“Berbaring dan buka kedua kakimu lebar-lebar,” perintah lelaki dengan jas putih itu dengan santai, seolah mengatakan sesuatu yang sama sekali tak berarti apapun.
Kalimat itu membuat Indira terpaku. Memperlihatkan bagian sensitif pada pria yang bukan suaminya, tentu saja membuatnya merasa canggung.
Melihat pasiennya tercengang, dokter muda yang sedang sibuk memasang sarung tangan latex sekali pakainya itu langsung menghela napas.
“Oke. Kalau kamu keberatan, silahkan cari dokter lain untuk memeriksanya,” ucapnya.
Tangannya bersiap untuk membuka sarung tangan yang sudah setengah terpasang, saat Indira akhirnya naik ke atas ranjang putih dengan ragu.
Sesaat ia menghela napas dan mulai menenangkan diri.
“Indira … Indira. Dia itu seorang dokter. Dia profesional di bidangnya. Tubuh kamu hanya seonggok daging yang bernapas baginya,” bisikan di kepalanya seolah menenangkan perasaannya.
Indira melirik lelaki berjas putih. Dokter Lucas, dokter yang disarankan oleh penata rias sekaligus sahabatnya itu, kini telah siap dengan sarung tangan latexnya. Lelaki muda itu melangkah mendekat dan berhenti tepat di bawah kaki Indira. Sepasang mata itu mengamati bagian intinya dengan mata terpicing.
Dan tiba-tiba, Indira merasakan sebuah sentuhan tepat di dalam rongganya. Sentuhan yang membuatnya tersentak. Sentuhan itu seperti menyalakan sebuah tombol yang menghidupkan hasratnya dalam sekejab.
"Dok!" protes Indira yang merasa risih.
“Infeksi jamur,” sahut dokter muda itu, terdengar sangat profesional, “seperti yang saya duga sebelumnya.”
“Apa bisa diobati?” tanya Indira, seolah sudah melupakan rasa risih yang tadi menyergapnya.
“Begini. Saya harus tahu, sejauh apa jamur ini sudah menyebar. Dan ini tidak bisa sembuh dalam sekali pengobatan saja,” jelas dokter Lucas.
“Apa Ibu sudah menikah? Sesering apa Ibu berhubungan dengan pasangan?” tanya dokter itu masih dengan gaya santai dan acuhnya.
“Sudah. Tapi … suami saya terlalu sibuk.” Indira berusaha menutupi masalah dalam keluarganya. Ia tidak ingin terlihat tidak harmonis hanya karena penyakit yang dideritanya.
“Baik. Apakah pasangan Ibu akan mendampingi selama pengobatan?” tanyanya lagi.
Sesaat Indira terdiam. Seandainya saja suaminya tidak berlaku sedingin itu padanya. Seandainya saja suaminya lebih mengutamakan dirinya daripada pekerjaannya.
Tanpa berpikir lebih lama, Indira menggelengkan kepalanya. “Sepertinya saya akan datang sendiri, Dok.”
Sesaat dokter muda itu terdiam, seolah menelaah kalimat yang diucapkan oleh pasiennya.
Karena tak ingin orang lain berasumsi terhadapnya, Indira langsung melanjutkan kalimatnya. “Penyakit ini membuat hubungan kami renggang. Dia … terlalu lelah melayani keinginanku. Karena itu aku memutuskan untuk melakukan pengobatan.”
“Baik. Infeksi jamur memang membuat sensitivitas tubuh berubah,” ucap dokter itu kemudian, “aku akan cek, seberapa jauh jamur ini sudah menginfeksi bagian dalam tubuhmu.”
Indira menggigit bibirnya saat dokter Lucas mengoleskan sesuatu ke permukaan sarung tangannya. Ia mulai membayangkan kemungkinan tindakan yang bakal diterimanya dari dokter muda itu.
Dan sesaat kemudian ia merasakan sentuhan di bagian paling privacynya. Bukan hanya itu, ia dapat merasakan jemari bersarung latex itu menekan di bagian intinya.
Tubuhnya menegang seketika, seakan ribuan semut sedang merayapi tubuhnya. Ia dapat merasakan sensasi gelitik yang begitu kuat.
Fantasi liarnya tiba-tiba saja berkelebat. Seandainya saja itu bukan sekedar jemari bersarung latex, tetapi milik dokter Lucas. Lelaki muda yang jelas tenaga dan hasratnya lebih daripada Marcell, suaminya.
Namun kesadarannya kembali datang saat merasakan sentuhan itu semakin dalam. Tanpa sadar, Indira meraih tangan lelaki muda itu. Tangannya meremas kuat pergelangan tangan lelaki berjubah putih itu.
“Hentikan!” bentaknya.
Lelaki muda itu menatapnya. Perlahan ia menarik tangannya, membuat cekalan di pergelangan tangannya lepas.
Indira merasa risih, namun ia tahu dokter muda itu hanya melakukan tugasnya. Tidak sepantasnya ia membentak tenaga profesional yang berniat untuk menyembuhkannya.
“M–maaf, Dok.”
“Tidak apa-apa,” sahutnya dengan gaya profesional yang menenangkan, “pemeriksaan seperti ini memang bikin risih. Itulah sebabnya, Anda butuh dukungan pasangan Anda.”
Indira menundukkan kepalanya. Rasa malu membuat wajahnya terasa panas seperti terbakar. Ia tidak bisa dan tidak mungkin meminta Marcel menemaninya untuk berobat.
“Kita lanjutkan dengan cek sensitivitas sekalian mengoleskan obat ke daerah yang terinfeksi,” lanjut dokter muda itu. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
“Dokter … yakin mau menolong aku?” tanya Indira, matanya melirik canggung pada lelaki muda yang kini sedang meraih sebuah wadah dan memutar tutupnya, “dokter nggak jijik?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Indira.
Ia masih ingat perkataan kasar suaminya semalam tadi, saat ia terpaksa memuaskan diri dengan mainan getarnya sendiri karena rasa gatal itu tak kunjung mereda walau Marcel sudah tiga jam melayaninya.
“Kamu itu benar-benar menjijikkan. Nggak pernah puas. Apa dalam otakmu cuman ada keinginan gila itu saja? Dasar perempuan gatal!”
Ya… penghinaan itu yang akhirnya membuatnya memberanikan diri untuk bertemu dengan dokter Lucas.
“Kenapa harus jijik?” Suara maskulin itu membawanya kembali dari lamunannya. “Buka kedua kakimu.”
Jantung Indira berdebar kencang. Ada perasaan takut, malu dan canggung yang bercampur jadi satu. Tangannya meremas sprei di bawahnya, tubuhnya tegang seolah menantikan sesuatu yang tak sanggup ia bayangkan.
“Nggak usah tegang. Pejamkan mata kamu, tarik napas dalam dan hembuskan,” pandunya, “iya. Tarik napas … .”
Indira menelan ludahnya saat merasakan sesuatu yang hangat, keras dan panjang menekan kuat ke dalam kelembutannya. Benda itu bergerak perlahan seolah sengaja menggelitik di dalam sana, di setiap titik sensitifnya.
Sensasi itu terasa semakin kuat. Napas Indira semakin kacau. Tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup dengan kencang.
Namun ia menggigit bibirnya, menahan agar tak ada suara yang lepas, walau sensasi itu semakin membuatnya gila.
“Tidak! Mustahil dokter Lucas melakukan hal yang tidak seharusnya,” batinnya berusaha menyatukan kembali logikanya.
Tapi sensasi itu semakin kuat. Indira segera membuka mata dan ia terkejut ketika melihat apa yang dilakukan dokter muda itu.
Dokter Lucas menarik sebuah benda panjang dari bawah sana. Ia menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sepertinya jamur sudah menginfeksi terlalu dalam. Alat yang kupakai tidak bisa menjangkaunya.”
Indira menggigit bibirnya. Matanya tanpa sengaja terarah ke sebuah tonjolan yang ada di bawah perut dokter muda itu. Ia tahu, dokter Lucas tetaplah manusia biasa yang diciptakan dengan hasrat. Seprofesional apapun, dia tetaplah seorang lelaki normal.
Celakanya hal itu membuat Indira semakin gelisah. Rasa gatal itu tiba-tiba saja datang dan terasa semakin kuat dan sangat mengganggunya. Napasnya mulai berantakan. Ia meremas sprei di bawahnya dengan kuat.
“Aku harus cari sesuatu yang bisa membantuku mengoleskan salep ini sampai ke bagian terdalam,” sambungnya lagi sembari mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya.
“Dok, sepertinya sensasi itu kambuh lagi.” Indira mengatur napasnya yang semakin kacau.
“Aku belum pernah mendapatkan pasien infeksi jamur yang sudah separah ini. Jadi … peralatanku masih —”
Indira menangkap tangan lelaki muda itu. Ia benar-benar sudah tak dapat menahannya. Tubuhnya gemetar menahan sensasi yang semakin menggila itu.
“Dok, please! Lakukan apapun!”