KEMBALI MELATI

1168 Kata

"Endit! Endit, bangun!" Ada tangan yang sedang mengguncang tubuhku dengan kuat. Segera aku membuka mata. "Bunda!" Aku pun segera duduk dan memeluk Bunda. "Alhamdulillah. Endit takut sekali, Bun. Melati mau memaksa Endit untuk ikut dengannya." Aku menangis tersedu dalam pelukan Bunda. "Melati? Melati itu siapa, Endit?" Bunda bertanya dengan nada panik. "Sudah, Bun. Biarkan Endit tenang dulu. Nanti Kakek dan Nenek mendengar suara tangisan Endit dan ikut panik. Endit istighfar, sambil atur napasnya, ya." Terdengar suara Ustadzah Azizah di belakangku. Aku pun menyusutkan air mata dan mengendurkan pelukan pada Bunda. Mencoba mengikuti saran Ustadzah Azizah. Aku mengatur napas dan melafazkan istighfar. Ustadzah Azizah mengelus-elus punggungku sambil membimbingku membaca dzikir. Bunda menga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN