“Bu Indira, saya siapkan sarapan sesuai anjuran ahli gizi untuk kebutuhan Anda,” ucap gadis bertubuh mungil itu sembari meletakkan nampan yang dibawanya ke atas nakas, tanpa menatap wajah Indira, “asupan protein sengaja dipertinggi agar tubuh Bu Indira lebih bugar.” Indira menatap gadis itu dengan curiga. Ia memang pemalu. Tapi Lisna tak pernah keterlaluan dalam menundukkan wajah seperti yang dilakukannya kali ini. Ia seperti menyembunyikan kegelisahannya. “Lisna. Kamu sudah melayaniku selama tiga bulan terakhir. Aku bahkan menganggapmu seperti adikku sendiri,” ujar Indira, sengaja memancing empati gadis itu, “aku yakin, kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini.” Lisna sedikit mengangkat wajahnya, melirik tajam ke wajah Indira dengan perasaan takut-takut. “Lisna, boleh aku minta sesu

