Cahaya tipis mentari menembus tirai tebal kamar besar itu. Hazel membuka mata perlahan, rasa nyeri menyengat di setiap ototnya. Tubuhnya dipenuhi lebam akibat latihan kemarin bersama Marco. Ia berguling pelan, menyentuh lengan yang biru keunguan. Seketika perih merambat, namun bukannya meringis, bibirnya justru mengulas senyum getir.
“Aku masih hidup,” gumamnya lirih, seolah kalimat itu saja sudah menjadi kemenangan kecil.
Hazel bangkit dengan susah payah, melangkah menuju meja rias di sudut ruangan. Cermin besar memantulkan sosoknya—wajah pucat dengan garis tipis luka di pelipis, rambut acak-acakan, dan tatapan mata yang tak lagi sama seperti sebelum malam lelang itu. Ia menegakkan bahu, menyibakkan rambut yang jatuh ke dahi.
Tidak ada kata-kata penyemangat, tidak ada gumaman batin panjang. Hanya gerakan sederhana: menarik napas dalam, menahan sakit, lalu meletakkan tangannya di meja rias. Ia tahu hari ini akan lebih berat.
Ketukan pelan di pintu memecah kesunyian. Seorang pelayan wanita masuk, menunduk sopan.
“Nona Hazel, Tuan Aginos meminta Anda bergabung di aula sarapan bersama keluarga Falcone.”
Hazel mengangguk, tanpa banyak kata. Ia mengikuti pelayan itu melewati lorong panjang yang berhiaskan lukisan tua dan patung marmer. Setiap langkahnya menggema, seolah mengingatkannya bahwa ia berjalan ke dalam sarang serigala.
---
Aula Sarapan Falcone pintu ganda dari kayu ek terbuka. Aroma kopi pekat dan roti panggang menyambutnya. Aula itu luas, dengan meja panjang berlapis taplak putih, penuh piring porselen dan peralatan makan berkilau. Di ujung meja duduk Aginos, santai namun aura kekuasaan memancar jelas dari sosoknya.
Di sisi lain, dua orang sudah menunggu.
Seorang pria paruh baya dengan rahang keras, rambut sebagian memutih, sorot matanya tajam menusuk—Dante Xavier, paman Aginos.
Di sampingnya, seorang wanita muda dengan gaun elegan, rambut hitam panjang terikat rapi, ekspresi dingin dan tatapan sinis yang tidak disembunyikan—Elena Xaviera, sepupu Aginos. Hanya mereka berdua yang berada di sisi Aginos, sebab keduanya dari keluarga mendiang sang ibunda.
Hazel melangkah masuk, menunduk sopan.
“Selamat pagi.”
Dante mendengus pelan, tatapannya seperti pisau.
“Jadi ini dia? ‘Tamu’ baru yang kau bawa dari lelang itu, Aginos?”
Aginos menegakkan tubuhnya sedikit, menuang kopi ke cangkir.
“Bukan tamu, paman. Hanya milikku.”
Kata itu membuat Hazel menegang, namun ia tak memberi reaksi lebih. Ia berjalan ke kursi yang ditarikkan pelayan untuknya, lalu duduk perlahan.
Elena bersuara, nada suaranya getir.
“Tak kusangka kau akan membawa mainan seperti ini ke meja keluarga. Kau biasanya lebih... selektif, kak Aginos.”
Hazel menoleh singkat, menatap Elena dengan tenang. Ia bisa saja menjawab pedas, namun menahan diri. Ia tahu, satu kata salah bisa menjadi bumerang.
Dante menyilangkan tangan, matanya masih terpaku pada Hazel.
“Apa kau tahu siapa kami, gadis kecil?” tanyanya, nada rendah namun penuh tekanan.
Hazel mengangkat dagu sedikit. “Keluarga Falcone. Nama yang ditakuti di hampir seluruh Eropa.”
Senyum tipis muncul di wajah Dante, tapi matanya tetap keras.
“Jawaban pintar. Tapi tahu saja tidak cukup. Kau duduk di meja ini karena Aginos, bukan karena kau layak. Jangan kira keberuntungan itu akan berlangsung lama.”
Hazel menahan napas, jemarinya mengepal di bawah meja. Suasana terasa menyesakkan.
Aginos akhirnya berbicara, nadanya santai namun penuh otoritas.
“Paman, tidak perlu membuang waktu dengan intimidasi. Jika dia lemah, Marco akan membuangnya lebih cepat dari yang kita duga. Jika dia kuat... mungkin justru akan berguna.”
Elena menghela napas pendek, lalu meneguk kopinya.
“Kita lihat saja. Aku masih menganggapnya beban.”
Sarapan berlangsung dalam ketegangan. Pisau mengiris daging, cangkir beradu pelan, tapi setiap kata yang diucapkan seperti ujung belati. Hazel makan dengan sopan, tanpa bicara lebih. Di balik diamnya, ia mencatat setiap tatapan, setiap nada suara, setiap celah yang mungkin suatu hari bisa ia gunakan.
---
Begitu meja mulai kosong, Aginos berdiri.
“Hazel. Ikut aku.”
Hazel bangkit, mengikuti langkah panjang pria itu melewati lorong. Suara langkah mereka bergema, pelan tapi berat. Mereka tiba di sebuah ruangan dengan dinding kaca besar, menghadap taman belakang mansion. Ruang kerja Aginos.
Aginos duduk di kursi kulit hitam, menyilangkan kaki. Tatapannya menusuk Hazel, tak berkedip.
“Bagaimana rasanya duduk di meja keluargaku? Ya, walau hanya mereka.”
Hazel mengangkat alis, menahan nada sinis.
“Seperti duduk di meja para serigala. Aku tahu tempatku—hanya umpan.”
Aginos terkekeh, tapi tatapannya tak melunak.
“Setidaknya kau cukup sadar diri.”
Hazel mencondongkan tubuh sedikit, menatap langsung ke matanya.
“Bukankah aku hanya budakmu?”
Keheningan menggantung sesaat.
Aginos tidak tertawa. Ia tak terkejut. Hanya menatap Hazel lebih tajam, lalu menjawab dengan dingin, nada suaranya membuat ruangan serasa membeku.
“b***k yang tidak berguna akan segera dibuang. Jadi perbaiki dirimu jika masih ingin bernapas di bawah atapku.”
Hazel menahan napas, d**a naik-turun cepat. Bukan karena takut, melainkan karena ucapannya begitu telak, seolah menampar kesadarannya.
Aginos bersandar, jari-jarinya mengetuk meja kayu.
“Mulai hari ini, kau akan menjalani ujian sebenarnya. Marco akan menangani mu lebih keras. Aku ingin tahu... apakah kau bertahan, atau aku harus menguburmu. b***k juga perlu berguna bagi tuannya.”
***
Hazel berdiri kaku di depan meja Aginos, ucapannya barusan masih bergema di telinganya. b***k yang tidak berguna akan segera dibuang. Kata-kata itu seperti palu dingin yang menghantam kesadarannya. Namun ia tak menunjukkan gemetar, tak memberi sedikit pun kepuasan pada pria itu.
Aginos bangkit perlahan, meraih mantel panjangnya.
“Aku tidak punya waktu untuk membuang energi pada barang yang rapuh. Jika kau ingin tetap di sini, buktikan. Marco sudah menunggu.”
Tanpa menoleh, ia berjalan keluar. Hazel mengikutinya dalam diam, langkah-langkah mereka menyatu di lorong panjang mansion itu.
---
Menuju Lapangan Latihan udara luar menusuk kulit Hazel ketika pintu belakang terbuka. Lapangan berkerikil terbentang luas, dikelilingi pagar besi tinggi dan beberapa bangunan kecil untuk penyimpanan senjata. Di tengahnya berdiri Marco, tubuh besar dengan lengan berotot, tangan terlipat di d**a. Tatapannya langsung menusuk Hazel begitu gadis itu muncul.
“Jadi burung kecil ini kembali lagi,” ujarnya dengan senyum mengejek.
“Kemarin kau hampir roboh hanya karena beberapa pukulan. Hari ini, kita lihat apakah kau punya tulang yang cukup kuat untuk tetap tegak.”
Hazel menahan diri untuk tidak melirik Aginos yang berdiri tak jauh dari sana, mengamati dengan tenang.
Marco melemparkan sesuatu ke arahnya—sebuah pisau kayu tumpul, berat tapi cukup untuk meninggalkan luka jika digunakan dengan keras. Hazel hampir gagal menangkapnya, tapi berhasil menggenggam gagang kayu itu dengan kedua tangan.
“Pegang baik-baik,” Marco mendengus. “Karena dengan ini, kau akan tahu betapa cepatnya seseorang bisa kehilangan nyawa.”
---
Awal Pertarungan Marco bergerak duluan. Tubuh besarnya melesat dengan kecepatan tak terduga, mengayunkan pisau kayu ke arah Hazel. Gadis itu terhuyung ke belakang, nyaris jatuh, lalu terjungkal ke tanah berkerikil. Sakit merambat di punggungnya, tapi ia langsung bangkit lagi.
Tawa kasar terdengar dari beberapa pria Falcone yang ikut menyaksikan di pinggir lapangan.
“Lihat itu, bahkan sebelum mulai dia sudah jatuh.”
“Mainan baru Tuan Aginos ternyata lebih rapuh dari kelihatannya.”
Hazel menggenggam pisau kayu erat-erat. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut—melainkan karena tubuhnya menolak gerakan kasar setelah luka-luka kemarin.
Marco menyerang lagi. Hazel menunduk, pisau kayu di tangannya meleset, tak mengenai apa pun. Tubuhnya kembali terbanting, lututnya tergores kerikil. Darah segar mengalir.
Marco mendekat, menunduk hingga wajahnya hampir sejajar dengan Hazel yang terengah di tanah.
“Lihat dirimu. Kau bahkan tak pantas disebut murid. Kau hanya beban. Sampah.”
Hazel menatapnya, mata abu-abu itu tak menunjukkan keputusasaan. Ia bangkit perlahan, menegakkan tubuh meski kakinya gemetar.
“Sampah pun bisa melukai jika diinjak terlalu keras.”
Marco terdiam sejenak, lalu tertawa keras. “Kau punya mulut yang tajam. Mari kita lihat apakah tajammu lebih dari sekadar kata-kata.”
---
Latihan berubah menjadi siksaan. Marco menyerang terus-menerus, setiap ayunan pisau kayunya mengenai bahu, lengan, atau nyaris mengenai wajah Hazel. Gadis itu terus jatuh, bangkit, jatuh lagi. Nafasnya semakin berat, keringat bercampur darah menetes di pelipisnya.
Namun setiap kali tubuhnya jatuh, ia selalu memaksa dirinya berdiri kembali. Tidak ada keluhan, tidak ada rengekan. Hanya tatapan membara yang mulai menarik perhatian sebagian penonton.
“Dia gila... lihat, dia bangkit lagi.”
“Seharusnya sudah menyerah dari tadi.”
Marco mulai kehilangan kesabarannya. Ia mengayunkan pisau kayu lebih keras, mencoba menjatuhkan Hazel sekali untuk terakhir kalinya. Tapi kali ini sesuatu terjadi—
Pisau kayu meluncur cepat ke arah Hazel. Gadis itu terpojok, tak ada ruang untuk menghindar. Namun entah dari mana, tangannya terangkat spontan. Pisau kayu milik Marco berhasil ia tangkis dengan senjatanya sendiri. Benturan kayu mengeluarkan suara keras.
Hazel terhuyung, tapi tetap berdiri. Matanya membulat, tak percaya ia berhasil menahan serangan itu.
Keheningan menyelimuti lapangan. Bahkan para penonton terdiam.
Marco menatap Hazel, wajahnya berubah muram. Perlahan ia menyeringai.
“Jadi kau bukan sekadar bangkai berjalan... Kau punya insting.”
Hazel menahan rasa sakit di lengannya yang berdenyut, namun tidak menunduk. Tatapannya lurus, penuh tekad.
Dari kejauhan, Aginos berdiri dengan tangan disilangkan di d**a. Tak ada tepuk tangan, tak ada pujian. Hanya senyum tipis yang sekilas terukir di wajahnya, nyaris tak terlihat.
---
Hazel akhirnya roboh, tubuhnya tidak kuat lagi. Marco menghentikan serangan, menendang pisau kayu dari tangannya.
“Cukup untuk hari ini,” katanya, meski tatapannya masih menilai Hazel dengan serius.
Dua pelayan datang untuk membantunya berdiri, tapi Hazel menepis tangan mereka. Dengan tertatih, ia berdiri sendiri, lalu berjalan keluar lapangan tanpa berkata apa pun.
Langkahnya goyah, namun setiap ayunan kakinya membawa satu pesan. Ia tidak akan menyerah, tidak peduli berapa kali jatuh.
***
Langkah Hazel menyeret ketika ia kembali memasuki mansion. Nafasnya masih memburu, tubuhnya penuh memar dan goresan. Setiap kali menapakkan kaki, rasa perih dari luka terbuka membuatnya ingin jatuh. Tapi ia menolak menunjukkan kelemahan di hadapan siapapun.
Koridor panjang terasa sunyi. Hanya suara denting sepatu yang sesekali menggema.
Sesampainya di kamar, Hazel hampir tak mampu mengangkat tangannya untuk membuka pintu. Pintu terbuka sendiri—Elena berdiri di sana, matanya melebar melihat kondisi Hazel.
“Dio mio...” Elena buru-buru meraih bahunya. “Tubuhmu penuh luka. Kenapa kau dipaksa seperti ini?”
Hazel menepis halus. “Aku... masih hidup. Itu cukup.”
Elena mendesah, lalu menggiringnya masuk. Di meja kecil, ia sudah menyiapkan mangkuk air hangat dan kain bersih. Dengan telaten, Elena membersihkan luka-luka di lengan Hazel, menempelkan ramuan herbal agar perihnya berkurang.
Walau dia tidak menyukai keberadaan Hazel, dia masih punya hati nurani. Dia hanya tidak ingin kakak sepupunya terjebak dalam permainannya sendiri.
Melihat kecantikan Hazel bagai permata yang baru ditemukan, memancarkan kilau yang tak tertandingi di antara bebatuan biasa. Matanya, sehijau hutan yang disinari mentari pagi, menyimpan kedalaman misteri yang membuat siapapun ingin menyelaminya. Kulitnya selembut sutra, dihiasi rona merah muda alami yang membuatnya tampak segar dan mempesona. Bibirnya, bagai buah ceri ranum, mengundang senyum yang mampu meluluhkan hati siapapun yang memandangnya.
Rambutnya, sekelam malam bertabur bintang, tergerai indah menutupi bahunya, menambah kesan anggun dan memikat. Setiap gerakannya bagai tarian yang mempesona, memancarkan aura percaya diri dan karisma yang tak tertahankan. Hazel bukan hanya cantik, ia mempesona. Kecantikannya bagai permata langka yang membuat siapapun yang melihatnya terpesona dan tak mampu mengalihkan pandangan.
Dalam keadaan seperti ini pun, kecantikannya semakin bersinar.
Hazel menggertakkan gigi setiap kali kain menyentuh kulitnya yang robek. Tapi tidak ada air mata. Hanya diam yang membeku di bibirnya.
“Bagaimana kau bisa bertahan?” Elena berbisik, suaranya nyaris seperti doa.
Hazel menatap lantai, lalu menjawab lirih, “Karena aku tidak ingin mereka menang.”
Hazel berbaring di ranjang empuk, tapi matanya tak terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Hia Alagar muncul—tertawa saat menyiksanya, menekan kepalanya ke lantai dingin, merenggut segala martabatnya.
Ia terbangun mendadak, napasnya memburu. Peluh dingin membasahi pelipis.
Ini bukan mansion Alagar... ini tempat lain... bisiknya pada diri sendiri.
Namun tubuhnya tetap gemetar, seolah ingatan itu nyata.
***
Keesokan paginya, Hazel mencoba berjalan keluar kamar meski tubuhnya belum pulih. Di lorong ia berpapasan dengan Dante.
“Kau benar-benar keras kepala,” katanya sambil melirik memar di wajah Hazel.
“Jika aku berhenti, maka aku mati,” jawab Hazel datar.
Dante mengangkat alis. “Kau tidak takut padaku?”
Hazel menatap lurus. “Takutku sudah habis di Alagar. Tidak ada yang lebih menakutkan dari mereka.”
Dante terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti sekarang kenapa Aginos tidak membuangmu.”
Siang hari, Hazel dipanggil ke ruang kerja Aginos lagi. Lelaki itu berdiri di balik meja besar, sedang membaca dokumen.
Tatapannya singkat, namun menusuk.
“Kau bertahan lebih lama dari yang kukira.”
Hazel membalas tanpa ragu. “Aku bukan b***k yang mudah patah.”
Senyum tipis muncul di wajah Aginos, samar, nyaris tak terlihat. “Jangan salah paham. Kau belum pantas disebut kuat. Tapi... aku mulai percaya kau tidak sepenuhnya sia-sia.”
Hazel menahan diri untuk tidak menunduk. Kalimat itu bukan pujian, tapi ia tahu—untuk pertama kalinya, Aginos mengakuinya sedikit.
***
Malam turun. Dari balkon lantai atas, Aginos berdiri menatap halaman gelap, ditemani Dante yang bersandar di pagar besi.
“Dia bertahan,” kata Dante, suaranya tenang.
“Untuk seorang yang seharusnya hanya tumbal, itu mengganggu.”
Aginos tetap menatap jauh. “Dia mengingatkanku pada sesuatu... entahlah seperti ada luka lama yang tak pernah sembuh.”
Dante meliriknya. “Kau takut, Aginos?”
Aginos terdiam. Tatapannya tajam, tapi ada keretakan samar di baliknya.
“Aku tidak pernah takut. Tapi jika dia terus hidup... dia akan menjadi api. Api yang bisa membakar kita semua, atau justru membakar musuh kita.”
Dante tersenyum tipis. “Lalu, apa yang akan kau pilih? Hanya satu pesanku, jangan terlalu lama bermain atau kau sendiri yang jatuh dalam permainan. kalau dia hanya b***k, perlakukan seperti b***k yang seharusnya jangan membuatnya lupa diri.”
Aginos tidak menjawab. Angin malam berhembus, membawa kesunyian yang lebih berat daripada kata-kata.
Dia berbeda. Entah kenapa, aku…