Bab 8

1003 Kata
Rayyan yang tidak bisa menghubungi istri tercintanya, tentu saja merasa khawatir dan bercampur kesal, sudah satu minggu Nisa tidak membalas ataupun menjawab teleponnya. Entah mau sampai kapan Nisa merajuk, apakah wanita itu tidak bisa mengerti keadaannya yang tengah sibuk harus mengurus bayi mungil yang baru saja di lahirkan oleh Warda? “Rayyan, ada apa Nak?" Tanya Ummi Fatimah yang melihat putra kesayangannya sejak tadi melamun. Rayyan menoleh memberikan senyum tipis. “Nisa tidak ada kabarnya, Ummi." Jawabnya pelan. Ummi Fatimah mencibikkan bibirnya, setiap mendengar nama Nisa membuat wanita tua itu kesal. Menghela nafas kasar dan berkata. “Ya bagus kalau tidak ada kabar, itu artinya dia sadar kalau posisinya sudah tidak penting lagi, lagian ngapain sih kamu masih mikirin wanita mandul itu? udah fokus sama Arya dan Warda." Rayyan menggelengkan kepalanya, Nisa cinta pertama nya tentu saja tidak akan semudah itu melepaskan wanita yang sudah dia dapatkan dengan susah payah, bahkan Rayyan rela bersujud di bawah kaki Tuan George hanya untuk mendapatkan restunya. “Ummi, aku mencintai Nisa" Ujar Rayyan. Cinta? benarkah Rayyan mencintai Nisa? apakah dengan mengkhianati wanita itu Rayyan masih pantas menyebutkan kata cinta? Sementara Ummi Fatimah mendengar kata cinta melengos kesal. “Cinta saja tidak cukup Rayyan, kalian butuh keturunan dan hanya Warda yang bisa memberikan itu. Sudahlah jangan perdulikan lagi Nisa, dia sangat mencintaimu nanti juga balik sendiri." Rayyan tidak langsung menjawab, dia mengangguk pelan, Ya, Nisa sangat mencintainya pasti wanita cantik itu akan kembali ke sisinya, kalau dalam satu minggu kedepan tidak ada kabar, Rayyan akan menjemputnya kembali. “Percaya sama Ummi, dia akan kembali lagi, sekarang kamu istirahat kasihan Warda sendirian di kamar nungguin anak kalian." Rayyan hanya mengangguk dan segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar Warda. Waktu terus berjalan, setiap hari Rayyan terus mencoba menghubungi istrinya, tetapi tetap sama tidak ada jawaban sama sekali. Satu minggu sudah berlalu, Rayyan semakin cemas dan khawatir, banyak kemungkinan yang terus berputar di kepalanya, mungkinkah Nisa benar-benar akan meninggalkannya? Atau benar yang Ummi Fatimah katakan, jika Nisa mulai mendekati pria lain? Mencoba membalas apa yang pernah dia lakukan? Rayyan menggelengkan kepalanya, tidak dia tidak bisa membiarkan itu semua terjadi, Annisa hanya miliknya. ** Baru saja Rayyan tiba di Mansion megah milik Tuan George, dia melihat Dirga turun dari mobil yang jelas Rayyan ketahui milik siapa itu, mobil kesayangan istri tercintanya. Rayyan menaikan sebelah alisnya, bagaimana bisa mobil kesayangan Nisa di pakai oleh Dirga? apakah selama tidak ada dirinya mereka berdua dekat kembali? Rayyan dan Dirga pernah satu fakultas, tentu saja mereka saling kenal. Rayyan juga tahu jika Dirga juga memiliki perasaan pada Nisa. Hanya saja Dirga memilih mundur, pria itu merasa dirinya tidak pantas untuk Nisa kalau dulu belum memiliki pekerjaan yang layak, lain halnya dengan sekarang sudah menjadi bos bengkel yang memiliki cabang di berbagai kota. “Dirga!" Panggil Rayyan. Merasa namanya di panggil, Dirga pun menoleh, sedikit terkejut melihat Rayyan yang menatapnya garang. “Assalamualaikum, Gus Rayyan." Sapa Dirga, dia memanggil Rayyan dengan sebutan Gus, karena mengetahui jika pria itu putra seorang kiai dan pemilik pesantren. “Waalaikumsalam, kenapa mobil Nisa ada padamu?" Tanya nya langsung tanpa basa-basi. Dirga tersenyum. “Mobil Mbak Nisa baru saja... " “Kalian mengkhianati ku?" Selanya tanpa mendengar penjelasan Dirga. Sedari dulu Rayyan masih sama sama, selalu terbakar api cemburu meskipun tau jika istrinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Dirga. Bahkan ini salah satu alasan kenapa dia jarang membawa Nisa berkunjung ke Mansion Tuan George. Sekarang Rayyan kembali ketar-ketir oleh keberadaan laki-laki itu. “Astaghfirullah, Gus, istigfar." Rayyan berdecak, entah kenapa dia benar-benar takut sekarang, melihat Dirga yang semakin tampan dan penampilannya meskipun sederhana tetapi sangat menarik. Matanya melirik bingkisan yang ada di tangan Dirga, dia sangat penasaran. Dengan gesit merebut kunci mobil istrinya dan itu membuat Dirga tersentak kaget. “Astaghfirullah." Gumamnya pelan. “Terimakasih, sudah mengantar mobil istriku, silahkan langsung pulang aja." Titahnya, tidak menunggu jawaban dari Dirga, Rayyan langsung pergi begitu saja. Rayyan melangkah cepat dengan rahang mengeras, dia masuk begitu saja, kamar istrinya ada di lantai dua, segera dia berjalan menuju kamar Nisa. Setelah membuka pintu kamar, dia melihat Nisa yang begitu cantik, sepertinya sang Istri baru selesai mandi, Rayyan menautkan kedua alisnya, entah dia yang memang sudah lama tidak bertemu atau memang Nisa yang sedikit agak berisi. “Mas.. " Nisa tidak menyangka jika Rayyan akan datang menyusulnya, sebelumnya pria itu sangat sibuk dengan Warda dan bayi mereka. “Kunci, Dirga baru saja mengantarkan mobilmu." Ucapnya datar. “Terimakasih" Jawab Nisa singkat, melihat ekspresi suaminya, Nisa sudah tau jika pria itu tengah terganggu dan jujur saja Nisa enggan untuk berdebat. “Kamu kembali berhubungan lagi dengan Dirga?" Tanya Rayyan menatap penuh wajah istrinya. Annisa tidak percaya dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Rayyan, seakan-akan dia pernah memiliki hubungan spesial dengan Dirga. “Mas Rayyan, Curiga?" “Aku butuh penjelasan, Nisa" Sela Rayyan. Nisa menggelengkan kepalanya, tidak ada yang perlu dijelaskan, karena memang dia tidak memiliki hubungan apapun, tentang mobilnya yang memang baru saja di servis di bengkel milik Dirga. Melihat diamnya Nisa, Rayyan memejamkan matanya, kedatangannya bukan untuk berdebat, hanya saja melihat Dirga kecemburuannya kembali muncul. “Aku mencintaimu Nisa, kamu adalah cinta pertamaku, dan Dirga juga pernah memiliki perasaan dengan mu, jadi tolong pahami aku sebagai suamimu, aku tidak pernah mencintai wanita lain selain.. " “Tetapi sekarang kamu sudah ada Warda, kalian sudah memiliki seorang putra, apakah aku masih ada di hatimu, Mas?" Ucapnya pelan. Rayyan mendekati istrinya, memeluk erat. “Dengar Nisa, sampai kapanpun kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, jangan memikirkan hal lain. Aku datang untuk membawamu kembali, kita pulang ke rumah impian kita dulu." Nisa menggelengkan kepalanya, rumah impian itu sudah tidak lagi menjadi mimpinya, sudah ada penghuni baru, semenjak hadirnya Warda, Nisa sudah seperti tidak memiliki mimpi lagi. Semua hilang bersama dengan pengkhianatan Rayyan. Rayyan melerai pelukannya, memegang kedua bahu istrinya. “Sepertinya kamu sangat bahagia jauh dariku, tubuhmu semakin berisi." Rayyan tersenyum manis. Nisa mengangguk, semenjak mengetahui dirinya tengah mengandung, tidak lagi mengambil pusing tentang Rayyan, tetapi pria itu malah kembali muncul. Luka itu seakan kembali terbuka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN