38

543 Kata
Puri sepertinya sudah terlelap karena tubuhnya sudah tak bergerak lagi kecuali terdengar dengkuran halus dari bibirnya yang mungil. Bibir yang pernah Aji cicipi beberapa waktu lalu dan semua itu terjadi begitu saja. Tangan Aji sengaja di letakkan di keningnya dan mengkhayal tentang keindahan suatu mimpi yang pernah ia bangun bersama wanitanya terdahulu. Pengkhianatan yang berujung kebencian. Rasa itu tiba -tiba saja meluap enath kemana. Hanya saja, Aji belum bisa melupakan Mariska secara penuh dari pikirannya. Semua tentang mantan tunangannya masih tersimpan rapi di memori otaknya. Aji melirik Puri yang masih pulas tertidur dengan menghadap ke arah membelakangi Aji. Puri juga memiliki nasib tragis yang sama seperti dirinya. Puri yang sudah menetapkan tanggal pernikahan juga terpaksa membatalkan semua rencananya karena calon suaminya berkhianat. dari sekian banyak gadis yang ia temui di Kantor. Hanya Puri yang memiliki sikap dan sifat yang baik. Diam -diam, Aji sering mengamati bawahannya dan menilai serta membandingkan satu sama lain. Nyatanya saat ini penilaian itu benar -benar berguna sekali untuk memilih jodohnya. Lama -lama Aji pun mulai merasakan kantuk yang tak tertahankan lagi. Ia pun mulai memejamkan kedua matanya dan terlelap sambil memeluk guling kesayangan Puri. Karena ia sedang menginap di rumah Ibunya Puri. Pagi pun menjelang mengganti malam yang sukses membuat keduanya terlelap dan melupan ras lelah dan capek selama seharian bekerja. Rasanya begitu bebas dan beban di pundak hilang begitu saja. Tanpa sengaja saat alarm ponsel mereka berdering secara bersamaan. Mereka berdua sama -sama membuka mata dan berteriak histeris. Terutama Puri yang teriakannya paling keras dan lantang seerti habis melihat hantu nenek gayung yang bersiap mencekik lehernya. "Aaaawwwww ..." "Aaawwwww jugaaaaaa ...." "Kamu ngapain peluk -peluk Puri!! Sengaja ya!!" ucap Puri dengan ketus. "Dih!! Ngapain sengaja juga. Mending langsung bilang kalau mau meluk. Ma s itu masih punya harga diri. Masih bisa menahan," ucap Aji tak kalah lantang sambil mengehmbuskan napasnya perlahan. "Hmmm ... Tapi kayaknya emang sengaja deh. Cari kesempatan buat megang -megang," ucap Puri ketus. "Lhoo ... Ri. Kita kan udah suami istri. Mau pelukan tanpa sengaja. Mau ciuman atau bermesraan juga hukumnya halal. Gak ada masalah," ucap Aji mengingatkan. "Iya bener. Tapi itu berlaku untuk kemarin -kemarin. Kalau sekarang. Kayaknya, Puri gak bisa lagi," ucap Puri cepat. "Gak bisa lagi? Kamu itu gampang banget ngomong gitu ya? Sekali waktu bilang suka, lain waktu benci, beda hari lagi tiba -tiba cinta. Kamu sadar gak sih? Kalau kita sudah menikmati satu sama lain?" ucap Aji menatap Puri begitu lekat. "Iya inget. Teris mau di apain? Kemarin -kemarin Puri itu sudah berusaha sekuat tenaga, berusaha untuk bisa menerima kenyataan yang ada. Tapi, Ternyata gak smeudah itu," ucap Puri melemah. Apalagi sore tadi, Arka berani menghubungi Puri dan sukses membuat Puri kembali bimbang dan tak bisa menerima semua kenyataan pait ini. "Aneh kamu, Ri!! Kebanyakan wanita itu malah takut di tinggal lelaki yang sudah menikmati smeuanya. tapi, Kamu kayak malah nantangin," ucap Aji tak suka. "Bukan nantangin Mas. Cuma memang kita berdua itu butuh waktu. Butuh proses yang gak singkat juga," jelas Puri yang mulai merasa tidak yakin akibat kehadiran Arka kembali merusak pikirannya. "Arghh ... Akumau mandi saja," ucap Aji lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Puri hanya bisa bernapas lega. Kesalahan fatal kedua adalah Puri dengan mudahnya menerima Aji hingga pernikahan itu terjadi dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN