutih. Princess nya dilukai begitu dalam. Bukan hanya di madu, tetapi juga mendapatkan hinaan, sama saja ingin menghancurkan mental Nisa, mereka begitu tega, tidak sadar siapa dulu yang datang memohon untuk memperistri Nisa? Pria itu menggelengkan kepalanya. “Gasta, sejak kapan adikmu diperlakukan seperti itu?" Gasta menghela nafas panjang, matanya memerah melihat Nisa yang masih menangis dipelukan si bungsu. “Sejak awal menikah, Ummi Fatimah tidak pernah memperlakukan Nisa dengan baik, Pa." Jawabnya. Tuan George memejamkan matanya, jadi selama ini putrinya menderita? lalu senyum yang dia lihat itu hanya kepalsuan? “Keluarga tidak tau diri. Kalian akan membayar mahal atas kesakitan princess ku." “Pa, aku ingin mereka menyesal seumur hidup."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN