Bab 8

1562 Kata
King segera masuk ke dalam vila itu dan mencari di mana Kavaya sedang di tahan. Richard segera menyusul King masuk ke dalam. Disana ada beberapa orang yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dimana mana. "Astaga..... udah jelas ini bakalan ada badai besar!" gumam Richard pelan. Dia segera berlari menyusul King untuk naik ke lantai atas. Saat Richard tengah bingung mencari di mana bosnya itu terdengar suara barang pecah berserakan. Tak hanya itu ada dua orang yang sedang di hajar oleh King sampai mereka babak belur. "Kan bener apa dugaanku!" Richard segera menghampiri King dan melihat di sana ada yang aneh dengan Kavaya. Richard segera masuk ke dalam, indera penciumannya mencium bau yang sangat dia kenali. Srettt.... "Kinggg....Berhenti.... Kavaya butuh kamu!!!" Richard berhasil menghentikan King menghajar orang yang sudah tak bergerak itu, bisa di pastikan jika kedua orang yang tadi di hajar King sudah tak bernyawa lagi. "Apa maksudmu?" tanya King yang masih menetralkan amarahnya. "Obat perangsang...." Satu kata dari Richard membuat mata King membola. King melihat ke arah Kavaya yang mulai bersikap aneh. "Leo mungkin sudah dalam perjalanan, biar kami yang mengurus mereka. Bawa gadismu pergi dari sini, dan kemungkinan itu dosis tinggi karena aku juga mencium ada bau alkohol dengan dosis tinggi juga." "Sial..." King segera menghampiri Kavaya, terlihat banyak keringat dingin di dahi gadis itu. Kavaya mulai bergerak gelisah bahkan dia juga ingin membuka bajunya tanpa sadar. King reflek mengangkat badan Kavaya untuk di bawa pergi dari sana. Sentuhan King pada Kavaya membuatnya langsung membuka matanya. "Tolong aku, kenapa ini badanku panas sekali...." Suara Kavaya mulai serak, membuat King meneguk ludahnya kasar. Bagaimana tidak tanpa sengaja bagian yang menonjol dari Kavaya terlihat olehnya, King adalah laki laki normal dan meskipun dia bukan pemain wanita tapi nalurinya sebagai laki laki juga akan tergerak dengan sendirinya. "King kamu lihat apa? Segera bawa dia pergi!" teriak Richard membuyarkan lamunan King tadi. Tanpa banyak bicara King segera pergi meninggalkan Vila itu dengan cepat. King meletakkan tubuh Kavaya di dalam kursi penumpang yang ada di sebelahnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat dan tepat di tengah jalan Kavaya mulai bertingkah. "Ini gerah banget... tolong aku butuh air!" rintih Kavaya lirih. King menepikan mobilnya dan berniat memberikan Kavaya air tapi matanya membelalak saat melihat keadaan Kavaya yang ternyata sudah membuka bajunya sendiri. "Astaga swetty...." decak King gemas. Tak hanya itu yang Kavaya lakukan, dia mulai mendekat ke arah King, alarm di kepala King mulai berbunyi tapi dia masih terpaku di tempatnya, menelan ludahnya kasar. "Swety, jangan mendekat... atau kamu akan menyesal seumur hidup kamu! Kavaya seolah tuli saat ini, dia mulai mengulurkan tangannya ke arah King dan dengan berani dia merangkak ke pangkuan King yang membuat King melotot. "Kamu tampan sekali, kamu bisa kan bantu aku. Tubuhku panas banget, aku butuh sesuatu...." Glek.... King kembali menelan ludahnya susah payah, di tambah di depan matanya terpampang nyata suatu keindahan yang membuat sesuatu di tubuh King mulai bergerak aktif. Kavaya yang tak sadar dengan apa yang di lakukannya bahkan dengan berani memulai mencium King lebih dahulu. Tak hanya itu, dia juga mulai menggerakkan bagian bawahnya untuk mencari kenikmatan karena badannya sendiri sudah tak bisa di kendalikan. Di sela ciuman mereka King menggeram berusaha menahannya akan tetapi dia kalah dengan nafsunya sendiri. "Swety, astaga..." erang King frustasi. King pun segera menyerang balik Kavaya yang tak mau diam sejak tadi, tapi dia merasa kesulitan karena saat ini posisi mereka ada di dalam mobil. Di sela kegiatan panas mereka, King mulai berpikir akan membawa Kavaya kemana karena jelas saat ini kondisinya seperti ini. "Tahan swety, kita pergi ke Vila ku yang ada di dekat sini!" King menahan Kavaya yang masih ada dalam pangkuannya dan dia mengemudikan mobilnya dengan cepat. King seolah tak bisa berpikir dan lupa jika mobilnya bisa di kemudikan otomatis. Ckittt.... Suara decit ban milik mobil King membuat beberapa penjaga Vila berjengkit kaget. Mereka bahkan melongo saat King terlihat menggendong seseorang yang di tutupi selimut oleh King. "Jangan ganggu aku, dan jaga Vila ini jangan sampai ada yang mengusik apa yang aku lakukan!" Para penjaga itu mengangguk, antara syok dan bingung tapi mereka tak berani membantah apa yang tengah di lakukan oleh Lord mereka. Pada saat perjalanan masuk ke dalam kamar King yang ada di ujung pun, Kavaya tak pernah mau diam bahkan semua area sensitif King pun di jamah oleh bibir manis milik Kavaya. Dan sepanjang perjalanan ke kamar itu King pun tersiksa dengan apa yang tengah menimpanya. Saat mereka sampai dalam lamar King, Kavaya segera di jatuhkan King di atas ranjang empuk miliknya dan membuat King segera melepaskan baju miliknya sendiri. Dia menatap lapar pada Kavaya yang saat ini hanya memakai dalaman saja. King juga melihat badan Kavaya sudah seperti cacing kepanasan. King mulai merangkak di atas badan Kavaya dan memandanginya dengan lembut. "Tolong aku, ini rasanya nggak nyaman sekali." rintih Kavaya dengan suara indahnya dan itu membuat hati King berdesir lebih dari sebelumnya. King mulai membelai lembut pipi Kavaya yang membuat Kavaya memejamkan matanya. Menikmati sentuhan yang di berikan King serta dadanya naik turun menahan semua gejolak yang ada di dalam dirinya akibat obat yang dia minum. "Swety, apa kamu akan membenciku ketika aku menolongmu malam ini?" Tanya King yang tiba tiba merasa takut dengan apa yang akan dia lakukan. Kavaya yang sedikit tersadar pun menatap King dengan sayu, tapi kemudian tanpa banyak bicara lagi Kavaya segera meraih wajah King dan menempelkan benda kenyal miliknya pada milik King. Tak hanya itu, dia juga mulai menggerakkan bibirnya agar King segera mau menyentuhnya. Otak Kavaya sudah tak bisa berpikir jernih lagi, saat ini dia ingin menyelesaikan rasa tersika di dalam dirinya ini. King sendiri masih menahan dirinya agar tak menyerang gadisnya saat itu juga. Tapi nyatanya tangan Kavaya sudah menjalar kemana mana dan itu membuat King merasakan pusing yang amat sangat di kepala atas dan bawahnya secara bersamaan. "Swety, jangan menyesal setelah ini karena aku pastikan kamu tak akan bisa kabur dan pergi dari sisiku. Meskipun kamu memohon dan berlari sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu!" ucap King serak. Setelahnya King menyerang Kavaya membabi buta, tak ada yang King lewatkan saat itu. Dia terus menelurusi lekuk tubuh Kavaya yang indah dan membuatnya tak bisa berhenti saat itu juga. Tangan King pun tak mau tinggal diam, dia meraba setiap inci dari Kavaya. King sendiri menahan mati matian apa yang seharusnya dia lakukan sejak tadi karena dia dan Kavaya juga baru pertama kali. Tapi King hanya mengikuti nalurinya saja sebagai laki laki. Saat tangan King mulai memegang bagian tubuh Kavaya yang menonjol dan terasa kenyal, suara indah Kavaya pun mengalun indah berbarengan dengan tangan King yang bergerak lincah di sana. Kavaya juga tak tinggal diam saja, dia malah memberi akses bebas agar King bisa melakukan apa yang dia mau. Mata Kavaya sudah semakin sayu apalagi indera pengecap King mulai menjalari setiap lekuk tubuhnya. "Ahhh...." Suara indah itu lolos lagi dari bibir mungil milik Kavaya dan itu membuat King semakin bergerak lincah di bawah sana. Permainan King pun sudah sampai di area bagian bawah dan itu membuat King sedikit ragu, dia sedikit mendongak ke arah Kavaya. "Pleasee, jangan siksa aku...." King memejamkan matanya sekilas dan tak lama dia membuka mata itu dengan cepat karena ternyata kepalanya juga semakin berdenyut. "Swety, ini kamu yang minta jadi jangan menyesal dengan apa yang akan terjadi pada kita malam ini," gumam King pelan. King melakukan kembali apa yang sempat dia tunda lagi, dia melihat bentuk indah yang ada di depannya ini dan terlihat sangat terawat. King sedikit menggoda Kavaya dengan sedikit meniupnya pelan. "Ahhhh..." Suara indah itu terdengar lagi di telinga King yang semakin membuatnya bertambah b*******h. King mendekatkan wajahnya pada lembah yang mulai lembab dan nampak memerah indah itu. King mulai menjulurkan benda tak bertulang nya ke area lembah lembab itu, membuat Kavaya sedikit melengkung kan badannya ke atas karena terkejut dengan apa yang dia terima. Aliran listrik yang begitu nikmat baginya menyengat semua tubuhnya, di tambah King mulai menggerakkan benda tak bertulang itu keluar masuk ke dalam milik Kavaya. Reflek kedua tangan Kavaya menarik rambut King dan malah memaksa kepala King untuk semakin masuk ke dalam sana. Tak ayal King pun mulai menggerakkan jari jarinya dengan menyibak lembah itu dengan perlahan. Dan awalnya yang terasa pelan lama lama semakin cepat. Mulai menerobos masuk ke dalam bagian inti lembah itu yang semakin basah karena Kavaya mulai mengeluarkan lahar panasnya. King melahap habis lahar itu, membuat Kavaya semakin menggelinjang tak karuan. Hampir setengah jam King memainkan jari jarinya di lembah itu tangan Kavaya mencengkeram kuat dan menekan kepala King semakin masuk ke dalam. King sendiri menuruti apa yang di mau Kavaya saat ini dan tak lama semburan lahar yang sangat banyak mengalir deras dari lembah indah milik Kavaya. King yang sedang menikmatinya pun menelan sampai habis dan tentu saja itu membuat Kavaya semakin menjerit tak karuan. Beruntung kamar milik King kedap suara jadi tak ada yang tahu atau mendengar suara suara laknat yang keluar dari dalam kamar itu. Setelah lahar panas itu tertelan semua King segera bangkit dari bawah dan melihat wajah cantik Kavaya yang masih memerah dengan napas yang masih tersengal setelah pelepasan pertamanya tadi. Kavaya memandang King dengan mata sayu nya. King tahu jika pengaruh obat itu belum sepenuhnya hilang. Tangan Kavaya sendiri sudah meraih benda keras dari balik celana pendek yang sudah mengetat milik King dan mengusapnya pelan. Saat ini gantian suara berat King yang menggema di kamar itu. "Sweety, ahhhh....." "Biarkan aku yang sekarang melakukannya." to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN