“Pak Marcel, tangan dan kaki Bu Indira lecet dan memar. Apa … tidak sebaiknya … Bapak melepas borgol itu?” tanya Lisna dengan sangat hati-hati. “Dan membiarkan perempuan licik itu kabur?” ketus Marcel. Tanpa rasa bersalah, ia kembali menikmati sandwichnya, “jangan ada yang boleh masuk ke dalam kamar itu.” “Baik Pak.” “Karena dia nggak mau makan, kamu nggak usah antar makanan ke dalam sana.” Marcel langsung berdiri dari kursinya. Ia meraih ponselnya dan bergegas keluar. “Pak Marcel udah berangkat,” ujar Lisna pada Bik Karin, “karena aku nggak perlu antar makanan, aku pamit lihat ibu aku di rumah sakit.” Bik Karin menghela napas panjang. “Kamu … yakin, Non Indira nggak kenapa-kenapa? Kalau dia sampai mati, kamu bakal repot berurusan dengan hukum. Pak Marcel pasti akan cuci tangan.”

