MENINGGALNYA MELATI

1045 Kata

"Melati?" "Iya, perempuan yang dalam mimpi Endit." Kami berdua berdiri melihat pada lukisan. Bulu kudukku meremang, jantungku berdetak lebih cepat. Teringat kembali ucapannya yang pernah memenuhi lubang telinga dan rongga kepalaku. "Jangan takut, Endit harus jadi pemberani. Ucapkan salam saja. Katakan Endit mau pergi dari hotel ini, jangan ikut. Karena rumahmu di sini." Ustadzah Azizah berbisik di dekat telingaku. Aku pun mengikuti apa yang dikatakan Ustadzah Azizah. Dengan mengucapkan taawudz dan basmallah terlebih dahulu, aku ucapkan kata-kata itu dengan tenang. Baru saja aku selesai menutup mulut, mata dalam lukisan itu pun bergerak. Aku tersentak dan mundur selangkah. Ustadzah Azizah dan Bunda memegangi pundakku. Seolah memberi kekuatan. "Endit, Nur, Azizah. Ayo! Kenapa berhenti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN