“Kamu! Jangan harap kamu bisa ketemu sama selingkuhan kamu itu lagi,” teriak Marcel sebelum melangkah keluar dari kamar itu. Suara debam pintu yang tertutup, membuat Indira segera berdiri dan berlari menghampiri. Tapi pintu itu bergeming, bahkan saat ia mencoba untuk memutar kenopnya. “Buka pintunya! Marcel! Kamu nggak bisa kurung aku! Aku harus jaga mama, Cel!” teriak Indira sembari memukul pintu itu. Namun sampai tangannya sakit, pintu itu sama sekali tak terbuka. Marcel benar-benar sudah bertekad untuk mengurungnya di rumah itu. Dengan frustasi, Indira mengangkat kursi dan melemparkannya ke pintu. Suara benturan terdengar memecah keheningan. Namun pintu itu tetap dengan gagahnya berdiri seakan menantang serangan berikutnya. Tapi tenaga Indira semakin lemah. Tubuhnya merosot beg

