Puri melempar ponselnya menjauh dari tempat ia berdiri. Ponsel itu sengaja di lempar di kasur yang empuk. Puri belum segila itu melempar ponsel mahal yang ia beli dari hasil kerja kerasnya tu ke lantai. Tindakan konyol dan bodoh yang bakal membuat Puri menyesal seumur hidup.
"Udah selesai marah -marahnya? Pakai banting ponsel segala," ucap Aji yang sudah ada di dalam kamar Puri saat Puri membalikan tubuhnya.
Puri menatap Aji lalu membuang pandangannya ke arah lain. "Ngapain kesini sih? nanti juga aku pulang ke kost," ucap Puri pelan.
"Gak usah memulai perdebatan Puri. Kita ini suami istri. Sudah seharusnya kita itu bersama setiap waktu. Apalagi kita itu pengantin baru. Apa kata orang nantinya? Kata Ibu juga?" ucap Aji pada Puri.
"Hiss ... Peduli kata orang," ucap Puri ketus. Suasana hatinya masih tidak baik -baik saja. Pekerjaannya semakin berat. Hubungannya dengan Aji malah menimbulkan masalah baru di kantor. Apalagi dengan para ciwi -ciwi yang engidolakan Aji sejak lama.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Puri ... Ajak Aji makan dulu. Ibu sudah masak buat makan malam. Baru nanti lanjut istirahatnya," titah Ibu Puri dari balik pintu kamar Puri yang sudah di tutup rapat oleh Aji.
"Iya Bu. Sebentar lagi nyusul ke meja makan," ucap Puri sedikit berteriak namun tetap terdengar sangat hormat sekali.
Puri melepas jasnya dan di sampirkan di kursi meja rias.
"Mas Aji mau makan dulu apa mandi dulu?" tanya Puri pelan.
"Mau meluk kamu. Boleh kan?" ucap Aji pelan sekali lalu menghampiri Puri dan memeluk Puri dengan erat tanpa menunggu jawaban dari Puri.
Aji sudah mendekap tubuh Puri dengan sangat erat sekali.
Kepala Aji sengaja di letakkan di bahu Puri dan mengendus pelan.
"Hmmm ... Bau acem ..." ucap Aji pada Puri namun dekapan itu tak di lepasnya juga.
"Haisshh ... Udah ah ... Lepas!" ucap Puri kesal. Puri mengendurkan tangan Aji di pinggangnya.
"Kok di lepas. Mas masih kangen tahu," cicit Aji pada Puri. Aji menegakkan kepalanya dan menatap Puri dengan lekat.
"Kangen? Mas ... Kita seharian itu bareng lho. Kta satu kantor, satu divisi, cuma beda bilik aja. Makan siang bareng, berangkat ke kantor bareng, terus? Masih bilang kangen. OMG Mas Aji ..." ucap Puri menepuk jidatnya yang sedikit lebar itu.
"Itu kan beda Ri. Di Kantor kita berdua kan gak berkutik. Selalu bareng tapi gak ada sentuhan fisik. Cuma lihat kamu aja dari jarak beberapa senti meter. Kayaknya Mas udah mulai jatuh cinta sama kamu deh, Ri," ucap Aji pelan.
"Hmmm ... Bukan ini udah sering Mas Aji ungkapkan sama Puri. Mau makan apa mau begini terus? Gak enak sama Ibu. Nanti di kira ngapain lama -lama di kamar," ucap Puri pelan sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Namanya juga pengantin baru. Wajar dong lama -lama di kamar," ucap Aji tertawa.
"Gak usah bikin orang berpikir yang tidak -tidak," ucap Puri melotot lalu keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Puri ... Puri ..." ucap Aji mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Aji sendiri tak pernah menyangka kalau ia akhirnya menikahi rekan kerjanya satu divisi. Lebih tepatnya bawahannya sendiri. Lucu juga kehidupan ini. SEolah semesta memang sedang mengajak keduanya bermain di Taman.