"Tuh kan ... Gak pernah konsentrasi. Begini nih Puri, Nak Aji," ucap Ibu Puri sambil mengunyah makanan di mulut lalu di telan begitu saja.
"Apaan sih Bu," ucap Puri lagi dengan rasa bingung.
"Bu ... Sayurnya enak," ucap Aji mencari tema lain agar Puri tidak salah pajam saja sejak tadi.
"Enak Nak? Habiskan ya. Jangan kayak Puri, Kalau makan susah banget. Sekalinya makan itu pilih -pilih aja. Kayak cari suami aja. Dari dulu cuma pilah pilih dan akhirnya di tinggal saja. Untung ketemu sama Nak Aji. Kalau gak ..." ucapan Ibu Puri langsung di sela oleh Puri.
"Kalau gak? Kenapa Bu? Puri jadi perawan tua?" ucap Puri sedikit sensitif.
"Bukan gitu Puri. Ibu cyuma mau bilang. Bahwa semua itu datanganya tiba -tiba dan indah pada waktunya," ucap Ibu Puri merasa bersalah.
"Ekhemm ... Kita lanjut makan lagi ya," ucap Aji mencoba mencairkan suasana.
Semua langsung terdiam dan melanjutkan makan malamnya. Begitu juga dengan Aji yang terpaksa menikmati berbagai macam sayuran masakan Ibu mertuanya.
Malam ini, Aji meminta Puri untuk menginap semalam. Besok berangkat pagi -pagi ke kantor bersama.
Puri masih berada di depan kaca riasnya sambil mengelap wajahnya dengan face tonic favoritnya.
"Kamu kenapa sih, Ri? Mas lihat dari siang agak bete gitu? Kalau ada sesuatu itu cerita," ucap Aji yang sudah setengah rebahan di kasur.
"Gak apa -apa," jawab Puri dengan suara ketus.
Aji bangkit dari tidurnya lalu beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Puri. Aji memilih bersandar di meja rias dan menatap wajah Puri yang sudah polos tanpa riasan sedikit pun.
"Ada masalah apa di Kantor?" tanya Aji langsung to the point dengan tatapan lekat ke arah Puri.
"Gak ada Pak Aji," ucap Puri pelan sambil menggosok wajahnya dengan kapas dan mulai memakai krim malam agar wajahnya nampak lebih glowing dan sehat.
"Apa? Pak? Hem? Mau panggil Pak? Gitu?" tanya Aji sedikit meninggi.
Puri langsung meletakkan kapasnya dan membalas tatapan Aji yang begitu lekat dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Kenapa? Gak ada masalah kan, panggil Pak Aji juga? Satu lagi, Kayaknya kita gak cocok deh, Pak. Mau di paksa juga, sepertinya susah untuk bareng," jelas Puri dengan suara tegas.
"Maksud kamu apa, Ri? Kamu ngomong itu di pikir dulu apa enggak? Bisa -bisanya kamu ngomong asal kayak gitu. Kita ini udah nikah, Ri. Walaupun kita nikah sepertinya terlalu cepat. Tapi, Kita punya banyak kesamaan," jelas Aji yang sudah mulai sayang dan mencintai Puri.
"Kesamaan? Kayaknya kita gak punya kesamaan. Ada juga kenal Pak Aji, Puri malah tekanan batin," ucap Puri ketus.
Puri menutup botol krim malamnya dan meletakkan di meja rias lalu beranjak menuju peraduan yang bakal menyenyakkan tidurnya malam ini.
"Kamu ngomong apa sih, Ri!!" ucap Aji dengan nada meninggi.
"Puri capek Pak. Udah ya. Puri mau tidur," ucap Puri dengan cepat langsung mengambil posisi untuk tidur. Selimut tebal sudah di angkat dari ujung kakinya menutup hingga kepala.
Aji ikut beringsut menuju tempat tidur juga dan merebahkan tubuhnya di samping Puri.
"Ri ... Ada apa sih? Cerita dong?" tanya aji masih penasaran.
Aji mengehmbuskan napasnya dengan kasar. Ia bingung sekali. Tadi, Manajer bilang akan ada pengangkatan karyawan ke level yang sedang kosong. Tapi, Ada syaratnya. Syaratnya terlihat mudah namun terasa sulit di jalani.