Mendengar langkah kaki yang terseret malas dari arah belakangnya, Suci lantas menoleh. Ia terdiam sesaat, ketika melihat Arif masih berpakaian santai. Hanya kaos hitam polos dan celana pendek. “Nggak kerja, Mas?” tanya Suci tanpa memberi sapaan selamat pagi seperti biasa. “Aku berangkat agak siang dan langsung ke pengadilan,” jawab Arif berhenti di sudut meja kitchen set. Ia mengambil gelas di lemari gantung lalu bersiap membuat kopi. “Ooh...” Suci mematikan kompor. Ia mengambil sepotong daging dari wajan dengan sendok, lalu menyodorkannya pada Arif. “Mas, coba rasain beef teriyaki-ku. Ini pertama kali aku bikin, tapi nggak tahu rasa asli masakannya itu sebenernya gimana.” Arif mengambil alih sendok dari tangan Suci, lalu menyantap potongan daging tipis tersebut. Ia mengunyahnya perl

