Bab 1

1081 Kata
Lelaki itu memagut bibir istrinya sebelum tubuhnya ambruk tepat di sisinya. Pergulatan selama hampir tiga jam itu sudah membuat tubuhnya terasa lemas. “Cell, please…” rengek Indira, “sekali lagi, ya. Rasanya masih tak nyaman.” Tangannya menyentuh tubuhnya suaminya seolah hendak membangkitkan hasratnya sekali lagi. “Udah, aku capek Indi. Besok aku masih ada meeting penting,” tolak Marcell, “kamu tuh nggak pernah ada puasnya. Benar-benar menjijikkan. Apa di kepalamu itu cuma ada keinginan gila seperti itu? Dasar gatel!” Lelaki itu langsung beranjak dari sisi Indira tanpa sebuah kompromi. Indira menghela napas dengan rasa frustasi. Rasanya benar-benar tak nyaman, seperti rasa gatal yang menggelitik dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan bercinta. Perlahan ia membuka laci nakas di sisi ranjangnya dan meraih sebuah benda panjang berwarna merah cerah. Ia menekan tombol di satu sisinya hingga benda itu mengeluarkan suara dengung saat bergetar. Sesaat ia menghela napas, sebelum menekan benda itu masuk ke dalam intinya. Dengan mata terpejam, ia merasakan sensasi kenikmatan yang menyerbu di dalam tubuhnya, memadamkan rasa gatal yang masih menyiksanya di dalam sana. “Aah … “ desahnya sementara tangannya bergerak dengan liar bersama dengung halus mesin yang gemetar di tangannya. … . “Jadi … suami kamu marah lagi semalam?” Indira menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Ia menatap Celia, sang penata rias sekaligus sahabatnya dengan wajah frustasi. “Bukannya dia justru senang bisa ngelakuin itu semalaman sama kamu?” tanyanya lagi, “pria mana sih, yang nolak bercinta sama Indira Cantika, artis dengan penghasilan terbesar lima tahun terakhir ini.” “Dulu … dia memang senang. Tapi …” Sekali lagi, Indira menghela napas panjang. “sekarang dia justru terganggu kalau aku lagi kambuh. Lia, aku bahkan ngerasa seperti sampah di matanya. Dia bilang … dia jijik sama aku.” Celia berhenti memulas pipi Indira. Ia menatap sahabatnya itu dengan prihatin. “Indi, kamu itu artis papan atas. Cantik, pintar, seorang yang selalu jadi sorotan,” cicit perempuan bertubuh mungil itu, “jangan sampe penyakit kamu itu menghalangi karirmu.” “Aku juga nggak mau seperti itu. Tapi … aku nggak tau harus gimana lagi,” keluh Indira, “masa sih, aku harus bayar laki-laki buat —” Celia menorehkan lipstik di bibir Indi, membuat artis cantik itu berhenti berucap, apalagi jika kata-kata itu bakal menyakiti perasaannya sendiri. “Kamu sebaiknya coba buat konsultasi atau sebisa mungkin berobat ke seorang profesional. Dokter misalnya?” tanya Celia kemudian, “aku ada kenalan dokter yang sepertinya bisa bantu kamu atasi penyakit kamu..” Celia menarik tangannya saat merasa sapuan kuasnya sudah sempurna. Matanya menatap bibir sahabatnya, mengoreksi gincu yang baru saja ia poleskan sebagai sentuhan akhir karyanya, sebelum tersenyum puas. “Dokter?” ulang Indira dengan mata membulat, lalu perlahan menggelengkan kepalanya, “No … no … no. Aku nggak mau ambil resiko. Hampir semua dokter di kota ini mengenal suamiku. Marcell bisa membunuhku kalau sampai reputasi keluarganya hancur karena penyakit ini.” Celia meraih tas kecilnya dan mencari sesuatu dari dalamnya. Sesaat kemudian ia meletakkan sebuah kartu nama di meja rias, tepat di hadapan Indira. “Lalu sampai kapan kamu mau menanggungnya sendiri?” Celia menatap tajam Indira, seolah itu adalah sebuah bentuk protes sekaligus rasa pedulinya. “Namanya dokter Lucas. Dia adalah dokter yang salah seorang pelangganku rekomendasikan,” jelas Celia sementara tangannya mulai merapikan semua perlengkapan rias yang baru dipakainya kembali ke dalam kotaknya. Indira menatap deretan tulisan yang ada di atas kertu itu. Ia berpikir, seorang dokter laki-laki. Haruskah ia datang dan menceritakan semua masalahnya padanya. “Kamu harus mencobanya,” imbuh Celia saat melihat raut wajah ragu sahabatnya. “Indi! Semua sudah berkumpul di lokasi. Sutradara udah cari kamu, tuh,” teriak salah satu kru yang lewat. “Terima kasih. Aku akan mempertimbangkannya,” sahut Indira. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyuman menenangkan bagi sahabatnya. Namun ia tidak dapat menyembunyikan kegelisahan dalam hatinya. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini. “Bersiap!” Teriak pria bertopi yang duduk tepat di depan layar tampilan. “Suara?” “Siap!” Jawab kru departemen suara. “Action!” Lelaki tampan bertubuh tegap itu melangkah cepat menghampiri Indira. Tangannya mencengkram rahangnya dengan napas terengah. Indira balas menatapnya dengan tajam, tanpa perasaan gentar. “Lepaskan aku, Ryan!” “Mana mungkin aku melepaskan putri musuhku,” ucap lelaki itu sembari mendekatkan wajahnya. Hembusan napas hangat itu membelai pipinya. Indira menelan ludahnya. Jantungnya berdebar dan tiba-tiba saja rasa aneh itu datang. Panas, gatal dan membuatnya benar-benar kehilangan kendali. Napasnya semakin memburu saat merasakan sentuhan tangan lelaki muda itu di pinggangnya. Lelaki muda itu benar-benar tak mau kalah panggung. Ia menarik tubuh Indira hingga menempel di tubuhnya. Matanya menatap dengan bengis lawan aksinya seolah benar-benar ingin melahapnya. Sentuhan demi sentuhan itu membuat sensasi itu semakin kuat. Bibir Indira gemetar. Tapi alam sadarnya terus memperingatkan segala konsekuensinya. Ia meremas gaunnya, menciptakan sensasi rasa sakit dengan sebuah cubitan keras di pahanya secara diam-diam, hingga air matanya menetes. Ia berharap lebih merasakan sensasi rasa sakit itu daripada rasa gatal yang mengganggu itu. Namun ia tak menduga kalau lelaki muda itu justru memanfaatkan situasi ini dengan mengecup cairan bening yang mengalir di pipinya. “Chelsea … sekali lagi kamu kabur dariku,” ucap lelaki itu dengan suara bergetar, “akan kupastikan kamu menyesal pernah lahir ke dunia.” Indira menelan ludahnya. Tubuhnya mulai goyah. Ia merapatkan kedua kakinya dengan gelisah. Rasa sakit itu perlahan menghilang dan sensasi gatal itu tak dapat lagi ia tahan. Indira mendorong tubuh lawan mainnya. Hanya satu yang ada di pikirannya, kamar mandi! Ia harus segera meredakan rasa itu. Tapi lelaki muda itu kembali menarik tubuhnya mendekat. Lalu ia mendekatkan wajahnya, seakan dengan sengaja melakukan improvisasi agar sang sutradara memujinya. “Kamu … tidak akan pernah … bisa kabur dari aku.” Napas Indira semakin kacau. Dadanya bergerak naik turun. Sensasi itu semakin menggila di dalam tubuhnya. Rasa gatal itu seakan menggelitik dengan kuat, membuat tubuhnya gemetar tak terkendali. “Cut!” Teriak sang sutradara. Suara tepukan tangan terdengar, membuat lelaki muda itu segera melepaskan tangannya dari pinggang Indira. Indira menatap sekelilingnya. Senyum dan tawa puas para kru, justru terlihat seperti sebuah cemooh terhadapnya. Semua mata yang menatapnya justru terlihat seolah ingin menelanjanginya. Jantungnya berdebar kencang dan dengan panik ia melangkah pergi dari lokasi. Namun tiba÷tiba, ia merasakan seseorang mencengkram pergelangan tangannya. Matanya membulat saat melihat lelaki muda aktor lawan aksinya tadi menatapnya dengan senyum yang jelas melecehkan. “Erik?” Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Indira. “Aku tahu semua rahasiamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN