Bab 1. Salah Kamar
"Ayo dong, Van Van! Masa lu cuma minum jus jeruk doang dari tadi. Gak asyik banget!" teriak seorang rekan sekantor Vanya dari seberang meja, suaranya bersaing keras dengan musik yang memekakkan telinga.
Seorang pria dari divisi pemasaran yang mulai terpengaruh alkohol ikut mencondongkan tubuh, menyodorkan sebuah gelas sloki berisi cairan bening, aromanya menyengat. "Tahu nih si Vanya norak. Cobain dikit minuman napa. Wine, anget di tenggorokan. Aaah, legaaa!"
Dentuman bas dari sound system klub malam menghentak hingga ke dalam rongga d**a seorang gadis bernama Vanya Audrey yang membuatnya tidak nyaman.
Vanya memilih duduk di pojok sofa booth, merapatkan tubuhnya sembari memeluk tas di d**a.
Malam ini, malam pertamanya ia datang ke tempat yang paling dihindarinya. Kalau bukan karena paksaan Aretta mana mungkin ia ada di sini.
Vanya makin terasing—salah kostum, salah tempat dan menyesali keputusannya.
"Enggak, makasih. Gue gak minum alkohol," tolak gadis yang baru menginjak dia puluh dua tahun ini, setengah berteriak.
Sahabatnya—Aretta Prameswari menangkap gelagat tidak nyaman segera menaruh gelasnya sendiri dan menengahi. "Jangan jorokin sahabat gue dong. Seneng-seneng bae kita mah di mari!"
"Ah, cemen lu! Minum dikit doang nggak bikin dia mabok kali!" sahut yang lain, disambut tawa riuh yang terdengar seperti ejekan di telinga Vanya.
Sorakan "Minum! Minum!" mulai bersahut-sahutan dari rekan kantornya yang lain, menciptakan tekanan yang menyudutkan. Saat gelas sloki itu dipaksa mendekat hingga menyentuh bibir, rasa mual langsung bergejolak di ulu hati Vanya.
"Gue bilang enggak ya enggak!" Vanya menyentak tegak, berdiri dengan wajah yang mendadak pias.
Begitupun dengan Aretta, ia langsung menyambar gelas sloki tersebut dari tangan rekan kerjanya. "Sini! Biar gue yang minum. Udah dibilang jangan maksa si Van Van!"
"Gue ke toilet dulu, Ta," pamit Vanya lirih. Tanpa menunggu persetujuan Aretta, ia membalikkan badan dan membelah kerumunan.
Langkah kaki Vanya tergesa-gesa menyusuri koridor yang remang. Kepalanya pening akibat kebisingan musik membuat fokusnya buyar, hingga ia tak sadar telah salah mengambil kelokan. Alih-alih menemukan toilet umum, ia justru masuk ke koridor area VIP yang dilapisi karpet beludru tebal, di mana suasana senyap dan eksklusif.
Pandangan Vanya tertuju pada sebuah pintu kayu yang tampak sedikit renggang. Berpikir bahwa itu adalah restroom VIP yang sepi, ia mendorong pelan lalu menyelinap masuk demi menghindari kejaran teman-temannya.
"Uhh, akhirnya aman..." Vanya bersandar pada daun pintu yang kembali tertutup rapat, memejamkan mata seraya mengembuskan napas.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Saat kelopak matanya terbuka, Vanya menyadari ada yang salah.
Ruangan itu ternyata kamar suite VVIP dengan pencahayaan temaram. Udara di d******i oleh aroma maskulin mahal bercampur alkohol.
Suasananya sunyi, hanya ada suara helaan napas yang berat dan serak dari arah ranjang.
Vanya menoleh perlahan, jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang duduk di tepi ranjang dengan posisi membungkuk. Kedua telapak tangannya mencengkeram pinggiran kasur hingga urat-urat di punggung tangan menonjol keluar.
Kevin Aldrich. CEO muda, tampan, sekaligus pemilik tertinggi dari Aldrich Corp—tempat Vanya bekerja. Malam ini usianya genap dua puluh enam tahun.
Akan tetapi, sosok yang ada di depan Vanya kali ini tidak terlihat seperti bosnya yang berwibawa di kantor.
Dasi hitamnya terlepas di lantai, kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka acak-acakan, memperlihatkan bidang d**a yang naik turun dengan cepat dan tidak stabil. Kulit di sekujur tubuh pria ini pun tampak kemerahan, butiran keringat dingin membanjiri pelipis hingga turun ke rahang tegasnya.
Vanya mundur satu langkah, tangannya meraba-raba gagang pintu di belakang punggungnya dengan gemetar. "P-Pak Kevin?"
Mendengar ada suara yang memecah kesunyian, Kevin Aldrich mendongak dengan gerakan lambat. Begitu wajah itu terangkat, Vanya hampir saja memekik ketakutan. Sorot mata elang sang CEO yang biasanya sedingin es, tajam, dan penuh kendali, kini terganti dengan tatapan liar, tidak fokus, dan diselimuti oleh kabut gairah.
Napas Kevin memburu karena efek obat perangsang dosis tinggi yang dicekokkan oleh rekan bisnisnya beberapa jam lalu kini telah mencapai puncaknya, mematikan fungsi logika di otaknya yang tersisa hanyalah insting seorang pria yang ingin melakukan pelepasan.
"Kenapa kamu yang datang? Siapa yang nyuruh kamu ke sini?!" geram Kevin. Suaranya terdengar sangat serak, menahan gejolak yang menggila di dalam pembuluh darahnya.
Bulu kuduk Vanya meremang seketika. Saraf di sekujur tubuh meneriakkan alarm bahaya. "M-maaf, Pak. Saya salah masuk kamar. Saya permisi!"
Vanya memutar tubuh dengan wajah kaku, kedua tangannya cepat mencengkeram gagang pintu dan memutar knop dengan gerakan cepat.
Namun belum sempat pintunya terbuka lebar, sebuah pergerakan yang luar biasa cepat terjadi di belakangnya.
Brak!
Kevin menghantam permukaan pintu di sebelah kepala Vanya, menutup kembali celah pintu yang sempat terbuka sedikit.
Pria itu menyentak bahu Vanya, membalikkan tubuh gadis yang membelakanginya hingga posisi mereka berhadapan. Kemudian mengunci kedua pergelangan tangan Vanya, mengangkat ke atas lalu menghimpit tubuh mungilnya.
"Tolong saya, Vanya! S-saya nggak kuat. Aarrgghh!" rintih Kevin tepat di depan wajah Vanya. Matanya yang memerah menatap kosong ke arah gadis yang bergetar hebat, kedua rahangnya terkatup rapat sampai membentuk garis yang kaku.
Napas Kevin memburu menyapu permukaan kulit wajah Vanya, membuat gadis itu gemetar ketakutan.
"Pak Kevin, lepas! Tolong sadar, Pak!" Vanya menjerit histeris. Air mata pertamanya luruh, membasahi pipinya yang sudah pucat pasi.
Sekuat tenaga, ia menggerakkan seluruh tubuh, mencoba menarik pergelangan tangan yang terkunci rapat di dalam genggaman satu tangan Kevin. Kakinya menendang-nendang asal, sementara tubuhnya meliuk ke kanan dan ke kiri demi menciptakan jarak, namun Kevin terlalu kuat untuk dilawan. Tubuh pria itu tetap bergeming, mengunci pergerakannya yang sia-sia.
"Berisik! Layani aku Vanya. Kamu gadis yang dibayar Arka kan?" bisik Kevin parau. Ia mengira Vanya, wanita panggilan yang dibayar asisten pribadinya.
Pria itu menurunkan kepala, membenamkan wajah ke ceruk leher Vanya, perlahan ia menempelkan bibirnya, membuat bulu kuduk gadis itu merinding.
"Lepas, Pak! Aku bukan orang yang dibayar Pak Arka!"
Kevin tak percaya, ia malah menekan tubuh Vanya semakin rapat ke dinding pintu hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka.
Tangan kekar Kevin yang bebas turun mencengkeram pinggang Vanya dengan kasar, lalu meremas dua gumpalan daging dengan cengkeraman kuat yang dipenuhi hasrat liar.
"Aakhh! Sakit, Pak. Lepass!" Vanya semakin gemetar saat Kevin meremas area intimnya. "Jangan, Pak! Tolong, jangan lakukan ini! Saya mohon, sadar Pak!" tangis Vanya pecah, berusaha memalingkan wajah ke samping demi menghindari keintiman yang mematikan.
Ia menggelengkan kepalanya histeris, namun gerakan itu justru membuat rambut panjangnya terurai berantakan, mengekspos lehernya lebih dalam.
Kevin tidak peduli pada rintihan itu, efek zat kimia di tubuhnya telah mengubah hasratnya di luar kendali. "Sebut berapa tambahan yang kamu mau? Diam dan layani aku. Dasar jalang!" sentak Kevin kasar, suaranya naik satu oktav penuh ancaman.
Sebelum Vanya sempat menjawab penghinaan itu, tangan Kevin bergerak cepat, jemari kekarnya mencengkeram rahang Vanya dengan kuat, memaksa wajahnya terangkat.
Detik berikutnya, Kevin menunduk dan membungkam bibir Vanya dengan ciuman paksa yang menuntut, kasar, dan penuh d******i.
"Mmmpphh!" Vanya melenguh ketakutan dalam bungkaman itu. Kedua tangan yang masih terkunci di atas kepala bergetar. Ia bisa merasakan kejamnya pagutan Kevin yang tidak memberikannya ruang untuk bernapas.
Sentuhan-sentuhan kasar yang didorong pengaruh obat itu perlahan mencabut seluruh kekuatan dari kaki Vanya, membuatnya lemas dan hanya bisa bersandar sepenuhnya pada pintu.
Saat Kevin sedikit menjauhkan wajah untuk beralih mencium lehernya lagi. Vanya berteriak, berharap ada yang mendengar di ruangan kedap suara. "Lepass, Pak! Tolooongg!!!" jerit Vanya sekuat tenaga.