Pagi hari menjelang, tapi dua orang yang baru saja menyelesaikan pergumulunnya semalam masih terlelap dalam tidur.
Kavaya yang matanya terkena sinar matahari yang masuk ke dalam kamar itu mulai membuka matanya perlahan. Tapi dia mengerutkan keningnya saat dia merasa ada benda berat di atas perutnya. Awalnya dia bingung saat melihat atap kamar itu yang jelas bukan kamarnya. Dia juga beralih pada perutnya dan seketika matanya terbelalak saat melihat ada tangan kekar yang melingkar di atas perutnya.
Kavaya masih terdiam mengingat apa yang terjadi, dan matanya membola sempurna saat ingatan demi ingatan apa yang terjadi semalam mulai terlintas di benaknya.
"Astaga, apa yang aku lakuin?" gumam Kavaya lirih.
Dia dengan pelan menyingkirkan tangan itu dan ingin pergi dari sana. Tapi ternyata bagian inti miliknya masih terasa perih dan membuatnya meringis kesakitan.
"Sshhh....."
Dan karena posisi dia yang tak benar akhirnya Kavaya pun terjatuh di atas lantai.
"Awww...."
King yang semula terlelap reflek bangun saat mendengar suara Kavaya yang mengaduh.
Kavaya sendiri memegangi bagian badannya yang terasa sakit dan semakin perih.
"Sweety, astaga...."
King yang memang sudah memakai celana pendeknya seketika bangun dan menghampiri Kavaya yang masih terduduk di lantai. Dia spontan mengangkat badan Kavaya yang membuat Kavaya melototkan matanya dengan sempurna.
"Apa yang kamu lakukan di bawah? Kenapa bisa sampai jatuh begitu?"
Kavaya mengatupkan kedua bibirnya karena dia bingung ingin mengatakan apa dan dia masih mencerna apa yang terjadi saat ini. Kavaya reflek mengalungkan kedua tangannya di leher King.
King berjongkok di sebelah Kavaya dan melihat tangan atau Kaki Kavaya, dia memastikan tak ada yang terluka atau terbentur sesuatu. Kavaya sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi dan dia memegangi selimut yang tengah membungkus badannya agar tak melorot ke bawah.
King yang sejak tadi panik langsung tersadar dengan kediaman Kavaya saat ini. Dia mengusap wajahnya kasar karena jelas Kavaya tidak akan bersuara dengan kondisi yang berbeda dengan semalam.
"Tunggu di sini."
Kavaya masih tak menyahut apa yang King katakan dan dia hanya melihat kepergian King yang terburu buru dan kembali ke kamar dengan membawa satu paper bag yang terlihat seperti baju baru untuk wanita.
"Ganti baju dulu dan bersihkan badan kamu Sweety, nanti kita bicara lagi. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk kita setelah ini. Aku akan membersihkan diriku di kamar mandi sebelah."
Setelah King menyerahkan paper bag itu, dia pergi lagi meninggalkan kamarnya. Tapi tak sampai sedetik dia kembali melongo kan kepalanya di pintu kamar itu.
"Aku bukan orang jahat jadi jangan berpikir aneh aneh soal aku. Dan aku nggak akan kabur kemana mana, jadi tunggu aku di sini. Kita bicara lagi nanti."
Setelah mengatakan itu King benar benar menghilang dari balik pintu. Kavaya melirik paper bag baju itu dan meraihnya perlahan. Masih ada rasa nyeri di bagian bawahnya, tapi dia harus segera membersihkan dirinya dan sialnya dia merasa lapar saat ini.
"Sial, ini perut malah bikin malu aja!" gerutu Kavaya.
Dia turun perlahan dari ranjang itu dan berjalan pelan ke arah kamar mandi yang ada di sana. Dia menahan perih di bagian inti miliknya dan mendesis pelan setiap rasa nyeri itu datang.
Kavaya segera membuka selimut yang di pakainya dan alangkah terkejutnya saat melihat seluruh badannya yang atas penuh dengan tanda kepemilikan dari King. Kavaya mulai mengingat apa yang sudah terjadi padanya dan juga King.
Blush...
Wajah Kavaya memerah saat samar samar dia mengingatnya kembali. Kavaya menepuk kedua pipinya karena bisa bisanya dia mengingat kejadian itu, padahal dia tak mengenal King saat itu dan dengan bodohnya dia malah menyerahkan semuanya kepada laki laki itu. Kavaya kembali melihat bekas tanda kepemilikan itu yang mulai membiru karena memang sudah lewat berapa jam sejak King melakukannya.
"Apa dia Vampire? Dia menandai badanku sampai seperti ini!"
Kavaya memegang semua bekas tanda itu dan setelahnya dia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya dengan air hangat dan itu sangat membantunya mengurangi rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
Setelah dia menyelesaikan ritual mandinya dia segera mengenakan pakaian yang di sediakan oleh King tadi. Ternyata di dalamnya ada sebuah salep untuk mengurangi rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
"Dia baik banget ternyata, sampai ada salep begini juga." gumam Kavaya lirih.
Kavaya segera mengolesnya pada bagian miliknya yang terasa nyeri, setelahnya dia memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi. Pada saat dia keluar dari kamar mandi ternyata di luar sana King sudah kembali, terlihat dia sedang menata makanan untuk mereka di bawah dekat ranjang mereka tadi.
King yang menyadari keberadaan Kavaya pun menoleh dan tersenyum manis ke arahnya yang membuat Kavaya sedikit salah tingkah.
"Kamu sudah selesai? Kita makan dulu karena mengobrol pun butuh tenaga bukan?"
Kavaya mengangguk pelan, dan dia berjalan ke arah dimana King menyiapkan makanan mereka.
Kavaya baru sadar jika bagian bawahnya pun sudah tak terlalu sakit dan itu setelah dia mengoleskan salep yang di berikan King tadi. Mereka lalu duduk berdua dan makan dalam tenang. Di benak Kavaya sendiri sudah banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan. Tapi pada saat Kavaya memerhatikan wajah King dia merasa familiar dengan wajah itu seolah dia pernah melihatnya.
King yang tengah di pandangi pun mengalihkan fokusnya dari makanan yang ada di depannya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
"Eh....."
Kavaya pun gelagapan karena kepergok sedang memerhatikan King sejak tadi. Dia langsung menunduk saat di tatap King dengan intens.
"Itu, em, apa aku mengenalmu?" tanya Kavaya akhirnya.
King segera menyelesaikan makannya dan menatap lekat ke arah Kavaya.
Dia menyingsingkan lengan bajunya dan terlihat di sana ada bekas luka tembak yang terlihat masih baru. Dan itu membuat pikiran Kavaya berkelana. Dia mencoba mengingat tentang bekas luka itu. Dan matanya membola saat mengingatnya. Apalagi di sana ada gambar tatonya pedang yang di silang dan lilit ular.
King yang melihat ekspresi Kavaya pun nampak tersenyum.
"Pikiran mu benar, terima kasih sudah menyelematkan ku waktu itu," ucap King dengan tulus.
"Jadi benar, kamu laki laki yang ada di gudang itu. Ah, syukurlah kamu selamat, aku bingung karena waktu aku bangun kamu sudah nggak ada. Aku kira mereka menemukanmu waktu itu."
Kavaya terlihat lega setelah mengetahui jika King benar laki laki yang waktu itu dan entah kenapa dia juga merasa lega saat ini, karena yang bermalam dengannya adalah laki laki yang pernah di tolongnya itu.
Tapi dia heran kenapa dia bisa bersama laki laki itu saat ini, padahal mereka tidak pernah saling kenal dan hanya sebatas dia menolongnya waktu itu.
"Tapi aku punya pertanyaan untukmu. Kenapa bisa kita ada di sini? Dan maksudku kenapa kamu bisa bersamaku di sini? Karena yang aku ingat ada seseorang yang membawaku waktu itu dan jelas itu bukan kamu."
Kavaya langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa basa basi lebih dahulu kepada King.
"Kamu percaya cinta pandangan pertama?"
Kavaya menaikkan sebelah alisnya bingung dengan pernyataan yang di berikan King barusan.
"Cinta pandangan pertama? Apa maksudnya?"
King berdiri dari duduknya dan menghampiri Kavaya, dia duduk di sebelah Kavaya dan memegang tangannya.
"Kita kenalan dulu mungkin akan lebih baik. Panggil aku King, dan aku sudah jatuh cinta sama kamu saat aku melihatmu pagi itu di gudang. Dan ya, setelah itu aku mengawasi mu dan menjagamu. Jadi ini adalah jawaban dari pertanyaanmu yang tadi bertanya kenapa kita dari semalam ada di sini. Mungkin jika aku tak menyuruh anak buahku menjagamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadamu waktu itu."
Kavaya mendengarkan dengan seksama, dan matanya berkaca kaca karena ada yang menjaganya meskipun mereka tak saling kenal.
"Berarti jika kamu yang menjagaku, bukan tak mungkin kamu juga sudah tahu namaku?" selidik Kavaya pada King.
King yang mendengar itu tentu saja langsung tersenyum lebar.
"Pinter banget hemmm..."
King mencubit sedikit pipi Kavaya yang merona merah karena di goda oleh King.
"Maaf sweety, tapi ketika aku menandai seseorang untuk menjadi milikku, aku akan melakukan hal hal yang mungkin tak bisa di tebak nantinya."
"Dan berapa wanita yang sudah masuk jebakan mu tuan King?" selidik Kavaya curiga.
King yang tak menyangka akan mendapatkan tanggapan seperti itu awalnya melongo, tapi kemudian dia tertawa terbahak dan itu membuat Kavaya mendengus tak suka melihatnya.
"Aku tipe orang yang pemilih karena aku nggak mau sampai nanti ada orang orang yang memanfaatkan ku atau apapun yang ada di sekitarku. Dan orangtua ku pun tak akan bisa mengaturku jika aku mau sesuatu. Karena sekarang aku sudah memilihmu, mau tak mau mereka semua juga harus menerimamu."
"Cih, pemaksa sekali anda!" sindir Kavaya pada King.
King nampak tersenyum tipis karena ternyata Kavaya tak menolak kehadirannya.
Kavaya pun kembali terdiam, dia mengingat jika dia sudah tak pulang ke rumah dua hari. Tapi dia tak peduli karena jelas tak akan ada orang yang mencarinya, di tambah papanya juga tak ada di rumah. Tapi meskipun papanya ada di rumah papanya juga tak pernah peduli dengannya. King yang melihat wajah berbeda dari Kavaya kembali mendekat ke arah Kavaya.
Dia menepuk pelan kepala Kavaya dan membuat Kavaya mendongak melihat ke arah King.
"Jangan mengkhawatirkan apapun setelah ini karena sudah ada aku di sini. Dan lagi setelah ini kamu akan ikut aku pergi ke mansion kedua orang tuaku. Kamu bisa menganggap mereka juga sebagai orang tuamu nantinya."
Tess....
Satu tetes air mata akhirnya lolos dari sudah mata Kavaya dan dia segera mengusapnya cepat.
"Terima kasih, dan aku mengingat semua yang kamu katakan padaku tadi malam."
King menaikkan sebelah alisnya, tapi kemudian dia tersenyum lembut ke arah Kavaya.
"Ya dan tak akan ada lagi yang bisa menyakitimu setelah ini."
to be continued