BAB 6 — BAYANGAN DI ALAGAR

2012 Kata
Malam jatuh dengan berat di atas langit Florence, menutupi istana keluarga Alagar dengan bayang-bayang kelam. Cahaya lampu kristal yang biasanya berkilau anggun kini hanya memantulkan dingin pada dinding marmer. Tidak ada pesta, tidak ada tamu bangsawan. Hanya keheningan—seolah seluruh rumah besar itu sedang berduka, meski tidak seorang pun berani menyebutnya begitu. Shapira Alagar duduk di kursi panjang berhias ukiran emas, gaun malamnya yang mewah tampak berkerut karena genggaman tangannya yang terlalu erat di sandaran. Wajahnya yang selalu disulam dengan lapisan make-up sempurna kini ditutupi raut amarah. Hazel. Nama itu terus berputar di kepalanya. Gadis itu. Boneka yang seharusnya mati dalam kekuasaan mereka, kini justru berada di tangan musuh terkuat keluarga: Aginos Falcone. Shapira menegakkan tubuhnya, nafasnya berat. “Bagaimana mungkin,” desisnya, suaranya serupa bisikan ular, “kita membiarkan barang hinaan itu jatuh ke tangan Falcone? Itu penghinaan… pada keluarga Alagar, pada darahku, bahkan pada kehormatanku.” Bagaskara, yang berdiri di sisi jendela, hanya diam. Kepalanya berat, bahunya menegang. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tahu Shapira sedang berada di ambang ledakan. “Diam saja?!” Shapira menghentakkan tangannya ke meja kecil di hadapannya. Kristal di atasnya berguncang. “Kau mendengar, Bagaskara? Dia sekarang berada di mansion Falcone, diperlakukan seperti… seperti permaisuri! Apa kau sadar itu berarti dunia melihat keluarga Alagar tidak lebih dari pedagang b***k yang gagal mempertahankan barang jualannya?” Bagaskara menghembuskan napas panjang, suaranya berat. “Shapira, cukup. Hazel bukan apa-apa—” “Bukan apa-apa?” Shapira memotong, matanya menyala penuh kebencian. “Justru karena dia bukan apa-apa, dia seharusnya tidak pernah sampai membuat kita tampak kalah. Lihat apa yang sudah terjadi: pesta pelelangan itu berakhir memalukan. Falcone menang bukan hanya dengan uang, tapi dengan harga diri kita!” Ia bangkit, gaunnya menyeret lantai marmer. Tatapannya menusuk, menusuk lebih dalam daripada pisau. “Dan kau biarkan saja! Kau, kepala keluarga Alagar, yang seharusnya menjaga kehormatan kita, justru membiarkan seorang anak haram itu menodai segalanya.” Bagaskara berbalik, wajahnya menegang. “Jangan ucapkan itu lagi. Dan ingat, setidaknya dengan dia bersama Falcone, perusahaan dan nama baik Alagar perlahan membaik. Ingat, dia terjual dengan harga fantastis untuk ukuran b***k seperti nya.” Shapira terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil—dingin, getir, penuh ejekan. “Kenapa? Karena dia putrimu? Atau karena kau tidak pernah bisa benar-benar melepaskan bayangan perempuan itu… Listra?” Nama itu jatuh seperti racun ke dalam ruangan. Bagaskara menegang, rahangnya mengeras, tatapannya berubah gelap. “Shapira.” Suaranya rendah, tapi bergetar dengan amarah. “Jangan sebut nama itu di hadapanku.” Namun Shapira justru tersenyum miring. Ia tahu ia telah menekan luka lama. “Kenapa tidak? Bukankah itu yang sebenarnya? Seluruh masalah ini berakar dari perempuan itu… dan anaknya. Dan kau—dengan kelemahanmu, dengan kebodohanmu—kau biarkan kita terjerat masa lalu yang seharusnya sudah mati dua puluh tahun lalu.” Keheningan tebal menggantung. --- Langkah tergesa memecah udara tegang. Zamora Hia Alagar, putri sulung mereka, masuk dengan gaun malam ketat berwarna merah darah. Rambut hitamnya bergelombang sempurna, wajahnya cantik dan angkuh. Ia tidak peduli pada ketegangan antara ayah dan ibunya. “Cukup, Mama.” Hia menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan gerakan anggun, seolah ia sedang memasuki panggung pertunjukan. “Jangan buang tenaga memaki Papa. Bukan itu yang penting sekarang.” Shapira menoleh, alisnya terangkat. “Dan apa menurutmu yang penting?” Hia tersenyum samar, matanya berkilat penuh misteri. “Falcone.” Nama itu bergema di udara. Shapira memicingkan mata, Bagaskara menoleh tajam. “Aginos Falcone,” Hia melanjutkan, suaranya rendah namun penuh daya tarik. “Pria itu… bukan sembarangan. Aku tahu kalian marah karena Hazel ada di tangannya. Tapi justru itu peluang.” “Peluang?” Shapira mendesis, menatap putrinya dengan tajam. “Kau bicara seperti orang gila. Hazel mempermalukan kita. Apa yang bisa kau lihat sebagai peluang dari penghinaan itu?” Hia tersenyum lebar, penuh keangkuhan seorang ratu muda. “Aginos bukan tertarik pada Hazel. Percayalah, pria seperti dia tidak akan lama bermain dengan barang bekas. Yang dia inginkan hanyalah kuasa. Dan siapa yang lebih pantas berdiri di sampingnya kalau bukan aku? Zamora Hia Alagar—putri sulung keluarga Alagar.” Bagaskara menggeleng perlahan, suaranya datar. “Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan. Aginos adalah—” “—adalah pria yang tepat untukku,” potong Hia cepat. Tatapannya membara. “Aku melihatnya malam itu. Ketika dia menatap Hazel, sejujurnya aku tahu dia hanya sedang menguji kita. Tapi tatapannya… saat berpapasan dengan mataku, aku tahu. Dia bukan pria untuk b***k seperti Hazel. Dia pria untukku.” Shapira terdiam, wajahnya menegang. Sebuah ketidaknyamanan merayapi dirinya. “Jangan katakan… kau benar-benar menginginkan pria itu?” Hia menyandarkan tubuhnya, tersenyum puas. “Kenapa tidak? Dengan bersamanya, kita bisa menundukkan Falcone dari dalam. Dan Hazel…” Hia terkekeh kecil, nada suaranya seperti belati. “Hazel akan kembali menjadi apa adanya. Bayangan. Sampah. Bukan tandingan bagiku.” Bagaskara menghela napas berat, menatap anak dan istrinya. Ia tahu Shapira terbakar cemburu, dan Hia terbakar ambisi. Dua perempuan ini… satu rumah, satu darah, tapi keduanya sama-sama beracun. Sementara itu, di kejauhan, nama Hazel terus bergema—gadis yang mereka sebut b***k, yang kini perlahan mengubah jalannya takdir. *** Hia berdiri di depan cermin besar kamarnya, jendela kaca tinggi di belakangnya memperlihatkan langit Florence yang berbalut awan gelap. Ia menatap bayangan dirinya: gaun merah darah yang melekat pada tubuhnya, bibir merah menyala, mata penuh percaya diri. Tapi di balik tatapan itu, ada api lain yang jarang ditunjukkannya—api keinginan yang membara. Aginos Falcone. Nama itu seperti racun manis. Sejak malam pelelangan, tatapan pria itu terus menghantui pikirannya. Tatapan dingin, berwibawa, dan penuh ancaman. Tatapan yang sama sekali berbeda dari para bangsawan yang hanya tahu bersikap manis atau mengagungkan kecantikan dirinya. Pria itu tidak menyanjung. Tidak menunduk. Tidak terpikat. Dia berdiri tegak, seperti raja di antara raja. Hia mendengus, menyusuri bibirnya dengan jari. “Hazel bodoh. Bahkan kalau dia dipuja, itu hanya sementara. Aginos tidak akan jatuh pada perempuan yang penuh luka seperti dia.” Ia tertawa kecil, getir. Bagi Hia, Hazel hanyalah bayangan suram di rumah ini—gadis lemah yang selalu diam saat dipukul, hanya bisa menunduk saat direndahkan. Bagaimana mungkin pria sebesar Aginos melihat nilai dalam diri gadis itu? Namun, ada satu hal yang membuat Hia gelisah: fakta bahwa Aginos benar-benar membawanya pergi malam itu. Fakta bahwa ia tidak hanya membeli Hazel sebagai permainan, tetapi membawanya ke mansion Falcone. “Apa yang kau lihat padanya?” Hia bergumam lirih pada bayangan cermin. “Kenapa bukan aku?” Hia berbalik, berjalan ke meja riasnya. Tangannya mengusap kalung berlian di lehernya. Ia tahu ia cantik. Ia tahu ia berkuasa sebagai putri sulung keluarga Alagar. Semua pria di Eropa tahu siapa dirinya. Lalu kenapa Aginos memilih boneka rusak itu, bukan dirinya? Pintu kamar terbuka pelan. Shapira masuk tanpa mengetuk, wajahnya masih menyimpan sisa amarah dari perdebatan dengan Bagaskara. Ia memperhatikan putrinya sebentar, lalu berkata dingin: “Jangan bilang kau sungguh-sungguh tergila-gila pada pria itu, Hia.” Hia tersenyum samar, menoleh perlahan. “Dan kalau iya? Apa salahnya, Mama? Bukankah pria seperti Aginos Falcone justru yang pantas untukku?” Shapira mendekat, gaunnya menyeret lantai. Tatapannya penuh evaluasi. “Aginos bukan pria biasa. Kau bisa hancur kalau salah langkah.” “Justru itu yang membuatku menginginkannya.” Hia menjawab cepat, matanya berbinar. “Aku tidak mau lelaki lemah yang hanya bisa tunduk pada kecantikanku. Aku ingin pria yang bisa menaklukkanku—atau yang akan kutaklukkan.” Shapira mendesah pendek, menatap putrinya dengan ragu. Ada rasa kagum, tapi juga kecemasan. “Kau bermain api, Hia. Kau tidak tahu dinginnya Falcone. Dia bisa mematahkanmu dalam satu tatapan.” Hia terkekeh kecil, penuh keangkuhan. “Kalau dia bisa mematahkan, maka aku akan memastikan dia yang pertama kali goyah karenaku. Mama, percayalah… Aginos Falcone bukan untuk Hazel. Dia untukku. Dan aku akan membuatnya sadar.” --- Malam itu, Hia tidak tidur. Ia keluar diam-diam dari mansion, mengendarai mobil sport hitamnya menyusuri jalanan kota yang dingin. Tujuannya hanya satu: melihat dari jauh mansion Falcone. Mobilnya berhenti di kejauhan, lampu dimatikan. Dari balik kaca, ia bisa melihat bangunan besar itu, berdiri gagah dengan penjagaan ketat. Lampu-lampu taman berkelip seperti bintang, tapi baginya itu bukan pemandangan indah. Itu tantangan. “Di sanalah kau, Hazel,” bisiknya. “Menikmati hidup yang seharusnya milikku. Tapi kau hanya sementara. Aku akan datang, dan saat itu Aginos akan memilihku.” Ia meraih ponselnya, mengetik pesan pada seseorang yang sudah lama menjadi tangan kanannya di dunia bawah tanah. “Kumpulkan semua informasi tentang Aginos Falcone. Aku ingin tahu kelemahannya. Semua.” Pesan terkirim. Hia menyandarkan tubuhnya, tersenyum puas. “Kalau cinta tidak datang padaku, aku akan mencurinya. Hazel akan menyesal pernah menginjakkan kaki di dunia yang seharusnya milikku.” --- Keesokan paginya, di ruang makan besar Alagar, Hia duduk dengan santai sambil menyeruput kopi. Shapira datang dengan wajah masih kusut, sementara Bagaskara sudah pergi lebih awal untuk urusan bisnis. Shapira menatap putrinya lama, lalu bertanya pelan, “Kau sungguh yakin tentang ini, Hia?” Hia meletakkan cangkirnya dengan elegan, tersenyum. “Mama, dunia ini tidak bergerak karena kebenaran. Dunia ini bergerak karena kekuasaan… dan obsesi. Hazel boleh menjadi b***k yang melarikan diri ke sisi musuh. Tapi aku—aku akan menjadi ratu yang duduk di sisi musuh, lalu menjadikannya sekutu.” Shapira diam. Untuk pertama kalinya, ia melihat dalam diri putrinya bukan hanya kecantikan, tetapi ambisi yang mirip dirinya sendiri. Dan ia tahu, permainan baru telah dimulai. *** Ruang kerja Bagaskara Alagar dipenuhi aroma tembakau dari cerutu yang baru separuh terbakar. Dindingnya berlapis kayu gelap dengan rak penuh buku tebal, peta-peta bisnis, dan grafik perdagangan yang menandakan posisinya bukan hanya sebagai bangsawan, melainkan raja di balik layar. Shapira masuk perlahan, mengenakan gaun hijau zamrud. Hia mengikutinya dari belakang, langkahnya ringan tapi sorot matanya tajam. “Bagaskara,” suara Shapira tenang tapi menusuk. “Kita harus bicara tentang masa depan. Tentang Aginos Falcone… dan tentang anak kita.” Bagaskara menoleh sebentar, lalu kembali menyalakan cerutunya. “Aku sudah muak dengan nama itu. Setiap kali disebut, rumah ini terasa seperti kehilangan wibawanya. Dia membeli b***k hina, dan kalian sibuk mempermasalahkannya.” Hia menyela, nada suaranya berani. “Dia bukan sekadar membeli, Ayah. Dia memperlihatkan kuasanya di depan semua bangsawan. Itu penghinaan.” Bagaskara menatap putrinya. Tatapan keras, seperti baja yang ditempa. “Dan kau ingin apa, Hia? Menjadi mainannya juga?” Senyum Hia samar, tapi penuh keberanian. “Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin menjadi satu-satunya yang bisa menandingi kekuasaan Falcone.” Shapira melangkah maju, duduk di kursi seberang Bagaskara. “Jangan salah paham. Anak kita bukan sekadar tergila-gila. Aku melihat peluang. Aginos mungkin kuat, tapi ia juga manusia. Dan setiap manusia punya celah. Jika Hia bisa menembus hatinya, itu akan menjadi pintu bagi keluarga ini.” Bagaskara menghela napas, menatap asap yang melingkar ke udara. “Kau bermain dengan api, Shapira. Kau mendorong putri kita pada pria yang bisa menghancurkannya dalam satu malam.” “Justru karena itu,” Shapira balas cepat, suaranya penuh keyakinan. “Seorang wanita hanya bisa mengendalikan dua hal dalam hidup seorang pria: nafsunya dan ambisinya. Jika Hia mengikat Aginos dengan keduanya, maka Falcone bisa kita jinakkan.” Hia tersenyum puas, mengusap rambut panjangnya. “Ayah, aku bukan gadis kecil lagi. Aku tahu apa yang kuinginkan. Dan kali ini… aku ingin Aginos.” Bagaskara menatap kedua perempuan itu lama. Ada kebencian, ada keraguan, tapi juga rasa hormat. Mereka bicara tentang perang tanpa pedang, tentang penaklukan yang lebih berbahaya daripada senjata. “Baik,” akhirnya Bagaskara berkata, suaranya berat. “Tapi jangan pernah lupa, Falcone bukan pria biasa. Jika kau gagal, Hia, kau bukan hanya kehilangan harga diri. Kau akan kehilangan segalanya.” Hia menunduk sedikit, tapi matanya berkilat penuh obsesi. “Aku tidak akan gagal, Ayah.” Shapira menyandarkan tubuhnya, puas dengan keputusan itu. Namun di dalam pikirannya, ia sudah menyusun lapisan rencana lain: mengawasi, memanipulasi, bahkan mengorbankan Hia jika perlu. Sebab bagi Shapira, yang terpenting bukan cinta putrinya, melainkan kedudukan keluarga Alagar tetap berada di puncak. Di luar ruangan, hujan deras mengguyur kota. Seolah langit sendiri tahu bahwa malam itu, konspirasi baru telah lahir. Intrik, cinta, dan obsesi—semua akan bertemu di satu nama: Aginos Falcone.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN