23~Nikmati Prosesnya

1001 Kata

“Bun ...” Arif kembali mengetuk pintu kamar Deswita. Dengan sabar ia menunggu, sampai akhirnya pintu itu terbuka. Pakaian sang ibu sudah berganti dan wajahnya sudah terlihat segar. Tanpa balutan make-up sama sekali. “Aku mau ke supermarket di bawah sama Suci. Bunda mau titip?” Deswita memindai penampilan putranya. Rambut Arif masih terlihat basah, pertanda putranya itu baru selesai mandi. Padahal, Arif sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Pikiran Deswita jadi berlarian ke mana-mana. Berusaha mengenyahkan sebuah asumsi yang sudah terlanjur tercetus di kepala. Ia masih saja mengelak dan tidak akan percaya jika pernikahan Arif dan Suci benar-benar terjadi. “Suci masak …” Arif menoleh ke arah pintu kamarnya, tempat Suci berdiri sambil menunggunya. “Kamu tadi pagi masak apa, Yang? Ayam ap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN