BAB 1
Lampu gantung di aula sekolah memantulkan cahaya keemasan di lantai marmer yang mengilap. Musik orkestra lembut mengalun, bercampur dengan suara tawa riuh dan denting gelas. Semua orang tampak bersinar — gaun pesta yang berkilau, jas yang disetrika rapi, wajah-wajah yang tersenyum penuh harapan akan masa depan.
Dan di sudut paling gelap, dekat pintu darurat yang nyaris tak terlihat, berdiri aku. Dika.
Baju yang kupakai adalah pakaian terbaik yang kumiliki — kemeja katun abu-abu yang sudah kusam, di beberapa tempat benangnya mulai terurai. Celana kain hitam yang warnanya sudah pudar di bagian lutut. Sepatu kulit yang kusemir sekuat tenaga pagi tadi, tapi tetap saja terlihat tua dan lelah, persis seperti pemiliknya.
Aku menunduk, memandang ujung sepatuku. Tapi aku tahu betul apa yang terlihat di cermin tadi pagi. Wajah yang tak ada yang istimewa, bahkan bisa dibilang kurang menyenangkan. Bopeng-bopeng bekas jerawat yang menumpuk di pipi dan dahi, seperti kawah-kawah kecil yang tak pernah sembuh. Kulit kusam, mata yang selalu terlihat mengantuk karena sering begadang membantu Ibu di warung kecil kami di pinggiran kota.
"Dika? Kok sendirian di pojokan kayak kutu buku yang diusir?"
Suara itu. Aku mengenalnya bahkan sebelum menoleh. Itu Rian — kapten basket, idola sekolah, cowok yang semua cewek impikan. Dia berjalan mendekat, dikelilingi rombongan teman-temannya yang langsung menutup jalan keluar.
"Aku... nggak kenal siapa-siapa," jawabku pelan, suaraku nyaris tertelan musik.
Rian tertawa, suara keras yang menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Wah, wajar lah. Mana mungkin ada yang kenal sama kamu? Kamu itu kan... apa ya? Bukan bagian dari dunia ini."
Beberapa orang mulai berhenti lewat, menonton. Aku merasakan tatapan-tatapan itu menindih bahuku, berat sekali.
"Sudah, Rian, jangan diganggu," kata seorang cewek dari rombongan itu. Tapi nada suaranya bukan melindungi, justru mengejek. Itu Sari, ketua OSIS, cewek paling populer di angkatan kami. Dia melangkah maju, gaun merahnya berkilau di bawah lampu. "Kasihan kan? Sudah miskin, jelek, nggak punya masa depan. Mungkin dia cuma numpang lewat, bukan tamu sungguhan."
Tawa meledak di sekelilingku. Rasanya seperti ditampar berulang-ulang, tanpa tangan yang menyentuh — tapi lukanya terasa di dalam, jauh lebih dalam.
"Aku punya ijazah juga," gumamku, jari-jariku mencengkeram ujung kemeja sampai kainnya terlipat kasar. "Aku lulus juga sama seperti kalian."
Sari mendekat, menatapku dari atas ke bawah seolah aku bukan manusia, melainkan benda yang tak sengaja terinjak. "Lulus? Terus terusannya apa? Kamu pikir cuma dengan kertas itu kamu bisa berubah? Lihat cermin, Dika! Wajahmu itu... yah, kasihan. Siapa yang mau mempekerjakan orang yang kalau dilihat saja sudah bikin orang ilfeel..! Siapa yang mau mendekat, apalagi bergaul..!"
Kata-katanya menusuk tepat di tempat yang paling lemah. Tempat yang selama ini aku lindungi sekuat tenaga.
"Jangan begitu, Sari," kata cewek lain, Maya, sambil tersenyum sinis. "Mungkin dia datang berharap ada cewek yang kasihan lalu mau menari dengannya. Atau siapa tahu, dapat simpati terus diajak hidup bersama"
Mereka tertawa lebih keras lagi. Beberapa orang yang lewat ikut tertawa, berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Kasihan kalau iya," timpal Rian. "Cewek mana yang mau sama dia? Lihat wajahnya, kayak jalanan berlubang setelah hujan banjir. Kalau diajak jalan, yang dilihat wajahnya atau lubang-lubangnya? Nanti malam juga mimpi buruk."
Aku merasakan panas naik ke pipiku. Bukan malu — sudah tak ada lagi malu di sini, hanya perih yang tak tertahankan. Mataku memanas, tapi aku menahan air mata itu sekuat tenaga. Kalau jatuh, mereka makin menang.
"Kalian nggak perlu begitu..." suaraku bergetar, nyaris tak terdengar.
"Perlu? Kenapa tidak?" Sari mencondongkan wajahnya, matanya menyipit jijik. "Kamu sendiri sadar kan? Di sekolah ini tiga tahun, pernah ada yang menyapa kamu duluan? Pernah ada cewek yang mau duduk di sebelahmu di kantin? Pernah ada guru yang memanggil namamu dengan senyum?"
Dia berhenti sejenak, membiarkan keheningan menjawab sendiri. Lalu melanjutkan dengan nada yang makin tajam, makin menyayat.
"Kamu itu bukan sekadar tidak populer, Dika. Kamu itu... mengganggu. Keberadaanmu saja sudah bikin tidak nyaman. Seperti sampah yang tertinggal di lantai, yang semua orang tahu harus dibuang, tapi tidak ada yang mau menyentuhnya. Itulah kamu."
"Malah sampah masih bisa didaur ulang lho," tambah Maya sambil menutup hidung seolah mencium bau tak sedap dariku. "Kalau Dika? Bisa dipakai apa? Wajahnya nggak enak dilihat, dompet kosong, masa depan gelap. Lebih rendah dari sampah, kalau ditimbang nilainya pasti negatif."
Kata-kata itu menghantam dadaku seperti palu besi berat. Lebih rendah dari sampah. Nilainya negatif. Tiga tahun lamanya aku bertahan, tiga tahun aku mencoba tidak terlihat, mencoba tidak mengganggu siapa pun, mencoba hanya belajar dan pulang. Tapi ternyata, keberadaanku saja sudah cukup untuk menjadi alasan dihina.
"Sudah, Sari, jangan terlalu keras," kata Rian, lalu menoleh padaku dengan senyum yang bukan ramah, melainkan penuh belas kasihan yang menyakitkan. "Dengar, Dika. Kami nggak benci kamu. Kami cuma jujur. Dunia ini kejam, dan kamu... kamu tidak siap menghadapinya. Mungkin sebaiknya kamu tetap di rumah saja, di tempat yang tidak ada orang yang harus melihatmu. Demi kebaikan semua orang."
Seketika itu juga suasana hening. Musik seolah memudar, tawa lenyap, hanya tersisa dengung di telingaku sendiri. Tatapan semua orang yang berkumpul di sana — sekelas, seangkatan, bahkan beberapa orang tua murid yang kebetulan lewat — semuanya tertuju padaku. Bukan simpati. Bukan kasihan. Kebanyakan jijik. Sebagian lagi tidak peduli, seolah aku memang benda mati yang tak layak mendapat perhatian lebih.
Dan di antara kerumunan itu, aku melihat Pak Budi — wali kelas kami selama tiga tahun. Dia berdiri di pinggir, memegang gelas minuman, menatap ke arahku. Matanya tidak marah. Tidak membela. Hanya... jijik. Dan dia memalingkan wajah perlahan, seolah melihatku saja sudah mengotori pandangannya.
Guru yang selama ini aku hormati, yang aku pikir setidaknya tahu aku rajin dan jujur. Ternyata sama saja. Semua sama.
Aku tidak bisa lagi menahan diri. Tanpa sepatah kata pun, aku berbalik dan berjalan keluar. Langkahku cepat, nyaris berlari melewati lorong-lorong aula yang tiba-tiba terasa sempit dan sesak. Aku mendengar suara tawa yang meledak lagi di belakangku, mendengar seruan ejekan yang terpotong di pintu keluar.
"Pergi sana, sampah!"
"Jangan kembali lagi!"
"Kalau aku jadi dia, mending ngilang dari dunia ini!"
Kalimat terakhir itu yang paling keras, paling tajam, dan paling lama bergema di kepalaku, bahkan setelah pintu aula tertutup rapat di belakangku dan suara musik perlahan mereda.
Aku berjalan sendirian di sepanjang jalan pulang. Malam sudah larut, lampu-lampu jalan menyala remang-remang, memantul di aspal yang mulai basah. Hujan turun perlahan, membasahi wajahku. Aku tidak tahu lagi mana air hujan, mana air mata. Semuanya terasa sama — dingin, pahit, dan mengalir tanpa bisa dihentikan.
Langkahku berat, sepatu karetku menginjak genangan air yang memantulkan bayanganku sendiri. Aku menatap bayangan itu sesaat — sosok yang tampak kalah, lusuh, sendirian di tengah malam yang sepi.
Kenapa?
Pertanyaan itu berputar di kepalaku, berulang-ulang, tak pernah menemukan jawabannya.
Kenapa aku harus begini? Apa salahku lahir miskin? Apa salahku wajahku bopeng? Apa salahku kalau aku tidak punya apa-apa untuk dipamerkan? Kenapa semua orang begitu mudahnya menghancurkan hati orang lain, seolah tidak ada yang berdenyut di dalam sana?
Aku terus berjalan, tidak melihat ke mana arahku. Pikiran kacau, pandangan kabur. Hujan makin deras, suara kendaraan di jalan raya makin riuh. Aku melangkah menyeberang jalan tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan.
Bunyi klakson yang memekakkan telinga. Deru mesin yang mendadak keras. Cahaya lampu yang menyilaukan.
Dan kemudian — benturan keras. Tubuhku terlempar ke udara, seakan berat badanku tiba-tiba hilang sepenuhnya. Lalu jatuh. Dunia berputar, lalu berhenti tiba-tiba. Rasa sakit yang luar biasa menyergap sekujur tubuhku, sebelum akhirnya gelap menelan segalanya.
Aku terbangun dengan perasaan bahwa seluruh tubuhku dibalut api yang membeku.
Bau antiseptik yang tajam. Bunyi mesin yang berdetak teratur di samping tempat tidur. Cahaya lampu yang redup di langit-langit putih.
Aku mencoba menggerakkan jari tangan. Terasa berat, kaku. Mencoba membuka mata sepenuhnya, tapi kelopak terasa seberat timah. Wajahku terasa kencang, tertutup perban. Tangan dan kakiku juga. Seperti mumi.
"Anakku..."
Suara itu lemah, gemetar, tapi aku kenal betul. Itu Ibu.
Aku memaksa mataku terbuka sedikit. Di samping tempat tidur, Ibu duduk membungkuk, kedua tangannya memeluk tanganku yang terpasang infus. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah, rambutnya yang hitam mulai bercampur uban terlihat berantakan. Air mata terus mengalir di pipinya, jatuh ke selimut.
"Dika... Ibu mohon... kamu harus kuat, Nak..." suaranya pecah. "Dokter bilang kamu kritis. Tapi Ibu nggak akan menyerah. Ibu akan di sini. Selalu di sini. Kamu harus bertahan, ya? Demi Ibu..."
Dia menunduk, menekan wajahnya ke tepi kasur, bahunya terguncang menahan isak tangis yang tak bisa lagi ditahan.
Aku ingin bicara. Ingin bilang aku di sini. Ingin bilang aku masih berusaha. Tapi mulutku terasa berat, suaraku tak bisa keluar. Hanya napas yang berat dan teratur, dibantu mesin di sampingku.
Aku menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih dan dingin. Ruangan ini sepi. Tidak ada bunga. Tidak ada kartu ucapan. Tidak ada teman yang datang. Tidak ada Rian, Sari, Maya, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, atau mungkin tahu tapi tidak peduli. Hanya Ibu. Satu-satunya orang di dunia ini yang menangis untukku.
Pikiran mulai melayang, terngiang kembali kata-kata yang mereka ucapkan malam itu. Seperti pita rekaman yang tak mau berhenti berputar.
Kamu itu lebih rendah dari sampah.
Wajahmu bikin ilfeel.
Tidak ada yang mau menyentuhmu.
Mending ngilang dari dunia ini.
Mereka tidak tahu betapa dekatnya aku dengan saran itu sekarang.
Rasa sakit di tubuhku terasa menyatu dengan rasa sakit di hatiku. Mana yang lebih parah, aku sudah tidak bisa membedakannya lagi. Tubuhku remuk ditabrak truk, tapi hatiku sudah hancur berkeping-keping jauh sebelum itu terjadi.
Aku lelah. Sangat lelah.
Kenapa dunia ini tidak adil? batinku berteriak, meski bibirku tak bergerak sedikit pun. Kenapa aku selalu menderita? Kenapa setiap langkah yang kuambil selalu diinjak, dihina, dicaci maki seakan aku bukan manusia? Apa salahku lahir ke dunia ini? Apa salahku kalau aku tidak punya harta, tidak punya rupa, tidak punya kekuasaan? Kenapa mereka begitu mudahnya memutuskan bahwa aku tidak berharga?
Air mata merembes keluar dari sudut mataku, menembus tepi perban di pelipis.
Ibu... maafkan aku. Aku sudah tidak kuat lagi. Kalau ini akhirnya, kalau ini jalan yang harus kuambil... terima kasih sudah membesarkan aku. Terima kasih sudah jadi satu-satunya orang yang pernah menyayangiku. Maaf kalau aku cuma jadi beban sampai akhir.
Aku memejamkan mata, membiarkan kesadaran perlahan tergelincir pergi. Mungkin memang lebih baik begitu. Mungkin ketiadaan lebih ringan daripada hidup yang penuh penghinaan tanpa akhir.
Tepat saat aku mulai melepaskan pegangan terakhir pada kesadaran—
[DING!]
SISTEM DON JUAN TELAH DIAKTIFKAN.