Bab 9

1302 Kata
Kavaya mulai melakukan aksinya pada milik King yang sudah berdiri tegak, seolah menantangnya untuk melakukan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dingin. Suhu udara di ruangan itu semakin panas saat Kavaya mulia bergerak, dan menyentuh milik King sepenuhnya. Meskipun sedikit kasar tapi King menikmatinya. Kavaya mulai mendekatkan wajahnya ke benda yang sudah tegak berdiri itu dan membuat King menahan napasnya sesaat. Tapi tak sampai beberapa detik mata King terpejam serta kepalanya menengadah saat benda itu masuk ke dalam mulut Kavaya. Lidah Kavaya juga ikut bermain. Otot ototnya pun juga terlihat di sana saat Kavaya mulai menggerakkan bibir manisnya untuk bergerak di sana. Tak hanya itu jari jemari Kavaya juga bergerak lincah mengikuti nalurinya. Dia terus memainkan benda milik King yang sedang di pegangnya saat ini. King sendiri sudah tak bisa melakukan apa apa karena Kavaya terus memanjakan junior miliknya. "Sweety, oh...." Akhirnya suara itu keluar juga dari mulut King dengan nada seraknya. Kavaya terus memainkannya dan juga menjilatnya seperti dia sedang memakan es cream. Dan tak lama lahar panas milik King pun akan meledak tapi King segera membalik posisi mereka dan membuat Kavaya sedikit terkejut. "Aku tidak ingin mengeluarkannya di dalam mulut manismu sweety, tapi aku ingin meledakkannya di sini." "Ahhhh...." Suara indah Kavaya terdengar kembali saat King menyentuh sebuah biji kacang, yang ada disana yang sudah membengkak karena ulahnya sejak tadi. Kavaya sudah memejamkan matanya karena King terus bermain di sana kembali agar lembah milik Kavaya mengeluarkan pelumasnya kembali. Dan benar saja tak menunggu lama badan Kavaya yang mulai terbiasa dengan sentuhan jari jari King kembali basah seperti sebelumnya. King tersenyum puas ketika melihat wajah Kavaya yang semakin menahan semua rasa nikmat itu. "Sweety, aku ingin mengatakan ini sekali. Jika kamu tidak mau melakukannya kamu bisa mendorongku dan aku akan membantumu tanpa melakukan hal yang lebih dari ini." Perkataan King membuat Kavaya membuka matanya yang masih sedikit berkabut. "Apa kamu bisa ku percaya?" Pertanyaan Kavaya tentu saja membuat King tertegun, dia tak menyangka malah akan mendengar pertanyaan seperti itu. King lalu meraih jari lentik Kavaya dan menciumnya dengan lembut. "Tentu saja kamu bisa mempercayaiku. Dan jika aku membuatmu ragu aku tak akan melanjutkan apa yang kita lakukan saat ini." "Aku akan menyerahkan seluruh hidupmu kepadaku jika memang kamu bisa ku percaya!" Jawaban Kavaya membuat King menatap Kavaya dengan intens. Di dalam mata Kavaya ada rasa sakit, berharap dan putus asa. King mengusap pipi Kavaya dengan lembut kali ini King yakin jika Kavaya sudah sadar dari pengaruh obat perangsang itu dan saat ini mereka melakukannya dengan keadaan sama sama sadar. "Kamu bisa mempercayaiku." Setelah mengatakan itu King segera menyerang kembali Kavaya, begitu juga Kavaya yang tak memikirkan jangka panjang karena entah kenapa hatinya terpaku pada satu sosok yang saat ini ada di atasnya dan bergerak dengan cepat. Saat benda tumpul itu ingin menerjang lembah lembab milik Kavaya, reflek Kavaya mencakar punggung King dan menjerit tertahan karena mulutnya di bungkam oleh bibir King yang terus menjelajah di setiap isi mulut Kavaya. "Shhhh..... Ah....sakit." Akhirnya setelah beberapa kali percobaan benda tumpul itu masuk dengan sempurna dan di bawah kungkungan tubuh King, ada seorang gadis yang menahan rasa perih dan penuh secara bersamaan di bagian inti tubuhnya. "Aku akan menggerakkannya secara perlahan Sweety." Kavaya mengangguk pelan dan tak lama King segera bergerak dengan perlahan yang pada akhirnya dia bergerak karena merasakan perasaan yang menggila di bawah sana. Begitu juga dengan Kavaya yang terlena dengan rasa nikmat itu. Bahkan dua buah benda yang kenyal yang juga bergerak indah di atas sana tak luput dari amukan bibir dan tangan milik King. Sudah banyak stempel yang ada di sana dan itu sengaja King buat untuk menandai Kavaya yang sudah menjadi miliknya. Malam itu entah sudah berapa kali King menyemburkan lahar panas miliknya dan Kavaya tak keberatan dengan apa yang terjadi ke depannya. Sampai di titik Kavaya sudah nampak pucat dan tak lagi seaktif tadi King memutuskan untuk mengakhiri permainan mereka. Tepat di semburan yang terakhir Kavaya sudah terlelap dalam tidurnya. King yang melihat itu menggeleng gemas dan dia menggendong tubuh Kavaya ke kamar mandi untuk di bersihkan. Saat badannya terkena air pun Kavaya tak mau membuka matanya karena dia sudah kelelahan dan juga sangat mengantuk. King kembali merebahkan tubuh Kavaya di ranjang miliknya yang sudah berantakan akibat ulah mereka tadi. Dia memandangi wajah Kavaya yang nampak tenang dan damai saat tertidur seperti ini. Cup.... "Mimpi indah Sweety..." King meninggalkan Kavaya di kamar sendirian, sementara dia pergi ke ruangan yang ada di sebelahnya untuk memeriksa laporan Leo dan Richard yang sudah masuk kepadanya sejak tadi. Bahkan Leo terus menghubunginya sejak tadi karena keberadaan King tak bisa di lacak sejak tadi. Tuttt.... Tuutt.... "Hal...." Belum sempat King mengatakan satu kata, dari seberang telfon sana sudah di berondong dengan berbagai kata dan umpatan. "Kamu pengen aku pecat Leo?" Satu kalimat itu membuat Leo langsung menghentikan ocehannya pada King yang tadi membuat telinga King berdengung kesakitan. "Kamu dimana? Dan bagaimana dengan gadis itu?" Akhirnya Leo memilih bertanya dengan perlahan pada King, karena dia tak ingin membuat King semakin marah kepadanya. "Di Villa, dan gadisku sedang tertidur pulas di kamarku." Sedetik, dua detik jawaban ambigu King membuat Leo melongo cengo. Dia dan Richard yang ada di sebelahnya saling pandang dan mulai menebak kemana arah jawaban King itu. "Ck, kalian lamban." Leo tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat yang di lontarkan oleh King dan dia mulai paham arah pembicaraan King barusan. Tapi dia tak ingin bertanya lebih jauh tentang itu, cukup Leo mengetahui jika King dan Kavaya dalam keadaan baik saat ini. "Jadi apa kamu sudah dapatkan semua informasi soal orang orang itu?" "Aku sudah mengirimkan semua datanya ke dalam email mu. Kamu bisa melihat semuanya di sana. Aku dan Richard akan tidur, jadi kami tak perlu menjelaskannya panjang lebar karena semua sudah ada di sana!" "Ah dan satu lagi, kami tak akan mengganggumu!" Bip.... Tanpa menunggu jawaban dari King, Leo segera memutuskan untuk menutup panggilan telfonya dan itu membuat King mendengus kesal. "Dasar anak buah durhaka semua. Lihat aja apa yang akan aku berikan pada mereka semua esok hari!" Setelah memenangkan dirinya sendiri, King segera membuka File yang di maksud oleh Leo, dan matanya menajam saat tahu siapa dalang di balik apa yang menimpa gadisnya itu. "Heh, mereka memang iblis. Hanya demi sebuah harta benda mereka sampai menghalalkan semua cara untuk mendapatkannya!" gumam King sambil terus memeriksa semua data informasi itu. King menemukan sesuatu yang menarik di sana dan itu membuatnya menyeringai jahat. "Ternyata wanita ini sudah banyak memakan korban yang di tipu. Dan anaknya ini juga sering banget masuk ruang operasi hanya untuk mengembalikan miliknya yang sudah tak perawan lagi. Benar benar menjijikan!" King pun memutuskan untuk menutup file itu dan memilih kembali ke kamarnya karena dia sudah bisa menyimpulkan seperti apa dua orang yang sedang dia incar setelah ini. King naik ke ranjang di mana Kavaya sedang tertidur pulas dan dia meraih badan Kavaya untuk dia peluk kembali. Tak lama King pun ikut terlelap menyusul Kavaya pergi ke pulau mimpi. "Dia seperti kelinci kalau sedang terlelap begini!" * * Sementara itu, Miranda sedang kelabakan karena semua orang suruhannya tiba tiba di kirim ke rumahnya dalam keadaan tak bernyawa lagi. Beruntung tak ada orang lain yang mengetahuinya. Dia hanya menyuruh penjaga rumah segera membawa pergi semua paket berisi mayat itu. "Sialan, ini siapa yang malah mengajakku bermain. Dan kenapa bisa tahu jika aku yang melakukan semuanya!" Miranda mondar mandir di dalam kamarnya terlihat berpikir keras siapa yang berani mengirimkan semua peti itu. Dia juga sedang berpikir dimana sekarang Kavaya berada. Dia mulai ketakutan jika Kavaya akan melapor pada polisi dan namanya akan ikut terseret. "Aku harus segera menemukan anak sialan itu!" "Jika tidak, tak hanya aku yang akan masuk penjara. Tapi Rebecca juga akan terkena imbasnya. Aku tak mah menghancurkan mimpinya yang sebentar lagi akan masuk dunia model. Dan Kavaya, lihat aja kamu anak sial. Aku akan bikin kamu menghilang selamanya!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN