Bab 2

898 Kata
Indira menarik tangannya cepat. Ia tidak ingin ada gosip tak sedap yang pasti akan membuat masalahnya bertambah. Gegas ia melangkah menuju kamar mandi. Ia baru saja meletakkan tasnya, hendak mengeluarkan benda yang selalu menjadi penyelamatnya selama ini. Namun tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka. Lelaki itu melangkah mendekat. Bibirnya merenggang, menampilkan seringai tak menyenangkan yang dapat dilihat dengan jelas oleh Indira dari pantulan cermin di hadapannya. Tanpa ragu, lelaki itu mendekatkan wajahnya di sisi wajah Indira. “Apa maumu, Rick!” lirih Indira. Hembusan napas yang menyentuh telinganya, membuat tubuhnya menjadi panas, dan rasa gatal itu semakin menyiksa. “Indi … aku tahu rahasiamu,” bisik lelaki itu di telinganya. “Rahasia apa?” Lelaki itu memutar tubuh Indira hingga tepat menghadap ke arahnya. “Aku tahu perasaanmu padaku,” ucapnya dengan rasa percaya diri, “aku bisa merasakan tubuhmu bergetar setiap kali aku mendekat.” Lagi-lagi tubuhnya mengkhianati pikirannya. Hembusan napas yang menyapu pipinya kembali membuat tubuhnya gemetar. Kali ini ia tak ingin Erik merasakan dan salah paham padanya. Ia mendorong lelaki itu menjauh. “Keluar Erik! Keluar!” teriak Indira dengan wajah memerah. Erik tersenyum nakal. Ia mengerlingkan matanya sebelum benar-benar keluar. “Mulut boleh nggak jujur, tapi tubuh kamu nggak bisa, Indy.” “Keluar!” Teriakan itu bukan hanya mengusir Erik dari hadapannya, tapi juga mengejutkan Celia. Gadis itu segera berlari menghampirinya. “Playboy itu ganggu kamu?” tanyanya dengan wajah kesal. Indira menggenggam tangan sahabatnya dengan wajah memelas. “Penyakitku kambuh.” Celia menatapnya tak percaya. “Kambuh? Jadi … saat syuting tadi ….” Indira menggigit bibirnya. “Pantas saja, semua terlihat begitu sempurna. Gerakan alami. Bahkan sutradara sama sekali nggak cerewet buat ulang adegan,” ulas Celia panjang lebar, “tapi … gimana kalau kamu kambuh di adegan yang nggak seharusnya?” Celia membelalakkan matanya. “Kamu mesti berobat. Kamu terus mikirin nama baik suami kamu, tapi … apa dia peduli bagaimana tersiksanya kamu?” “Gimana kalau justru bukan cuman namanya saja yang rusak. Gimana kalau semua yang sudah kudapatkan ini juga hancur?” Celia menepuk pundak sahabatnya. “Dia seorang profesional. Dia tidak mungkin berani melanggar sumpah profesinya. Aku jamin, dia akan menutup rapat mulutnya.” Karena keyakinan itu, sore itu, dengan selembar kartu nama di genggaman tangannya, Indira melangkah masuk ke dalam klinik. Ruangan dengan desain yang sangat minimalis, dengan cat berwarna putih menyambut kedatangannya. “Selamat sore, sudah ada janji temu sebelumnya, Bu?” tanya seorang perawat. “Belum. Saya cuma mau konsultasi,” putus Indira pada akhirnya. “Baik. Ditunggu sebentar, karena masih ada pasien di dalam.” Indira duduk di ruang tunggu. Menit demi menit berlalu, matanya menatap sekelilingnya. Mengamati deretan artikel dan penghargaan yang berjajar rapi di dindingnya. Dengan semua penghargaan dan artikel itu, Indira mulai yakin bahwa dokter Lucas adalah seorang dokter yang profesional. Dokter yang memiliki banyak pengalaman. Dan … yang pasti tidak muda lagi! Indira langsung menundukkan kepalanya, saat mendengar suara derit pintu terbuka. Ia tidak ingin seseorang melihatnya di dalam klinik itu lalu membuat asumsi dan menjatuhkan citra yang bertahun-tahun dibangunnya. “Terima kasih Dokter Lucas, berkat bantuan dokter, suamiku sudah kembali seperti dulu lagi.” Suara cempreng itu terdengar begitu bersemangat seolah mendapatkan kembali kehidupannya. “Sudah tugas saya, Ibu,” balasan ramah itu terdengar dalam suara maskulin, yang mau tak mau membuat Indira mengangkat wajahnya hanya untuk mengenali si pemilik suara. Tapi yang dilihatnya hanya punggung lebar dokter dengan jas putih khasnya saat praktek. Lalu kepalanya bergerak refleks menunduk kembali. Ia tidak ingin identitasnya bocor, apalagi pasien wanita itu berdiri menghadap ke arahnya. Aroma lembutnya vanila tercium saat wanita itu melintas di depan Indira, seolah memberikan tanda bahwa ia sudah lebih leluasa karena tak ada pasien lain di sana. “Kamu belum pulang, Ra?” Suara maskulin itu kembali terdengar. Dan kali ini Indira langsung mengangkat kepalanya. “Belum Dok. Ada pasien baru,” sahut perempuan yang duduk di balik meja perawat. “Ok, biarkan dia masuk, dan … kamu boleh pulang,” sahut dokter Lucas. Matanya sekilas melirik ke ruang tunggu sebelum kembali masuk ke dalam ruangannya. “Selamat malam, Bu …” dokter muda itu membaca kartu pasien yang ada di hadapannya. “Indira. Ada yang bisa saya bantu?” Indira menatap wajah dokter muda di hadapannya. Ia nyaris tak bisa mempercayai bahwa dokter yang ada di hadapannya itu masih sangat muda. Perkiraannya benar-benar meleset. Dan masalahnya saat ini, ia tidak sanggup menceritakan apa yang dirasakannya karena pasti akan sangat memalukan. “Bu Indira, kalau Ibu tidak mengatakannya, saya tidak akan tahu keluhan Anda. Dan saya tidak dapat menolong Anda,” sambung dokter Lucas saat tak mendengar sepatah kata pun dari bibir Indira. Dengan sedikit gusar, ia menutup file dan berdiri dari kursinya. Indira menatap wajah gusar lelaki itu dengan canggung. Namun akhirnya ia mulai menceritakan semua hal yang dialaminya. “Di dalam tubuhku … aku merasakan sensasi aneh yang membuat tubuhku merasa ingin disentuh. Bukan … bukan sekedar sentuhan biasa,” ucapnya dengan wajah memerah karena malu. “Oke,” respon dokter Lucas dengan tenang, seolah sudah terbiasa mendengar masalah seperti itu, “bagaimana intensitasnya? Sudah berapa lama dan … bagaimana cara kamu mengatasinya selama ini?” Indira menundukkan kepalanya, seolah dengan melakukan itu, ia dapat bersembunyi dari dokter muda di hadapannya. “Beberapa waktu ini semakin sering kambuh. Aku nggak yakin berapa lama aku mulai merasakannya. Tapi … setiap sensasi itu terasa, aku —”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN