Jenar mau, tapi dia tidak bisa. Meski keduanya memastikan tidak ada orang lain yang datang ke atap dan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pertemuan di sela-sela waktu yang ada, gadis itu tidak akan leluasa karena bagaimanapun juga, mereka ada di tempat publik. Lantas dilepaskannya pelukan Dean dan Jenar kembali membalikkan tubuh lalu menatap ke bawah. “Lain kali saja, Pak! Oh iya, saya punya sesuatu buat Bapak.” Dean berbunga-bunga mendengarnya dan menunggu apa yang akan Jenar keluarkan dari dalam kantong celananya. “Tapi bukan barang mahal, sih,” kata gadis itu sebelum akhirnya menunjukkan sebuah pena warna hitam dengan nama Dean Kartajaya yang terukir di badannya. “Kemarin pulang dari tempat Jillian, ada penjual barang unik dan kebetulan saya melihat pena ini.” “Kenapa kamu me