Suci tersentak. Ponsel di tangan hampir terlepas dan jatuh ketika melihat nama Deswita di layarnya. Ia sudah menyimpan nomor wanita itu setelah Deswita menghubunginya, jadi, ia tidak mungkin salah lihat. Jantung Suci langsung berdebar tidak nyaman. Baru melihat nama Deswita saja, sudah cukup membuat suasana hatinya berubah tegang, apalagi jika harus kembali berbicara langsung dengan ibu Arif itu. Kendati ragu, tetapi akhirnya Suci tidak punya pilihan. Ia pun menggeser ikon berwarna hijau di layar, lalu menempelkan ke telinga. “Ha–” “Di mana kamu?” putus Deswita ketus. “Saya, Tan?” “Saya lagi nelpon kamu, kan? Gitu aja masih ditanya lagi.” Suci menelan ludah. Geregetan setengah hidup dengan ibu mertua abal-abalnya itu. Pertanyaan yang dilontarkannya memang terdengar bodoh, tetapi hal

