"Ya Allah. Sejak pertama bertemu, Endit kira Ustadzah Azizah belum menikah. Rupanya malah sudah punya anak." Aku benar-benar terkejut. Raut wajahnya Ustadzah Azizah tersenyum menggodaku. "Kenapa, Endit tidak menyangka, ya? Memangnya Ustadzah tampak seperti masih embak-embak, ya? Padahal sudah mamak-mamak ini." Kami semua tergelak. Aku pun memperhatikan wajah Bunda dan Ustadzah Azizah bergantian. "Jadi Bunda dan Ustadzah Azizah seumuran?" "Ya, kurang lebih. Kami bertiga beda usianya tidak terlalu jauh. Sewaktu bersekolah di sini, kami masih sempat bertemu. Cuma Bunda memang tidak lama mondok di pesantren. Bunda meneruskan sekolah asrama di kota Jogja, tidak tahan dengan hawa dingin di dekat puncak gunung Merapi ini." "Ustadzah Azizah tampak lebih muda dari Bunda." Bunda tersenyum d