39

533 Kata
Aji sudah keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk berangkat kerja dengan seragam kantor yang sama dengan kemarin. Ibu Puri juga sudah menyiapkan kopi hitam untuk menantunya dengan roti tawar isi selai kacang. "Puri mana? Gak kerja?" tanya Ibu Puri pada Aji. "Kerja Bu. Lagi mandi. Lain kali, Ibu gak perlu repot -repot buatkan kopi. Biar Puri saja," ucap Aji menasihati. "Lho ... Gak apa -apa. Ibu kan hanya sekedar membantu meringankan pekerjaan Puri sjaa. Sekalian mencontohkan kepada Puri, bahwa ini yang seharusnya Puri lakukan pada kamu, Aji. Melayani suaminya dengan baik penuh ketulusan," jelas Ibu Puri yang lalu meninggalkan Aji terdiam menatap aroma kopi buatan mertuanya itu. Puri mungkin belum terbiasa dan perlu beradaptasi dengan statusnya saat ini. Tak lama, Puri juga keluar dari kamar lengkap dengan seragam blazer yang menunjukkan sedikit belahan gunung kembarnya. Rok span pendek di atas lutut dengan warna senada itu masih juga ada belahan sedikit hingga paha bagian atas. Aji menatap Puri dengan takjub. Puri memngn terlihat sanagt berbeda lebih cantik dan terlihat sangat elegan dan modis. Puri melewati Aji dan ikut diidk di kursi yang bersebelahan dengan Aji. Ekor mata Aji masih saja mengekor ke arah sosok wanita yang duduk di dekatnya. "Biasa aja kali ngeliriknya," ucap Puri ketus. "Siapa yang ngelirik. Pe De banget," jawa Aji dengan asal tanpa peduli lagi. Puri hanya mendengus dengan kesal. Wajahnya langsung mencari obyek lain untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia berpura -pura untuk mencari sesuatu dari dalam tas kerjanya. "Bu ... Puri berangkat dulu ya. Nanti mau sarapan aja di Kantin," teriak Puri yang langsung berdiri dan menenteng tas kerjanya lalu berjalan ke luar dari rumahnya untuk menunggu taksi. "Puri!! Kamu apa-apaan sih!!" ucap Aji yang mengejar Puri dengan cepat. Lengan Puri di tarik Aji hingga mmebuat tubuh Puri berbalik dengan paksa. "Apaan sih Mas?! Lepas gak!!" teriak Puri dengan suara keras saat berada di teras rumah. Keributan hal sepele itu membuat Ibu Puri pun segera keluar dari rumah dna melihat apa yang terjadi antara puteri semata wayangnya dengan menantu baiknya itu. "Kamu itu yang kenapa?!! Sengaja mau menjatuhkan harga diri, Mas!! mas tahu, Ri. Mas itu di sini cuma numpang. Tapi, Tolong kamu hargai Mas juga bukan malah ikut menyoraki Mas karena kekurangan Mas!!" tegas Aji yang begitu kasar dan keras dengan suara manja berlipat. "Apaan sih Mas? Lepasin tangan Puri!! Gak enakitu di lihtain Ibu!!" ucap Puri ketus. Aji langsung melepas cengkeraman di lengan Puri dan menarik napas panjang. Aji menoleh ke arah belakang sekilas. Di sana Ibu mertuanya sudah berdiri dan memberikan senyuman penuh arti untuk Aji. Puri langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil itu dengan kasar. "Aji pamit Bu. Mari," ucap Pamit Aji dengan sopan dan sedikit salah tingkah. Aji takut Ibu mertuanya berpikir Aji bukan orang baik dan malah menyiksa anak gadisnya. "Hati -hati Ji. Kamu yang sabar ya ngedepin Puri," ucap Ibu mertuanya itu dengan sedikit nasihat untuk Aji. "Iya Bu. Maafin Aji, Bu," ucap Aji pelan lalu berlalu meninggalkan Ibu mertuanya termangu berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangannya kepada anak dan menantunya. Aji sudah masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil itu dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Kebetulan masih pagi sekali untuk sampai ke kantor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN