Bab 7

1013 Kata
Sejak malam itu, tidak ada satu keluarga Nisa yang menanyakan Rayyan, kedua orangtuanya pura-pura tidak mengetahui apapun, untuk sementara mengikuti apa yang Nisa rencanakan. “Nisa, kamu sakit, Nak?" Tanya Bunda Azha, melihat wajah putrinya yang pucat. Nisa menggelengkan kepalanya. “Perut Nisa rasanya kayak di aduk-aduk Bun, mual, pengen muntah." Bunda Azha terdiam untuk sesaat. “Nak, kamu sudah datang bulan?" Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya. “Belum, Bun, biasanya juga telat." Sudah beberapa bulan terakhir datang bulan Nisa sering telat. “Coba periksa, siapa tau kamu... " “Gak mungkin Bun." Sela Nisa, dia menggelengkan kepalanya, meskipun sehat tetapi Nisa sangat sulit untuk hamil, dia yakin hanya masuk angin. “Siapa tau, keluhanmu persis kayak Bunda waktu hamil kamu." Annisa tetap menggelengkan kepalanya, terakhir dia melakukan hubungan suami istri, sebelum pulang ke Indonesia. Bunda Azha menghela nafas panjang. Tidak memaksa jika Nisa memang tidak mau periksa, mungkin saja memang masuk angin. kalaupun memang hamil Alhamdulillah. Sudah lebih dari dua bulan Rayyan belum juga menyusul Nisa, dengan alasan masih banyak pekerjaan dan Warda yang baru saja melahirkan tidak bisa di tinggal begitu saja. Tetapi setiap hari Rayyan menyempatkan dirinya untuk menghubungi Nisa, pria itu menceritakan kelucuan sang bayi yang baru satu minggu lalu lahir ke dunia. Rayyan juga mengatakan jika dirinya sudah melakukan tes DNA, bayi berjenis kelamin laki-laki itu benar miliknya. Kebahagiaan pria itu terlihat jelas dari nada bicaranya, Nisa hanya mendengarkan dan menjawab seperlunya saja, entah sengaja atau memang Rayyan sudah tidak bisa menjaga perasaan Nisa, meminta Nisa untuk menerima bayi mungil itu sebagai putra mereka. Entah akhir-akhir ini Nisa sangat sensitif dan mudah sekali mengeluarkan air mata, Tiba-tiba saja hatinya terasa sakit mendengar obrolan suami dan madunya di sebrang sana. Panggilan masih terhubung, tetapi dua manusia itu seperti sengaja mengumbar kata-kata mesra. 📞 : Kamu tidur aja dulu, biar Mas yang jaga Arya. Annisa mengusap dadanya yang merasa sesak, mungkin ini alasan sang suami tidak kunjung menyusulnya. Wanita cantik itu merebahkan tubuhnya sembari memeluk guling sangat erat, cairan bening itu terus menetes, kenapa rasanya begitu sakit. Nisa tidak mengerti ada apa dengan dirinya, ketika masih satu atap, dia tampak tegar dan membentengi dirinya agar tidak menangis dan membuang cintanya pada Rayyan. Tetapi semenjak dirinya pulang kerumah orang tuanya, hatinya terus merasa sakit, kala sang suami menceritakan bagaimana manjanya Warda, lucunya sang bayi, benar-benar membuatnya hancur. Nisa sudah tidak tahan lagi, dia ingin mengakhiri semuanya, tetapi lagi dan lagi, bagaimana dengan Bundanya? haruskah dia terus mengorbankan dirinya? Lalu sampai kapan?. Nisa langsung menutup panggilan teleponnya, dia seperti orang bodoh yang hanya mendengarkan mereka bercanda. Rayyan benar-benar sudah melupakannya. ** Hari ini Nisa pergi ke rumah sakit, langkah kakinya terasa lemas setelah keluar dari ruangan dokter. Mengusap lembut perutnya yang datar. Entah bagaimana dia akan mengekspresikannya, bahagia atau sedih? “Mbak Nisa?" Annisa menoleh, kepalanya mendadak pusing dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Brugh “Astaghfirullah, Mbak Nisa!!" Seru seorang pria langsung menghampiri Annisa dan meminta bantuan. Annisa segera dibawa masuk kembali ke ruang rawat, tidak ada yang perlu di khawatirkan, Dokter mengatakan jika Annisa hanya kelelahan. Setelah beberapa menit, Nisa membuka matanya, disisi ranjangnya terkulas senyum kecil yang sangat manis dari pria tampan yang menolongnya tadi. “Mbak Nisa sudah bangun?" Nisa mengerjapkan matanya beberapa kali agar seluruh kesadarannya terkumpul. Nisa menoleh. “Bang Dirga?" Pria yang menolongnya adalah Dirga, yang tak lain teman masa kecilnya. Dirga ingin membantu Nisa duduk, tetapi dia urungkan niatnya itu, sebab Nisa wanita yang enggan bersentuhan jika bukan mahramnya. “Mbak Nisa, mau saya antar pulang?" Annisa menggelengkan kepalanya. “Tidak usah Bang, terimakasih sudah nolongin aku." “Sama-sama Mbak." Detik kemudian Dokter cantik masuk sembari mengembangkan senyumnya. “Alhamdulillah, Tuan, Janinnya baik-baik saja, lain kali lebih di perhatikan istrinya agar tidak kelelahan." Ucap sang Dokter. Dirga menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan terimakasih. Berharap semoga dia bisa mendapatkan wanita yang bisa menggantikan posisi Nisa di hatinya. Dirga menatap Nisa yang menundukkan kepalanya, terlihat cairan bening menetes, membuat pria itu heran. “Mbak Nisa kenapa?" Tanya Dirga. Nisa menggelengkan kepalanya. “Bang, tolong hubungi Papa dan Mas Gasta." Pintanya. Dirga tidak bertanya lagi, dia langsung menghubungi Gasta untuk segera datang ke rumah sakit. Tidak butuh waktu lama, kurang lebih lima belas menit, Tuan George dan kedua putranya tiba di rumah sakit, langsung menuju ruangan di mana Nisa berada. “Assalamualaikum, Princess Papa, kamu kenapa Nak? Kamu sakit apa? apanya yang sakit sayang?" Deretan pertanyaan Tuan George lontarkan pada sang Putri. Nisa meringis, seperti inilah keluarganya, selalu mengkhawatirkan dirinya. Alden dan Gasta pun memberikan pertanyaan yang sama. “Pelan-pelan tanyanya, Mbak Nisa baik-baik saja, Alhamdulillah adek bayinya juga sehat." Celetuk Dirga mewakili Nisa untuk menjawab pertanyaan tiga pria itu. “Hah? Bayi?" Seru ketiganya karena terkejut. Lalu Dirga juga menjelaskan dengan rinci sesuai perkataan Dokter, berapa usia kandungan Nisa, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan. “Intinya, jangan membuatnya banyak pikiran, Ibu hamil harus selalu bahagia gak boleh sedih karena itu bisa menganggu pertumbuhan bayi, sebisa mungkin buat terus bahagia agar bayinya tubuh dengan sehat." Lanjut Dirga. Bukan hanya Tuan George, Gasta dan Alden, tetapi juga Nisa yang melongo mendengar penjelasan Dirga yang begitu detail. Alden tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya, seharusnya Rayyan berada di sini dan banyak memahami seperti Dirga. Tetapi pria yang masih menjadi suami kakaknya itu tengah sibuk mengurus istri kedua dan bayinya. Nisa sengaja tidak memberitahu suaminya jika dia tengah mengandung, memberitahu juga percuma, jelas Rayyan tidak akan perduli ataupun buru-buru datang menemuinya. Dia akan memberitahu Rayyan kalau pria itu datang menemuinya. untuk sementara kebahagiaan ini hanya keluarganya saja yang menikmati. Nisa sendiri tidak menyangka jika dirinya benar-benar bisa mengandung, pantas saja dia merasa dirinya mengalami banyak perubahan. Ucap syukur selalu terucap dari bibir tipis Nisa, akhirnya dia bisa mematahkan hinaan Ummi Fatimah yang terus menghinanya mandul. Setelah selesai makan malam, ponsel Nisa kembali berbunyi tanda panggilan masuk, jelas nama yang tertera, Rayyan. Nisa tidak ingin menjawab panggilan itu, dia mengabaikannya, jika masih perduli Rayyan pasti akan menyusulnya, jika tidak ya sudah, dia akan membesar calon anaknya sendiri. Ponselnya terus berbunyi sampai beberapa kali, puluhan pesan masuk, Nisa sengaja tidak membacanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN